Yang Diajarkan Rasulullah Tentang Kelestarian Alam

0
369

BincangSyariah.Com – Islam sebagai agama penyempurna dan penutup dari agama-agama pendahulunya tak hanya mengatur tentang hal-hal yang bersifat ibadah ilahiah, tapi mencakup aturan segala aspek kehidupan manusia. Mulai dari bangun tidur, hingga kembali tidur. Salah satunya adalah apa-apa yang diajarkan Rasulullah tentang kelestarian alam.

Pada zaman Rasulullah, banyak tanah yang tidak dimiliki siapapun hingga akhirnya membuat tanah-tanah itu terlantar tak diurus hingga gersang. Melihat kejadian itu, Rasulullah kemudian bersabda:

من احي ارضا ميتة فهي له

Artinya: “Barangsiapa menghidupkan bumi yang mati, maka (bumi) itu akan menjadi miliknya,”

Menghidupi bumi yang mati selain merupakan bentuk sikap kita melestarikan alam, juga merupakan sikap mendukung kemandirian hayati yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup umat manusia. Bayangkan jika seluruh umat menjalankan apa-apa yang diajarkan Rasulullah, Indonesia tak akan mengenal istilah impor pangan atau defisit kebutuhan pokok.

Sebagai negara biodiversity superpower, Indonesia memang dianugerahi Allah keragaman hayati yang sangat kaya. Namun pemanfaatan keragaman hayati tadi, belum sepenuhnya kita kelola dengan baik. Padahal jika merujuk ajaran Rasul, memanfaatkan keragaman hayati dengan cara-cara menghidupinya, maka keuntungan itu akan kembali ke diri kita sendiri.

Apa yang diajarkan Rasul sejalan dengan penelitian sains hari ini, di mana kita tahu bahwa Indonesia merupakan negeri dengan 10% total spesies tanaman dunia, 12% mamalia dunia, 17% berbagai macam spesies burung dunia, 37 % dari total spesies ikan dunia, dan masih banyak lagi. Jika kita mengikuti perintah Rasul, maka sudah barang tentu keragaman hayati tadi akan menopang kelangsungan hidup masyarakat Indonesia.

Berbeda dengan zaman Rasul, pemanfaatan dan pelestarian sumber daya hayati hari ini harus dilakukan dengan inovasi bioproduk yang berdaya saing tinggi. Menurut Direktur Biofarma Iskandar, sumber daya hayati meliputi gen, spesies, maupun ekosistem unik yang harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan melalui proses purification, atau pemurnian. Pemurnian ini dilakukan agar sumber daya hayati itu tidak punah atau kehilangan sifat uniknya.

Baca Juga :  Nikah Beda Harakah Menurut Quraish Shihab

Proses selanjutnya meliputi breeding, atau pemuliaan. Pemuliaan bisa dilakukan secara konvensional maupun melalui rekayasa teknologi genetik. Hasil dari pemuliaan tadi bisa berupa spesies budi daya unggul meliputi kopi unggul, cabai unggul, sapi unggul, ikan unggul, dan berbagai jenis hayati unggulan. Bayangkan jika ini terjadi, Indonesia tak butuh lagi impor pangan.

Ketika kita berhasil menghasilkan produk inovatif berbasis keragaman hayati, maka dengan sendirinya Indonesia berpotensi mendatangkan kemakmuran tidak hanya untuk masyarakatnya, tapi juga dunia. Seperti anjuran yang diajarkan Rasulullah, bumi ini jika diurus, maka kita bisa memilikinya (dalam artian positif).

Semoga kita bisa memanfaatkan kekayaan alam dengan sebaik-baiknya tanpa melukai alam itu sendiri sebagai ikhtiar kita akan sunatullah. Amin ya Rabbal-alamin.
Wallahu a’lam



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here