Hukum Zakat Emas yang Dipakai untuk Perhiasan

1
1036

BincangSyariah.Com – Emas adalah salah satu dari beberapa jenis benda yang wajib ditunaikan zakatnya. Karena, emas memang merupakan alat tukar utama (uang) pada beberapa abad lalu. Minimal nisabnya adalah 20 Dinar (±77.50gram). Sementara zakat yang wajib dikeluarkan yaitu 2.5% dari keseluruhan emas yang dimiliki. (Baca: Pedoman Menghitung Zakat Emas, Perak dan Harta Dagangan)

Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw. kepada Ali bin Abi Thalib r.a.:

فإذا كانت لك عشرون دينارًا، وحال عليها الحوْلُ ففيها نصفُ دينارٍ

“Apabila kau memiliki 20 dinar emas dan sudah memasuki haul (setahun), maka zakatnta setengah dinar.” (HR Abu Dawud).

Namun, untuk saat ini emas sudah tidak ada lagi yang berupa uang. Kalaupun ada, jumlahnya sedikit dan lebih sedikit lagi yang digunakan sebagai alat tukar. Dan, seperti diketahui bersama, eksistensi barang tersebut di tengah-tengah masyarakat untuk era sekarang ini umumnya dalam bentuk aksesoris perhiasan. Ada orang yang memiliki perhiasan emas memang untuk digunakan sebagai perhiasan. Ada pula yang memilikinya guna dijadikan tabungan, sebab emas tak pernah, atau jarang sekali, mengalami penurunan harga.

Para ulama mengklasifikasi perhiasan emas ke dalam dua kategori. Pertama, perhiasan emas yang diharamkan, seperti emas yang digunakan laki-laki. Untuk ketegori yang haram ini, hukum menunaikan zakatnya adalah wajib.

Kedua, perhiasan emas yang dihalalkan, seperti perhiasan emas yang digunakan oleh perempuan atau perhiasan yang dimiliki laki-laki dengan tanpa tujuan dipakai atau tujuan apapun. Untuk ketegori ini, tidak ada kewajiban mengeluarkan zakat. An-Nawawi berkata dalam Minhāj ath-Thālibīn:

ويزكى المحرم من حلي وغيره لا المباح في الأظهر فمن المحرم الإناء والسوار والخلخال للبس الرجل فلو اتخذ سوارا بلا قصد أو بقصد إجارته لمن له استعمال فلا زكاة في الأصح

Baca Juga :  Kitab Bahjat al-Wudluh: Hadis tentang Niat dan Anjuran untuk Memperbagusnya

“Dan wajib ditunaikan zakatnya (emas/perak) yang diharamkan, baik berupa perhiasan atau lainnya. Menurut pendapat yang lebih jelas dalam mazhab Syafi’i, tidak wajib zakat untuk emas/perak yang dihalalkan. Di antara yang diharamkan adalah emas/perak berbentuk bejana (mutlak bagi laki-laki dan perempuan) dan gelang tangan atau gelang kaki yang digunakan laki-laki.”

“Apabila seorang laki-laki menyimpan gelang dengan tujuan apa-apa atau dengan tujuan akan disewakannya pada orang lain yang halal menggunakannya, maka hal ini tidak wajib zakat menurut pendapat yang lebih sahih.”

Namun untuk kategori kedua ini masih bisa dikenakan kewajiban zakat jika bertujuan untuk ditabung, sebagaimana yang dijelaskan Al-Khatib asy-Syirbni dalam Mughnī al-Muhtāj:

إذا قصد اتخاذه كنزا فإن الصحيح وجوب الزكاة فيه

“Apabila menyimpan perhiasan untuk dijadikan tabungan, maka menurut pendapat yang sahih, pada barang tersebut berlaku kewajiban zakat.”

Sekian. Wallahu a’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here