Zakat Sarana bagi Penyucian Diri

0
222

Hai orang-orang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk, lalu kamu nafkahkan darinya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah,

bahwa Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji. (QS Al-Baqarah [2]: 267)

 

BincangSyariah.Com- Ibadah puasa dimaksudkan agar manusia mampu meng­angkat harkat kemuliaannya yang azali, primordial, yak­ni berada dalam kesucian. Sesungguhnya, puasa meru­pa­kan sebuah proses ke arah tercapainya tujuan kesucian ter­sebut. Hal yang mengindikasikan itu, di antaranya, adalah an­jur­an mengeluarkan zakat fitrah atau zakat individu bagi orang yang menjalankan ibadah puasa. Zakat fitrah—yang dimaksud dengan pengertian fitrah penciptaan manusia yak­ni adanya konsep kesucian asal, kesucian primordial—yang ber­arti zakat penyucian diri, di sisi lain sebenarnya merupa­kan pembuktian bahwa seseorang telah menjalani sebuah proses penyu­cian tersebut.

Hakikat zakat, baik zakat mal, zakat kekayaan, maupun zakat fitrah atau zakat individu, adalah sebuah proses pe­nyu­cian yang berdimensi kemanusiaan atau sosial. Dengan begitu, baik zakat mal maupun zakat fitrah merupakan wu­jud dimensi konsekuensial sebuah pelaksanaan perintah Allah Swt. Di samping itu, juga merupakan sebuah pene­gas­an, mengingatkan bahwa dalam agama Islam setiap iba­dah selalu memiliki kolerasi positif dengan amal saleh yang berdimensi kemanusiaan.

Seperti halnya salat yang diawali oleh hubungan ver­tikal, yang disimbolisasikan dengan melakukan takbir, dan diakhiri dengan melakukan salam, yang berarti memberi­kan kesejahteraan kepada seluruh manusia, bahkan kepada alam semesta. Dalam ungkapan yang lebih sederhana, salam sebagai dimensi konsekuensial praktik ibadah salat meru­pa­kan wujud dan tanggung jawab terhadap tugas-tugas ke­ma­nusiaan.

Paralel dengan salat adalah ibadah puasa, yang pada satu sisi merupakan ibadah yang penuh dengan misteri atau bahkan sangat misterius—yakni merupakan ibadah yang paling personal antara hamba dengan Allah Swt. Apalagi ka­lau dibandingkan dengan ibadah haji umpamanya, yang selalu diikuti oleh upacara seremoni­al—juga menekankan arti pentingnya dimensi konsekuensial yang wujudnya ada­lah adanya anjuran mengeluarkan zakat fitrah.

Berkenaan dengan ketentuan secara kuantitatif, sesuai kese­pakatan para ulama, zakat fitrah dikeluarkan sebesar satu shâ‘, yakni untuk ukuran orang Indonesia sama dengan 3,5 liter beras. Itu karena beras adalah makanan pokok ma­yo­ritas bangsa Indonesia. Para ulama pun telah sepakat, setiap Muslim—tidak saja yang berpuasa—yang mampu dipe­rin­tahkan menunaikan zakat fitrah.

Baca Juga :  Islam dan Militerisme dalam Lintasan Sejarah (1)

Ide dasar zakat fitrah adalah mengajarkan orang ber­iman bahwa ibadah puasa tidak hanya berdimensi sangat pribadi seperti dalam hadis qudsi, “Ibadah puasa adalah un­tuk-Ku, maka Aku (Allah) yang akan memberi balasannya.” Na­mun juga kemudian ada keharusan mengeluarkan zakat fitri yang berfungsi sebagai pra­syarat menyempurnakan puasa. Di sini, fungsi dan kedudukan zakat fitrah dengan sendirinya paralel dengan salam dalam salat. Salat dinyatakan tidak sah kalau tidak melakukan salam, begitu pula dengan puasa yang tidak dianggap sah bila tidak diiringi dengan membayar zakat fitrah. Ini sekadar sebuah analogi dengan melihat ide dasarnya.

Perlu kiranya dipahami bahwa zakat fitrah, yang dian­jur­kan senilai dengan yang dimakan oleh setiap orang dalam sekali makan, ternyata memiliki pesan yang dinamik. Tentu­nya, tidak hanya seharga satu kali makan kebanyakan orang, umpamanya 3.500 rupiah atau hanya berupa 3,5 liter beras semata. Namun, hal itu menjadi sangat variatif, bergantung pada kondisi perekonomian atau daya konsumsi makan se­tiap hari orang per seorangan yang sudah pasti juga be­ragam.

Sebagai contoh, kalau ada orang yang setiap hari menge­luarkan uang sebesar seratus ribu rupiah untuk satu kali ma­kan, tentunya akan tidak adil kalau kemudian ia hanya mengeluarkan zakat fitrah berupa beras kira-kira seharga Rp3.500 saja.

Hal yang demikian sebenarnya sudah diingatkan dan ditegaskan oleh Al-Quran bahwa dalam bersedekah, terma­suk dalam mengeluarkan zakat fitrah, orang beriman hen­dak­nya memberikan yang terbaik. Sesungguhnya, sedekah, baik zakat mal maupun fitrah, efeknya akan kembali kepa­da dirinya sendiri. Seperti dalam Al-Quran yang berbunyi, Hai orang-orang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) seba­gian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk, lalu kamu nafkahkan darinya, pada­hal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan me­­mi­cingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji (QS Al-Baqarah [2]: 267).

Dari pernyataan dan teguran Al-Quran tersebut, sebe­nar­nya kita diingatkan, apakah yang biasa memakan makan­an dengan nilai dan kualitas makanan sekali makan senilai Rp100.000 umpamanya kemudian juga mau memakan atau menerima makanan yang nilainya hanya Rp3.500? Tentulah kita menjadi tidak suka, tersinggung, atau bahkan barang­kali memicingkan mata karena merasa malu mener­ima atau memakannya.

Baca Juga :  Berprasangka Baik Kepada Allah

Kembali pada masalah ide dasar zakat, baik mal mau­pun fi­trah. Ide itu bersumber pada ajaran dan nilai kemanu­sia­an yang universal atau umum. Dengan demikian, kiranya, dapat dipahami bahwa menyan­tuni fakir-miskin dan anak yatim pada hakikatnya menyantuni se­luruh umat manusia, inklusif di da­lamnya kita yang melakukan.

Berbuat baik menyantuni atau menolong yatim piatu dan fakir-miskin sesungguhnya me­no­long kemanusiaan universal, sebagaimana halnya qiyâs atau analogi bahwa membunuh sese­orang sama artinya dengan mem­bunuh manusia secara universal. Barang siapa membunuh sese­orang tanpa alasan yang dapat di­benarkan sesuai dengan ajaran Al-Quran, ia harus di-qishâs atau di­bu­nuh. Contoh tersebut dii­lus­tra­si­kan oleh Al-Quran lewat ki­sah Habil dan Qabil—kisah pem­bu­nuhan umat manusia pertama dalam sejarah manusia.

Kasus pembunuhan atas Ha­bil yang dilakukan oleh Qabil dapat diasumsikan dan dipan­dang sebagai pembunuhan atas ke­manusiaan universal. Dalam Al-Quran dinyatakan, Oleh karena itu, Kami (Allah) tetapkan (sua­tu hukum) bagi bani Israil bahwa barang siapa membunuh seorang manusia bukan karena orang itu (membunuh orang la­in) atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan ia membunuh manusia seluruhnya … (QS Al-Mâ’idah [5]: 32).

Dengan begitu perlu dipahami bahwa setiap manusia memiliki nilai kemanusiaan universal. Sama dengan kasus memerdekakan atau membebaskan seseorang dari beleng­gu perbudakan dan kemiskinan, sesungguhnya ia juga telah memerdekakan kemanusiaan universal.

Dalam Surah Al-Mâ‘ûn juga ditegaskan bahwa sesung­guh­nya iman seseorang yang tidak diiringi kepedulian pada nasib dan penderi­taan orang lain yang susah—dalam Al-Qur­an disimbolisasikan dengan kepedulian kepada fakir-miskin dan yatim piatu—adalah palsu. Mereka kemudian didekrit­kan oleh Al-Quran sebagai orang-orang yang mendustakan agama. Dalam Al-Quran, orang tersebut diilustrasikan seba­gai orang yang menjalankan atau mengerjakan shalat, tapi ter­nyata ia melalaikan pesan-pesan dan makna yang dikan­dung di dalam shalatnya.

Perlu ditegaskan di sini bahwa pengertian kata lalai ti­dak berarti menunjuk kepada orang yang lupa, tidak melak­sana­kan shalat karena alasan tertidur, kesibukan kerja, da­lam perjalanan, dan sebagainya. Kelalaian yang demikian itu justru dimaafkan. Akan tetapi, yang dimaksudkan de­ngan lalai pada ayat tersebut adalah kelalaian akan pesan dan makna yang terkandung dalam amalan shalatnya. Seper­ti yang dinyatakan dalam Al-Quran, Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang-orang yang meng­hardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang mis­kin. Maka celakalah bagi orang-orang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dalam shalatnya (QS Al-Mâ‘ûn [107]: 1-5).

Baca Juga :  Komentar-Komentar terhadap Tafsir al-Baidhawi

Itulah sebabnya, barangkali, Surah Al-Mâ‘ûn sering di­sebut-sebut para ulama sebagai surah yang menentang ben­tuk kesalehan formal (formal piety). Dikatakan kesalehan for­mal karena ia mengejar bentuk kesalehan pribadi yang tidak dibarengi dan diir­ingi komitmen sosial atau amal saleh atau juga kesalehan sosial.

Kerelaan mengeluarkan zakat, baik mal atau fitrah, yang dinyatakan sebagai salah satu ciri orang beriman, juga dianjurkan untuk terus dilakukan meski dalam kondisi me­nyusahkan. Sepertin­ya, tidak ada excuse untuk tidak berse­de­kah dalam Islam. Sebagai ciri orang beriman, zakat juga menjadi sarana untuk mengangkat harkat dan martabat se­se­orang sebagaimana dalam Al-Quran disebut­kan, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit … (QS âli ‘Imrân [3]: 134).

Sesuai dengan ajaran Islam, orang beriman diajarkan untuk menjadi “tangan di atas”, sebuah idiom yang artinya men­jadi pemberi pada satu sisi dan melarang berbuat me­min­ta-minta yang dipandang sebagai tindakan merendah­kan martabat dan harga diri pada sisi lain. Dalam kasus ter­sebut, agama Islam mengajarkan agar setiap pribadi orang Islam dapat berlaku terhormat dan memelihara serta menja­ga harga dirinya dengan bersikap sebagai seorang prawira (afîf)—menjaga kehormatan diri.

Ibadah puasa diharapkan akan dapat memelihara dan meningkat­kan harkat dan martabat kemanusiaan dengan pen­capaian pengalaman batin atau ruhaniah yang berupa tum­buhnya sikap empati (kondisi psikologis dapat menem­pat­kan diri pada posisi orang lain yang dalam kesusahan). Ini berkaitan erat dengan pelajaran mengentas­kan kemiskin­an sebagai upaya penyucian diri. Menyantuni yatim piatu dan orang miskin dianjurkan tidak hanya sepanjang bulan puasa, tetapi juga terus dapat berkesi­nambungan sehingga kepekaan batin terus terpelihara.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here