Wanita Sebagai Tiang Negara, Hadis atau Bukan?

1
1794

BincangSyariah.Com – Permasalahan kini kian berkembang dalam berbagai lapisan masyarakat. Jika mereka dihadapkan suatu masalah maka mereka akan menanyakan sumber dalil dari pemecahan masalah tersebut. Darimana asal perkataan ini? Apakah ada dalil yang melatarbelakangi permasalahan ini? atau berbagai pertanyaan lainnya. Tak jarang mereka menanyakan hal tersebut dengan keterangan yang rinci. Namun, penjelasannya membutuhkan kajian yang panjang agar bisa dipahami secara komprehensif atau keseluruhan, tidak parsial, termasuk pertanyaan mengenai wanita tiang negara, hadis atau bukan?

Pada zaman sekarang ini muncul berbagai media dakwah baik dalam bentuk ceramah atau tulisan-tulisan yang tersebar dalam berbagai situs Islam. Biasanya mereka menyampaikan dalil-dalil untuk menguatkan argumen, di antaranya dalil al-Qur’an, hadis dan perkataan ulama. Tak jarang juga mereka memberikan hadis-hadis yang mendukung sesuai dengan tema tulisan. Banyak hadis masyhur tersebar di masyarakat namun setelah diteliti hadis ini masuk dalam kategori hadis palsu. Salah satunya ungkapan wanita tiang negara. Beberapa kali ditemukan bahwa ungkapan ini sering disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagian kalangan menyampaikannya dalam forum ceramah keperempuanan. Lantas apakah ungkapan ini termasuk hadis atau kalam hikmah?

Adapun ungkapan wanita tiang negara sebagai berikut

النساء عماد البلاد إذا صلحت صلح البلاد وإذا فسدت فسد البلاد

Wanita adalah tiang negara, apabila wanita itu baik maka akan baiklah negara dan apabila wanita itu rusak, maka akan rusak pula negara.”

Perihal ungkapan ini telah disebutkan dalam buku Hadis-Hadis Bermasalah karya Ali Mustafa Yaqub Allahu Yarham. Sebagai hadis populer mestinya hadis ini bisa ditemukan dalam kitab yang mengumpulkan hadis masyhur. Dalam kajian ilmu hadis, hadis masyhur terkadang memiliki sanad tapi terkadang juga tidak memiliki sanad sama sekali. Ia hanya terkenal dari satu mulut ke mulut yang lain atau bahkan terkenal dalam satu kalangan tidak dengan kalangan yang lain.

Baca Juga :  Apakah Biaya Administrasi Kredit di Pegadaian Termasuk Riba?

Beliau mengatakan bahwa ungkapan ini tidak ada pada beberapa kitab hadis masyhur seperti al-Maqasid al-Hasanah, al-Durar al-Muntasyirah, al-Ghammaz ala al-Lammaz, Tamyiz al-Tayyib min al-Khabits, Asna al-Mathalib, Kasyf al-Khafa’ wa al-Muzil al-Ilbas dan beberapa kitab hadis lainnya. Beliau sementara menyimpulkan bahwa ungkapan ini bukan termasuk hadis.

Ungkapan ini sangat membumi di kalangan penceramah. Namun tidak layak jika ungkapan ini disandarkan pada Nabi sedangkan belum ada sumber valid yang membuktikannya. Jika seseorang menganggap bahwa ini adalah hadis Nabi maka sama artinya dia telah menisbatkan sesuatu yang bukan ucapannya atau dikatakan dengan mendustakan Nabi.

Setelah menelusuri mengenai sumber ungkapan ini lantas bagaimana dengan isi atau maksud dari ungkapannya? Profil kaum wanita dalam pandangan Islam sangat istimewa. Jika dihubungkan dengan tiang negara, maka kaum wanita ini disebut sebagai penyokong yang kuat. (Baca: Kritik Aisyah terhadap Hadis Wanita Merupakan Sumber Sial)

Dalam kitab Lisan al-Arab kata tiang diartikan sebagai sesuatu yang menyokong seperti tonggak panjang yang berfungsi untuk menyokong atau menyangga. Dari pengertian ini bisa disimpulkan bahwa ungkapan wanita tiang negara adalah sebagai bentuk pokok kekuatan dan penghidupan. Namun makna ini bukan semata-mata sebagai penyokong tunggal moralitas bangsa ini. Tiang akan menjadi kuat jika didukung dengan komponen yang lain seperti tembok, pondasi dan lainya.

Ungkapan ini juga mengisyaratkan bahwa Islam datang bukan untuk mendiskreditkan wanita seperti wanita kaum terdahulu sebelum datangnya Islam. Hal ini menunjukkan bahwa wanita merupakan tiang rumah tangga yang mempunyai posisi vital di tengah-tengah keluarga. Sebagai tiang negara, wanita harus mewujudkan kualitas yang baik lahir maupun batin. Kualitas ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain, jadi mereka bisa menjadi wanita yang kokoh kalau mereka mampu mewujudkan keluarga yang bahagia. Jika tidak mereka akan kehilangan tiangnya. Keluarga adalah unit terkecil dalam suatu negara. Berdasarkan ini, peran wanita sebagai tiang negara sangat signifikan dalam mewujudkan kualitas bangsa dalam suatu negara.

Baca Juga :  Program Family Resilience untuk Anak Narapidana Terorisme

Bila seseorang menganggap ungkapan ini baik memang suatu hal yang wajar. Apalagi ungkapan ini memberikan makna yang bagus. Langkah kita harus lebih berhati-hati dalam mengambil sesuatu. Sikap yang tepat adalah mempelajari dan memahami segala sesuatu secara komprehensif. Bukan langsung mengklaim sesuatu dengan mudah, apalagi berhubungan dengan klaim hadis Nabi. Maka orang tersebut telah menisbatkan sesuatu yang bukan ucapannya atau dikatakan dengan mendustakan Nabi.

Wallahu A’lam Bisshawab

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here