Zikir “Allah.. Allah.. Allah” dalam Ajaran Tasawuf, Benarkah Bidah?

0
229

BincangSyariah.Com – Salah satu Zikir yang diajarkan dalam tarekat adalah zikir ismu dzat, atau al-ismu al-mufrad yaitu lafal “Allah.. Allah.. Allah”. Muhammad Amin al-Kurdi dalam Tanwir al-Qulub ketika menjelaskan cara zikir tarekat Naqshabandiyah mengatakan, “Sesungguhnya zikir qalbi ada dua macam, yaitu zikir ismu dzat dan nafi istbat. Zikir ismu dzat adalah menyebut nama ‘Allah’.”

Muhammad Basim Dahman dalam Dalilul Mursyidin fi Taslikis Salikin menjelaskan, zikir al-ismu al-mufrad merupakan kepala atau pemimpin zikir dan pokok dari keikhlasan. Orang yang berzikir “Allah” seolah-olah megatakan “Aku menghendaki Allah.. Aku menghendaki Allah” atau “Allah adalah yang aku kehendaki… Allah adalah yang aku kehendaki”. (Baca: Makna dan Manfaat Dzikir Lailahaillallah)

Diriwayatkan dari sayyidah Aisyah ra, Rasulullah bersabda:

إذَا أَصَابَ أحَدَكُمْ هَمٌّ أَوْ لَأْوَاءٌ فَلْيَقُلْ اللَّهُ… اللَّهُ رَبِّى، لاَ أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

Ketika kalian tertimpa kesedihan atau kesulitan, maka ucapkan “Allah”.. “Allah adalah Tuhanku, Aku tidak menyekutukannya dengan apa pun”.”

Abdurrra’uf al-Munawi dalam Faidl al-Qadir menjelaskan, ketika kita tertimpa kesedihan dan kesulitan, disunahkan untuk berzikir “Allah… Allah” dan banyak mengulang-ulangnya agar merasakan kenikmatan berzikir, menyebut nama-Nya, sambil menghadirkan keagungan-Nya, dan mengokohkan tauhid kita kepada-Nya. Karena “Allah” adalah nama yang komprehensif, mengumpulkan seluruh sifat jalaliyyah (keagungan), sifat jamaliyyah (keindahan), dan kamaliyyah (kesempurnaan).

Dasar Hukum Zikir Ismu Dzat

Al-Qur’an

Ada banyak ayat yang menjelaskan tentang zikir ismu dzat, diantaranya adalah firman Allah:

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلا

Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (QS. Al-Muzammil [73] : 8)

Juga firman Allah kepada baginda Rasulullah:

…قُلِ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ

Baca Juga :  Ini Bacaan Dzikir Agar Selalu Mendapatkan Pertolongan Allah

“…katakanlah: “Allah”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.” (QS. Al-An’am [06] : 91).

Hadis

Dalam Sahih Muslim sahabat Anas meriwayatkan sabda Rasulullah:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لاَ يُقَالَ فِى الأَرْضِ اللَّهُ اللَّهُ

Rasulullah SAW. bersanda, “Tidak akan terjadi kiamat, sampai kelak di dunia ini, tidak ada yang menyebut ‘Allah… Allah…’.”.

Dalam hadis di atas, Rasulullah mengulang-ulang ismu dzat “Allah”, untuk menguatkan makna atau agar lebih banyak menyebutnya. Menurut Mala Ali al-Qari dalam Mirqaatul Mafaatih, ketika manusia tidak ada lagi yang berzikir menyebut nama “Allah”, maka tidak ada lagi hikmah dari keberadaan manusia. Dari sini dapat dipahami bahwa keberadaan alam semesta ini karena berkah dari para ulama yang mengamalkan ilmunya, para ahli abadah yang saleh, dan orang-orang yang beriman secara umum.

Dalil hadis berikutnya adalah sabda Rasulullah SAW:

كَانَ سَلْمَانُ فِي عَصَابَةٍ يَذْكُرُوْنَ اللهَ، فَمَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى الله عليه وسلَّم فَكَفُّوْا فَقَالَ: “مَا كُنْتُمْ تَقُوْلُوْنَ؟” فَقُلْنَا: نَذْكُرُ اللهَ الله، قَالَ: “إِنِّي رَأَيْتُ الرَّحْمَةَ تَنْزِلُ عَلَيْكُمْ فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُشَارِكَكُمْ فِيْهَا”…

Salman dan kelompoknya sedang berzikir kepada Allah, lalu Nabi Muhammad SAW lewat di dekat mereka. Maka mereka terdiam sejenak. Lalu Nabi bertanya: “Apa yang sedang kalian lakukan?” Mereka menjawab: “Kami sedang berzikir “Allah… Allah”. Kemudian Rasul bersabda: “Sungguh aku melihat rahmat Allah turun atas kalian, maka hatiku tertarik untuk bergabung bersama kalian membaca zikir.”… (HR. Ahmad).

Penjelasan para Ulama

Para ulama banyak yang memerintahkan untuk melaksanakan zikir “Allah… Allah… Allah” sebagai salah satu amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Diantara penjelasan ulama tentang zikir ismu dzat adalah sebagai berikut:

Baca Juga :  Dzikir yang Setara dengan Menanam Pohon di Surga

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengatakan:

فَإِنَّ أَصْلَ طريق الدّينِ القُوْتُ الحلال وعند ذلك يلقنه ذكرا من الأذكار حتى يشغل به لسانه وقلبه فيجلس ويقول مثلا الله الله أو سبحان الله سبحان الله أو ما يراه الشيخ من الكلمات

Sesungguhnya dasar dari jalan tasawuf adalah makanan yang halal, ketika telah terpenuhi, seorang Syekh hendaknya mengajarkan muridnya salah satu zikir dari sekian banyak zikir, sampai lisan dan hatinya sibuk dengan zikir tersebut. Semisal seorang murid duduk sambil membaca “Allah… Allah” atau “Subhanallah… Subhanallah” atau kalimat-kalimat zikir lain sesuai dengan yang diajarkan oleh Syekh.”

Sebagaimana penjelasan di atas, Abdurra’uf al-Munawi dalam Faidl al-Qadir mengutip penjelasan para ulama ahli tasawuf:

وليس للمسافر إلى الله في سلوكه أنفع من الذكر المفرد القاطع من الأفئدة الأغيار وهو الله وقد ورد في حقيقة الذكر وآثاره وتجلياته ما لا يفهمه إلا أهل الذوق

Bagi orang yang sedang melakukan perjalanan suluk menuju Allah, tidak ada yang lebih bermanfaat dibandingkan zikir mufrad yang bisa memutus “makhluk” dari dalam hati. Zikir tersebut adalah menyebut “Allah”. Telah dijelaskan, bahwa hakikat zikir, dampak dan manifestasinya, tidak bisa difahami kecuali oleh orang-orang yang telah merasakannya”.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa zikir ismu dzat atau al-ismu al-mufrad merupakan amalan zikir yang dianjurkan untuk diamalkan dengan berdasarkan beberapa keterangan al-Quran, hadis Rasulullah dan penjelasan para ulama. Sedangkan dalam ajaran tarekat, cara dan jumlah amalan zikir “Allah” harus sesuai dengan bimbingan Syekh dalam tarekat tersebut.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here