Yang Kita Lupa tentang Alam

0
1039

BincangSyariah.Com – Saat ini banyak dari kita yang lupa tentang alam. Kita lupa ketika Nabi Adam memohon ampunan pada Allah akibat memakan buah larangan di surga, Allah mengabulkan permintaan maafnya. Sebagai gantinya, Nabi Adam diusir dari surga dan diutus menjadi khalifah di bumi. Sejak saat itulah sesungguhnya, Nabi Adam beserta anak dan cucunya harus hidup berdampingan dan mengolah alam semesta ini sebagai bagian dari amanat yang dititipkan Allah.

Sebelum berbicara lebih lanjut mengenai amanah yang manusia emban akan alam, ada baiknya kita menyimak beberapa catatan peristiwa yang terjadi belakangan ini. Mulai dari krisis politik dan pangan di Venezuela, kekeringan yang melanda sejumlah daerah di Indonesia, gempa di NTB, hingga gempa, longsor, dan topan Jebi di Jepang.

Di Venezuela, terjadi gelombang migrasi masal masyarakatnya untuk meninggalkan negara itu menuju negara-negara tetangganya. Alasannya: mereka butuh makan. Tapi media dan politisi lebih tertarik menyebutnya dengan sebutan hiperinflasi akibat stabilitas dan manajerial politik Venezuela yang tidak stabil.

Media boleh menulis atau membingkai peristiwa tersebut sesuai framing yang diinginkan—krisis, hiperinflasi—apapun namanya. Namun bagi masyarakat Venezuela, mereka tahu bahwa sebanyak apapun bantuan materi yang dikirimkan dari luar negeri untuk mereka, hal itu tidak akan cukup. Pasalnya, uang-uang itu tak cukup untuk membeli kebutuhan pokok dasar seperti makanan akibat melonjaknya harga barang pokok.

Ketika pohon terakhir sudah kita tebang, ketika sungai terakhir sudah tercemar, dan ketika ikan yang terakhir sudah ditangkap, pada saat itulah manusia akan sadar bahwa uang tak akan pernah bisa dimakan. Ungkapan kegelisahan dari penulis Eric Weiner begitu relevan dengan kondisi manusia saat ini jika kita melihat situasi yang terjadi di Venezuela.

Baca Juga :  Kenali Tujuh Macam Sifat Nafsu

Di tanah air, musim kemarau yang melanda sejumlah daerah membuat krisis air bersih marak terjadi. Dampaknya tak hanya air bersih yang sulit didapat, suhu panas di sejumlah kota besar di Indonesia menjadi kehilangan gairah. Di Jepang bahkan, akibat cuaca panas ekstream yang sempat terjadi beberapa waktu lalu membuat sejumlah warganya tewas akibat dehidrasi.

Dan sementara itu, di tengah cuaca ekstream yang tak menentu ini, pemanasan global terus terjadi. Membeli sebuah apel di minimarket saja, kita diberi satu plastik. Dan ketika pernah plastik itu dihargai dua ratus rupiah di minimarket, ramai-ramai sebagian dari kita protes. Lalu kita seolah-olah kaget dan panik dengan perubahan cuaca yang tak menentu saat ini. Seolah-olah tak tahu apa penyebabnya. Gara-gara plastik? Haha. Bercanda pasti! Begitu barangkali bagi kaum ngenyek yang kurang piknik.

Di NTB, pergeseran lempeng bumi membuat pulau Lombok terguncang gempa hebat. Negeri pariwisata yang tengah gegap gempita itu luluh lantak. Ratusan orang meninggal dunia, banyak infrastruktur hancur, dan aktifitas warga lumpuh. Alih-alih mewacanakan bagaimana suksesnya hidup berdampingan dengan alam dan bangkit dari keterpurukan, isu ini justru sempat dipolitisir.

Satu bencana alam di Indonesia cenderung diartikan multi-tafsir jika disajikan di atas meja politik. Bagaimana jika seluruh masyarakat Indonesia harus hidup di Jepang yang lingkungan dan alamnya sangat familiar dengan bencana alam?

Jepang, negeri yang akrab dengan gempa bumi itu tak mau berlarut-larut dalam debat kusir soal bencana alam. Jika mereka harus hidup dengan alam yang rentan akan bencana alamnya, maka mereka mencari solusi. Membuat konstruksi bangunan tahan gempa, teknologi pendeteksi bencana, hingga transportasi yang dirancang tahan bencana alam adalah beberapa solusi sebagai upaya untuk hidup bersama-sama dengan alam.

Baca Juga :  Fikih Ekonomi (1): Pengertian Muamalah

Meski begitu, kegigihan yang ditunjukkan Jepang tentang pentingnya hidup berdampingan dengan alam, nyatanya tetap tak dapat menangkal kehendak Allah. Bencana alam dahsyat yang terjadi di Jepang akhir-akhir ini sejatinya merupakan sinyal untuk seluruh umat manusia bahwa bumi ini sudah terlalu lama dilupakan. Bukan hanya pesan untuk warga Jepang semata.

Kita sudah menganaktirikan bumi. ِFirman Allah dalam Surat Ar-Rum ayat 41 berbunyi:

ظهر الفساد في البروالبحر بما كسبت ايدالناس

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat tangan manusia,”

Lalu, apakah sebagai anak keturunan Adam kita tidak mau lagi memegang tongkat estafet amanah sebagai khalifah di bumi ini? Apakah kita bagian dari orang-orang yang merusak yang diceritakan dalam Alquran? Atau kita adalah bagian dari orang-orang yang berpikir merenungi segala tanda-tanda yang disajikan Allah di alam semesta ini?

Jika kita merupakan bagian dari golongan orang-orang yang berpikir, maka jangan pernah lagi melupakan bumi. Karena melupakan bumi sejatinya adalah bentuk pengkhianatan atas amanah yang dititipkan Allah pada kita. Hentikan perdebatan yang menguras energi dan tak menghasilkan solusi. Waktunya kita pegang kendali merapatkan barisan membumikan bumi kembali.
Wallahu a’lam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here