Zakat Adalah Kombinasi Ibadah dan Pengentasan Kemiskinan! Ini Tiga Macam Syariat Menurut Imam al-Ghazali

0
11

BincangSyariah.Com – Dalam menjalankan syariat Islam, seringkali kita dihadapkan pada dualisme antara ketaatan dan nalar. Apakah kita menjalankan syariat semata karena menunjukkan penghambaan saja, ataukah semua syariat tersebut harus selaras dengan nalar kita.

Perdebatan dan segenap pertentangan di dalamnya dikenal apa yang dipahami dengan ta’abbudi (syariat yang murni maknanya hanya ibadah) atau ta’aqquli (syariat yang maknanya bisa dipahami dengan akal). Perdebatan tersebut muaranya berpangkal pada term wahyu dan akal dalam syariat Islam. Apakah syariat islam itu semata hanya berpatokan pada wahyu ilahi ataukah lebih akal manusia yang dikedepankan dalam hal ini.

Hujjatul Islam Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulum ad-Din, khususnya dalam bagian Kitab Asroru Zakat (Kitab tentang Rahasia Ibadah Zakat), adalah diantara yang mengklasifikasi syariat Islam tersebut. Gagasan besar beliau adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Syariat yang bisa dinalar oleh akal manusia akan beliau tempatkan pada tempatnya. Demikian pula dengan syariat yang tak mampu dinalar oleh akal manusia akan beliau tempatkan pada tempatnya pula.

Untuk hal tersebut, Imam al-Ghazali kemudian membagi tiga macam syariat,

Pertama yang semata-mata hanyalah persoalan penghambaan saja (ta’abbudi). Pada syariat jenis ini, kita tidak akan mampu menangkap apa maksud dan tujuan dari pemberlakuan syariat tersebut. Contoh syariat yang masuk dalam kelompok ini adalah syariat melempar batu jumrah dalam ibadah haji. Kita tak bisa menakar apa keuntungan dari upaya pelemparan batu tersebut. Kita hanya tahu bahwa Allah memerintahkannya. ya sudah, kita jalani saja.

Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa maksud syariat mengenai pelemparan batu itu, ialah ujian dalam bentuk pengamalan, supaya seorang hamba (manusia) menampakkan penghambaan dan peribadatannya dengan melakukan sebuah pekerjaan yang tidak masuk dalam nalar mereka. Lebih lanjut menurut beliau, biasanya, apabila sebuah syariat diberlakukan sementara manusia mampu menalar apa manfaatnya, maka manusia akan cenderung melaksanakan syariat tersebut karena termotivasi oleh manfaat tadi. Dengan demikian, nilai keikhlasan dari penghamabaan dan peribadatan tersebut menjadi tidak terlihat. Hal ini disebabkan karena penghambaan itu bisa nampak dengan gerak untuk melaksanakan perintah Allah belaka, tidak untuk suatu maksud yang Iain.

Baca Juga :  Khilafah dalam Al-Qur’an Bukan Sistem Negara

Dalam hal ini, sebagian besar amal perbuatan ibadah haji, adalah bercorak demikian. Oleh sebab itu, setiap kali melaksanakan ihram niat haji, Nabi SAW senantiasa membaca,

لبيك بحجة حقا تعبدا ورقا

Labbaika bihaj-jatin haqqan ta’abbudan wa riqqa.

“Aku terima panggilan Engkau dengan haji dengan sebenar-benarnya, beribadah dan kehambaan kepadaMu” (H.R al-Bukhari). 

Kalimat yang diucapkan oleh Nabi tersebut merupakan bentuk peringatan, agar melahirkan penghambaan yang dihasilkan dari kepatuhan pada perintah Allah semata, dan menaatinya sebagaimana apa yang diperintahkan tanpa adanya motivasi dari akal pikiran untuk melaksanakannya.

Kedua, adalah syariat yang pelaksanaannya bukanlah merupakah sebuah bentuk peribadatan ataupun penghambaan pada Allah, namun mampu dipahami oleh nalar akal manusia mengenai manfaatnya. Contohnya ialah pelunasan hutang dan pengembalian harta yang dirampas secara batil, apakah itu ghoshob, mencuri, dan lain sebagainya.

Sehingga dalam syariat semacam ini, niat dan perbuatan seseorang tidaklah menjadi persoalan, karena yang terpenting adalah hutang tersebut terlunasi, dan barang yang dirampas secara bathil tadi dikembalikan tanpa ada kekurangan. Maka tidak ragulah kiranya, bahwa dalam hal tadi, tidak dipandang perbuatan dan niatnya. Dan manakala sampailah hak itu kepada yang berhak, dengan mengambil haknya atau digantikan dengan yang lain dengan persetujuan dari yang berhak, maka terlaksanalah kewajiban itu dan selesailah tuntutan syari’at.

Pada dua bagian ini, Imam al-Ghazali menganggap bahwa seluruh manusia berpotensi memahami hal ini.

Ketiga adalah kombinasi antara kedua kelompok diatas. Maksudnya, syariat yang memiliki dua sisi sudut pandang, yakni sisi penghambaan dan pemahaman atas manfaat bagi hamba terkait pelaksanaan syariat tersebut. Inilah kelompok yang dipahami pada perbuatan itu sendiri. Maka jika tuntutan syariat hadir, niscaya wajiblah mengumpulkan antara kedua makna diatas. Dan seyogyanya tidaklah melupakan arti terdalam dari keduanya, yaitu penghambaan dan peribadatan kepada Allah SWT.

Baca Juga :  Langkah-Langkah Bersyukur Menurut Imam al-Ghazali

Contoh syariat yang masuk dalam kelompok ini ialah zakat. Satu sisi, zakat ini menunjukkan penghambaan dan peribadatan kepada Allah SWT. Dengan melaksanakan zakat, berarti kita sedang menaati perintah Allah terkait zakat ini dengan segala perincian dan persyaratannya. Sebagai bagian dari rukun Islam, maka zakat bersama dengan salat dan haji menjadi sebuah ibadah yang menyimpan sisi penghambaan dan peribadatan.

Di sisi lain, ibadah zakat ini juga menyimpan makna berupa kemanfaatan yang bisa dipahami oleh akal manusia. Makna tersebut ialah bahwa dengan berzakat, berarti memberikan keuntungan kepada saudara sesama kita yang berkebutuhan, entah itu dari golongan fakir, miskin, dan lainnya.

Imam al-Ghazali berpendapat bahwa kelompok ketiga ini hanya dipahami oleh orang-orang yang memiliki pemahaman lebih terhadap syariat Islam. Diantara yang disebutkan oleh Imam al-Ghazali ialah Imam Syafi’i. Pada persoalan ini, Imam Syafi’i berpendapat bahwa zakat merupakan kombinasi antara penghambaan dan pemberian manfaat bagi orang-orang fakir. Maka kedua hal tersebut haruslah diakomodir dalam pelaksanaan zakat.

Misalkan seseorang berniat membayar zakat fitrah, maka harus menepati tuntutan syariat sekaligus pemberian manfaat bagi orang fakir. Artinya, segala tuntutan syariat dalam bab zakat fitrah harus dipenuhi seperti menggunakan quuti baladil ghalib (makanan pokok masyarakat setempat), dan diberikan pada orang yang ada di daerah tersebut, alias tidak didistribusikan ke daerah lain.

Menurut Imam al-Ghazali sebagaimana mengutip pendapat Imam al-Syafi’i, apabila seseorang membayar zakat tidak menggunakan quuti baladil ghalib namun menggunakan uang, maka orang tersebut hanya memperhatikan makna kemanfaatan bagi orang fakir dalam bab zakat, tidak memperhatikan makna penghamaab dan peribadatan dalam ibadah zakat tersebut.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here