Waspada Fenomena Mengafirkan dan Menyesatkan Kelompok Lain

0
24

BincangSyariah.Com – Belakangan ini, bejibun muncul fatwa-fatwa dan ceramah yang mudah mengafirkan dan menyesatkan kelompok lain dalam jagad medsos dapat dengan mudah kita peroleh. Banyak dari ustad medsos yang dengan mudahnya menyesatkan bahkan mengafirkan kelompok lain, seolah dirinya mendaku sebagai pemilik kunci kebenaran beragama. (Baca: Bahaya Mengafirkan Sesama Muslim)

Mengenai hal ini, Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki ulama terkemuka di Makkah abad ke-21, sangatlah berhati-hati dalam menjatuhkan vonis kafir dan sesat kepada orang lain. Selain menengok dampak dari fenomena mengafirkan dan menyesatkan kelompok lain sendiri sangat berbahaya, belum lagi ketika seseorang mengatakan kafir tidak pasti jatuh kepada yang divonis kafir bisa saja hal itu menjadi bomerang bagi dirinya sendiri. Argumen yang beliau kemukakan yaitu dengan menyitir sebuah hadis Rasulullah saw.

إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهِ أَحَدُهُمَا

 “Apabila seseorang berkata kepada saudaranya (sesama muslim): wahai kafir! Maka kekafiran telah jatuh pada salah satu dari keduanya.” (HR. Bukhari)

Oleh karena itu, penting kiranya diperjelas ranah atau parameter seorang muslim bisa divonis kafir atau sesat. Misalnya, mengingkari persoalan ketauhidan, kenabian, kebangkitan di akhirat, hari akhir, balasan bagi amal seseorang, dan tidak percaya adanya surga dan neraka. Selain hal yang bukan persoalan pokok atau inti dalam agama maka bisa saja ditolerir. Kerena memang dalam masalah furu’iyah sangat berpeluang terjadi silang pendapat dan tidak mencapai kata sepakat.

Untuk memperjelas barometer kafir dan sesat di atas, Imam Sayyid Ahmad Masyhur al-Haddad pernah menegaskan, “Telah menjadi konsensus ulama bahwa ranah takfir hanya berlaku. Saat seorang muslim mengingkari adanya khaliq dan kenabian, menafikan ibadah yang sudah pasti dalam agama, menolak persoalan yang sudah jelas-jelas disepakati dan melakukan perbuatan syirik yang tidak bisa di-takwil dan ditolerir”.

Sayangnya, silang pendapat dalam masalah furu’iyah yang tadinya menabur rahmat kini justru berubah menjadi ajang perlombaan menebar laknat. Utamanya kebanyakan ustad di jagad medsos. Alih-alih legowo menyikapi perbedaan pendapat, mereka justru lebih senang langsung memvonis kafir dan sesat.

Sejalan dengan pandangan Imam Ahmad Al-haddad, pendapat ulama berikutnya yakni Imam Haramain mujtahid abad ke-3 dengan pernyataan.  “Jika Imam Haramain ditanya tentang apa saja ungkapan yang dapat mengantarkan kekafiran. Maka niscaya hal itu bukanlah pada posisi yang tepat, sulit dijangkau dan jauh sekali untuk dicapai. Karena inti dari semua ini adalah persoalan ketauhidan, dan barang siapa yang tidak paham detail mengenai masalah ketauhidan maka niscaya akan tergelincir ke jurang kekufuran”.

Dari dua pandangan ulama di atas, menjadi benderanglah barometer sesat-menyesatkan dan pengkafiran yaitu hanya berlaku selama seseorang mengingkari keimanan, menyepelekan ibadah pokok yang sudah disepekati semua ulama dan melakukan perbuatan syirik yang dilarang agama.

Terakhir, tulisan ini ingin memberi sapaan hangat untuk fatwa-fatwa kafir dan sesat-menyesatkan yang berseliweran di jagad medsos saat ini. Ironisnya fatwa tersebut justru banyak disampaikan oleh para ustad yang belajar agama secara instan sehingga ceramahnhya cenderung intoleran. Ustad-ustad di medsos dalam hal ini harus banyak belajar kepada kalangan pesantren yang sudah membaca dan merasakan asam garam sampai manisnya silang pendapat tanpa lan gsung menyebar laknat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here