Zakat Solusi Mengatasi Kemiskinan

0
1064

BincangSyariah.com – Kemiskinan masih menjadi fenomena yang membelenggu umat Islam, termasuk di Indonesia. Data terakhir yang diakses dari BPS pada Maret 2017, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan di lndonesia) mencapai 27,77 juta orang. Dalam kondisi yang demikian, dibutuhkan sebuah strategi untuk menopang perekonomian umat muslim. Zakat sebagai sebuah instrumen distribusi kekayaan didalam Alquran diharapkan mampu berperan sebagai penopang ekonomi masyarakat muslim.

Dari segi bahasa, mengutip kamus Lisan al-‘Arab, zakat bererti suci, berkat, tumbuh, dan terpuji. Secara filosofis-ideologis, zakat merupakan sebuah dogma wajib dalam Islam. Pada awal mula berkembang Islam, spirit yang dibangun di atas pondasi zakat adalah spirit untuk membantu kehidupan sosial sesama muslim

Pada periode Makkah, Alquran menggunakan cara memuji orang yang berzakat dan mencerca orang yang tidak membayarnya. Dalam surah Ruum Allah berfirman:

وَمَآءَاتَيْتُم مِّن رِّبًا لِيَرْبُوا فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلاَ يَرْبُوا عِندَ اللهِ وَمَآءَاتَيْتُم مِّن زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللهِ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ

Artinya: Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencari keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya). (QS. 30:39)

Sedang periode Madinah, Alquran mulai menggunakan fi’il amar dalam pensyariatan agama Islam. Tidak terkecuali syariat zakat. Dalam surah At-Taubah, Allah secara tegas memerintahkan Rasulullah untuk memungut zakat, firman Allah:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketemtraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah [9]: 103)

Baca Juga :  Media Sosial yang Ramah

Yusuf Qardhawi, dalam Fiqh al-Zakat mengutip riwayat dari Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, khalifah pertama setelah Rasulullah berkata “saya tidak memisah-misahkan dua hal yang disatukan sendiri oleh Allah”, yaitu shalat dan zakat. Pada masa kepemimpinannya, beliau memerangi orang yang yang enggan membayar zakat sepeninggal Rasulullah. Sehingga terjadi peperangan yang dikenal dengan perang Riddah, beliau berkata: Demi Allah, seandainya mereka menolak memberikan seutas tali yang pernah mereka berikan kepada Rasulullah SAW. Sebagai zakat, sungguh aku akan memerangi mereka karena penolakan tersebut.

Kemiskinan sebagai suatu penyakit yang umum menimpa masyarakat tidak mungkin dituntaskan jika berpedoman pada cara berfikir kapitalis. Berpikir kapitalis yang punya prinsip “The Invisible Hand” menafsirkan bahwa saat seseorang berusaha, ia hanya berusaha untuk dirinya sendiri. Karena manusia memiliki kecenderungan untuk mementingkan dirinya sendiri dan mendapatkan kentungan yang besar. Tapi faktanya, model seperti ini hanya menyebabkan pelipatgandaan kemiskinan.

Zakat sebagai retribusi wajib dalam Islam, mempunyai efisiensi dan frekuensi yang besar dalam menuntaskan problematika tersebut. Zakat mempunyai efek pengganda ekonomi yang dalam ilmu ekonomi disebut multiplier effect. kata-kata Mudh’ifun pada surat Rum [30]: 39 menjelaskan makna implisit dari multiplier effect ini. Walau secara zahirnnya zakat itu berkurang bukan bertambah, tetapi dengan kekuasaan Allah ia mampu menjadi sebab bangkitnya ekonomi suatu negara.

Kemudian, cerminan dari aplikasi surah At-Taubah [9]: 103 akan menghasilkan pengorganisasian zakat yang baik. Kata khuz dalam ayat tersebut mengindikasikan peran pemerintah memiliki otoritas untuk mengambil dan mengembangkan harta zakat. Harta tersebut tersebut tidak akan bisa dioptimalisasikan jika tidak ada suatu organisasi yang memanegenya. Sampai disini, dibutuhkan peran SDM yang kompatibel untuk mengurusi manajemen pengelolaan zakat. Adapun kriteria SDM tersebut adalah muslim yang mempunyai kapabilitas dalam bertugas, memahami posisi dan perannya sebagai pengelola dana zakat dan amanah. Standarisasi tersebut sesuai dengan apa yang termaktub dalam Surah Yusuf [12]: 55, “Berkata Yusuf:”Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan”.

Sejarah telah membuktikan bahwa pola manejemen dan pengorganisasian zakat yang bagus akan meminimalisir kemiskinan. Bahkan pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz hampir bisa dikatakan tidak ada golongan penerima zakat dari golongan fakir dan miskin, sehingga dana zakat pada saat itu surplus.

Baca Juga :  Hukum Tidur dengan Kaki Menjulur ke Arah Kiblat

Hal ini terjadi lantaran adanya kesadaran yang tinggi dalam masyarakat untuk menunaikan zakat. Kesadaran itu timbul karena keluasan hati seseorang, kejernihan jiwa serta jauh dari sikap loba terhadap harta. Semua aspek tersebut tidak lepas dari firman Allah pada surat At-Taubah [9]: 103 yang menegaskan bahwa efek yang timbul dari zakat adalah bersihnya jiwa dan raga dari dosa-dosa serta sifat-sifat buruk yang berkaitan dengan kecintaan terhadap materi. Sehingga zakat mampu menghidupkan Ukhuwah Islamiyah dalam hidup bermasyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here