Apakah Wukuf Harus Dilaksanakan di Hari Arafah?

0
887

BincangSyariah.Com – Beberapa tahun silam, seorang ulama, K.H. Masdar Farid Mas’udi, pernah melempar sebuah gagasan tentang penggiliran waktu haji. Gagasan itu berangkat dari realita lonjakan gelombang jumlah jamaah haji yang semakin meningkat, sehingga menimbulkan masyaqqat (kesulitan) karena adanya ketimpangan antara jumlah jamaah dan lokasi yang tidak seimbang dalam waktu yang bersamaan. Masdar kemudian melempar wacana pembagian giliran haji selama tiga bulan dan tidak memusatkan pada bulan Zulhijjah saja.

Menurutnya, umat Islam tidak boleh mempersempit cakrawala penafsiran haji. Oleh karena Nabi saw. hanya sekali berhaji pada jam dan waktu-waktu tertentu, kemudian disimpulkan bahwa tidak ada keabsahan haji di luar waktu tersebut.

Salah satu hadis yang menurut Masdar perlu dipahami ulang adalah,

الْحَجُّ عَرَفَةُ فَمَنْ أَدْرَكَ لَيْلَةَ عَرَفَةَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ مِنْ لَيْلَةِ جَمْعٍ فَقَدْ تَمَّ حَجُّهُ

“Inti haji adalah wukuf di Arafah, barang siapa yang mendapatkan malam Arafah sebelum terbit fajar dari malam jam’ (malam mabit di Muzdalifah) maka hajinya telah sempurna.”

Hadis di atas dapat ditemukan dalam beberapa kitab Sunan dan Musnad, seperti Sunan al-Tirmidzi, Sunan al-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, dan Musnad Ahmad bin Hanbal. Jalur sanad yang semuanya melalui seorang sahabat bernama Abdurrahman bin Ya’mar al-Dailiy menunjukkan bahwa hadis tersebut merupakan hadis gharib, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh satu rawi baik hanya di satu tingkatan maupun seluruhnya. Tetapi, tidak menutup kemungkinan terdapat jalur lain di kitab yang belum kami sebutkan di muka.

Mengenai rantai sanad, mayoritas ulama, seperti Mustafa al-A’zami, menilai hadis tersebut sahih, meskipun ada juga yang menghukuminya hasan-sahih. Kendati demikian, status-status tersebut tetap mengarah pada kebolehan mengamalkannya.

Redaksi lengkap dari hadis di atas memuat asbabul wurud (sebab-sebab keluarnya hadis), di mana ketika itu Nabi Muhammad saw. sedang menjalani bagian dari prosesi haji; wukuf di Arafah. Abdurrahman bin Ya’mar yang sedang berada di dekat beliau melihat beberapa orang dari penduduk Mekkah (dalam riwayat lain: penduduk Najd) mendatangi Nabi saw. Salah seorang dari mereka kemudian bertanya, “Bagaimanakah kami melaksanakan haji?”. Nabi pun menjawab, “Inti haji adalah wukuf di Arafah.”

Baca Juga :  Refleksi Bencana Tsunami dan Surat Luqman Ayat 34

Beberapa ulama, seperti Badruddin al-Aini dalam Umdat al-Qori Syarah Sohih al-Bukhari dan al-Sindi dalam Hasyiyah Sunan Ibnu Majah memahami bahwa maksud dari hadis di atas adalah wukuf di Arafah merupakan rukun haji yang paling agung. Ia menjadi penyangga dan amalan paling berharga dalam ibadah haji.

Namun perlu dicatat, dalam memahami hadis tersebut tidak berlaku pembatasan mubtada’ pada khabar yang berarti membatasi haji pada wukuf saja. Sebab, sebagaimana kita ketahui bahwa rukun yang harus ditunaikan dalam berhaji tidak hanya wukuf belaka.

Pendapat berbeda diutarakan oleh Izzuddin bin Abdussalam dalam Amali-nya. Ia mengatakan bahwa rukun haji paling utama adalah tawaf. Hal ini berdasar pada sebuah hadis,

الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلَاةٌ فَأَقِلُّوا مِنْ الْكَلَامِ

“Tawaf di Ka’bah adalah salat, bersedikitlah berbicara.” (HR. al-Nasa’i)

Kedudukan tawaf yang serupa dengan salat menjadikan derajatnya lebih utama daripada wukuf. Bahkan salat sendiri lebih utama daripada haji. Karenanya, mengenai hadis di atas, Izzuddin lebih cenderung pada pemaknaan bahwa seseorang yang memperoleh haji ialah mereka yang berwukuf di Arafah.

Menengahi dua pendapat di atas, Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari lebih condong pada menyamakan kedudukan wukuf dan tawaf. Tidak ada posisi lebih utama dari keduanya.

Salah satu poin penting dari gagasan Masdar adalah ketidakadaan dalil yang menyebutkan bahwa wukuf harus dilaksanakan pada hari Arafah atau tanggal 9 Zulhijjah.

Artinya, menurut Masdar, wukuf dapat dilakukan kapanpun selama masih dalam rentang bulan-bulan dimaksud, yakni Syawal, Zulqo’dah, dan Zulhijjah. Tidak ada keharusan melakukannya pada hari Arafah. Keumuman (mujmal) ayat di atas menunjukkan bahwa prosesi haji managable dan bisa digilir.

Agaknya kesimpulan Masdar di atas masih prematur. Pemahaman yang ia bangun hanya bersumber dari satu ayat tanpa mengorelasikan dengan ayat lainnya, seperti firman Allah pada ayat setelahnya,

Baca Juga :  Empat Kategori Denda/Dam Haji

فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ

“Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafat, berzikirlah kepada Allah di Masy’aril haram.” (QS. Al-Baqarah: 198)

Ayat di atas, oleh beberapa pendapat dalam kitab tafsir dijadikan dalil ritual wukuf di Arafah, termasuk waktunya. Dalam hal ini, Syekh Wahbah Zuhaili dalam tafsir-nya, mendefinisikan kata عرفات sebagai tempat wukuf, sedangkan kata عرفة adalah hari dimana para jamaah haji wukuf di Arafah, yaitu 9 Zulhijjah.

Jika demikian, maka hadis al-Hajju Arafah menunjukkan keharusan wukuf pada hari Arafah. Hal ini tidak berlebihan jika melihat lanjutan hadis tersebut yang menyinggung masalah batas waktu wukuf.
Pada ayat yang lain disebutkan tentang hikmah haji berikut ini,

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

“Supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (QS. Al-Hajj: 28)

Bahwa salah satu manfaat haji ialah menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah dipermaklumkan, yang menurut Imam Malik adalah hari nahr. Jika prosesi haji, khususnya ritual wukuf, dilaksanakan pada bulan Syawal misalnya, bukankah jamaah haji tidak akan menemukan manfaat tersebut?

Jamal Ma’mur Asmani, peneliti di Fiqh Sosial Institute Pati, dalam artikelnya menyebutkan kelemahan pemikiran Masdar. Menurutnya, lafadz “asyhurun ma’lumat” merupakan lafadz makhshus (dikhususkan), dimana kata asyhurun memuat informasi tentang wukuf yang harus dilakukan pada hari Arafah, yaitu 9 Zulhijjah.

Pengkhususan tersebut dikarenakan adanya lafadz setelahnya, yaitu maklumat yang berdasarkan tradisi, waktu Arafah ialah pada tanggal 9 Zulhijjah. Adapun hadis Nabi al-Hajju Arafah hanya sekadar menguatkan tradisi yang sudah ada. Jadi, mubayyan-nya adalah syar’u man qoblana, syariat orang sebelum turunnya ayat.

Baca Juga :  Sa’i Menggunakan Kursi Roda Saat Mampu Berjalan, Apa Hukumnya?

Tentunya masih banyak lagi dalil pendukung, baik dari Alquran maupun hadis, secara implisit maupun eksplisit, yang menunjukkan keharusan wukuf pada hari Arafah. Memang, penggiliran haji menjadi tiga shift akan cukup mengurai permasalahan, akan tetapi penafsiran ayat dan hadis ke arah itu dirasa terlalu gegabah. Di sisi lain, batas masyaqqot yang menjadi dasar pun tampaknya perlu ditinjau lagi mengenai tepat tidaknya.

Artikel ini pernah dimuat di majalahnabawi.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here