Zakat Profesi dalam Hukum Islam

0
965

BincangSyariah.Com – Zakat profesi adalah zakat yang diberikan oleh setiap orang yang menyangkut imbalan profesi yang diterima, seperti gaji dan honorarium. Apabila Anda bertanya, apa perbedaan zakat profesi ini dengan zakat uang yang nisab zakatnya disamakan dengan emas lantas kemudian dikeluarkan zakatnya setiap tahun? Maka penjelasannya adalah sebagai berikut: jika kita memiliki sejumlah uang yang nilainya mencapai nisab zakat emas, maka uang tersebut wajib kita keluarkan zakatnya. Namun di luar itu, apabila pendapatan tetap/gaji dari profesi dijumlahkan hasilnya selama setahun juga mencapai nisab emas, maka pendapatan tetap tersebut juga dikenakan kewajiban zakat. (Baca: Cara Menghitung Zakat Profesi dan Ketentuan Pembayarannya)

Mirip dengan orang yang menanam padi yang hasil panennya mencapai nisab, sementara itu ia juga memiliki sejumlah uang yang juga mencapai nisab. Orang tersebut dikenakan dua kewajiban zakat: zakat tanaman dan zakat uang. Kewajiban zakat profesi ini disamakan dengan zakat tanaman pada contoh tersebut. Sebenarnya permasalahan wajib/tidaknya zakat profesi ini masih menjadi perdebatan di kalangan ulama hingga sekarang. Ada yang mewajibkan, ada pula yang tidak mewajibkan.

Sedikitnya ada dua dalil yang diajukan kelompok yang tidak mewajibkan. Pertama, tidak adanya zakat profesi di zaman Nabi. Penghasilan yang dikenakan zakat dari berbagai profesi yang ada di zaman Nabi hanya ada dua. Petani dan pedagang. Kelompok ini meyakini, seandainya zakat untuk selain petani dan pedagang sudah ada di zaman Nabi, niscaya beliau akan mewajibkan zakat profesi. Menurut mereka ini menjadi dalil tidak adanya kewajiban zakat profesi. Zakat adalah urusan ibadah, sehingga tidak boleh dibuat-buat sendiri.

Kedua, hadis Nabi yang menjelaskan bahwa tidak ada harta/uang yang diwajibkan zakat sebelum mencapai satu tahun. Hal ini bertentangan dengan pihak yang mewajibkan zakat profesi yang mengatakan bahwa zakat profesi bisa dikeluarkan setiap kali mendapatkan penghasilan tanpa menunggu masa satu tahun. Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Baca Juga :  Apakah Mayat Bisa Mendengarkan Salam Orang yang Mengunjunginya?

ليس في مال زكاة إلا فيما يحول عليه الحول

“Tidak ada zakat pada sebuah harta, kecuali barang yang mencapai haul (setahun)”. (HR Abu Dawud).

Sementara itu, kelompok yang mewajibkan juga memiliki beberapa argumen yang dapat menguatkan pendapat mereka. Muhammad al-Ghazali mengatakan, setidaknya ada dua dalil tentang kewajiban zakat dari pendapatan profesi selain petani dan pedagang.

Pertama, keumuman firman Allah Swt. dalam QS Al-Baqarah ayat 267:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik.”

Kata Muhammad Al-Ghazali, kita yakin bahwa profesi-profesi seperti dokter, dosen, insinyur dan sebagainya adalah profesi yang baik. Sangat patut jika profesi juga dikenakan kewajiban zakat.

Kedua, jika zakat profesi tidak diwajibkan, lantas bagaimana syariat Islam bisa mewajibkan zakat pada seorang petani yang ‘hanya’ menghasilkan beberapa ton hasil panen, dan pada waktu yang sama Islam tidak mewajibkan zakat pada seorang dokter yang dalam sehari bisa menghasilkan pendapatan yang lebih besar dari apa yang dihasilkan oleh petani dalam waktu yang lama (Muhammad al-Ghazali, Al-Islām wa al-Audlā’ al-Iqtishādiyyah, hlm. 117.).

Yusuf al-Qaradlawi yang juga menyatakan kewajiban zakat profesi, mengatakan bahwa zakat profesi ini mirip dengan apa yang dilakukan beberapa sahabat seperti Ibn Abbas, Ibn Mas’ud dan Mu’awiyah r.a. yang pernah memerintahkan zakat kepada orang-orang yang mendapatkan penghasilan tanpa menunggu satu tahun. Adapun hadis riwayat Ali bin Abi Thalib r.a. yang telah dikutip di atas, menurut Al-Qaradlawi adalah hadis yang mauquf/lemah (lihat Yusuf al-Qaradlawi, Fiqh az-Zakāh, hlm. 493.).

Dari sedikit paparan di atas, kami menyimpulkan bahwa perdebatan mengenai kewajiban zakat profesi ini tidak akan pernah menemukan titik temu atau kata sepakat, karena beberapa hal yang di antaranya:

Baca Juga :  Selain Uang, Ini Empat Jenis Sedekah yang Bisa Anda Lakukan

Pertama, tidak ada dalil sarih (jelas) dari Al-Qur’an atau hadis terkait hal ini.

Kedua, tidak adanya pembahasan zakat profesi di kitab-kitab klasik

Ketiga, dalil-dalil yang digunakan masing-masing pihak untuk menguatkan pendapatnya sama-sama diperdebatkan keabsahannya.

Akhiran, bagi Anda yang cenderung setuju dengan pendapat yang mewajibkan dan khawatir akan berdosa jika tidak melakukannya, silakan ikuti pendapat ini. Dan, bagi Anda yang condong kepada pendapat yang tidak mewajibkan dan khawatir mendapat dosa jika melakukannya karena telah melakukan ibadah yang tidak diajarkan Rasulullah saw., silakan ikuti dan tak perlu mencaci orang lain yang melakukannya dengan tuduhan bid’ah dan sejenisnya. Sekian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here