Kapan Waktu Terbaik Berhubungan Intim?

0
1295

BincangSyariah.com – Salah satu hikmah dianjurkannya menikah adalah menghalalkan yang haram. Terutama dalam berhubungan intim antara suami dan istri. Melakukan hubungan intim menjadi hak dan kewajiban bagi suami istri untuk saling membahagiakan. Berhubungan intim suami istri akan menjadi ibadah jika dilakukan karena Allah dengan niat ikhlas kepadaNya.

Meskipun sudah dihalalkan, berhubungan intim tentu harus melihat waktu dan tempat. Tidak sembarangan melakukannya. Secara waktu, kapankah waktu terbaik melakukan hubungan intim menurut Islam?

Secara umum, jam berapapun suami istri diperbolehkan Islam untuk berhubungan intim. Setidaknya ada tiga waktu yang diisyaratkan dalam Alquran; yakni sebelum subuh, tengah hari, dan setelah Isya. Sebagaimana firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum salat Subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian luarmu di tengah hari dan sesudah salat Isya. Itulah tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain).” (QS an-Nur: 58)

Ayat di atas memang tidak secara tegas menyebut waktu berhubungan intim. Namun dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa para sahabat menyukai saat-saat tersebut untuk berhubungan intim. Diriwayatkan dari Muqatil bin Hayan, beliau menceritakan sebab turunnya ayat ini.

Baca Juga :  Mengenal Istilah-Istilah dalam Ilmu Fikih (Bagian I)

Ada pasangan suami istri di kalangan Anshar, dia sering membuatkan makanan untuk Rasulullah saw. Suatu ketika budaknya masuk ke kamar menemui mereka tanpa izin di waktu yang mereka tidak sukai untuk ditemui. Sang istripun melaporkan kepada Nabi saw:

يا رسول الله، ما أقبح هذا إنه ليدخل على المرأة وزوجها وهما في ثوب واحد

“Wahai Rasulullah, betapa buruknya sikap orang ini. Dia menemui seorang wanita ketika dia sedang berduaan bersama suaminya dalam satu selimut.” Kemudian Allah menurunkan ayat di atas. (Tafsir Ibn Katsir)

Allah menurunkan syariat agar anak yang belum balig, atau budak yang tinggal bersama tuannya, untuk tidak masuk ke kamar pribadi orang tuanya atau kamar tuannya pada tiga waktu khusus tanpa izin. Tiga waktu itu Allah sebut sebagai waktu aurat, karena umumnya, mereka sedang membuka aurat di tiga waktu itu.

Kemudian, kebiasaan yang dicontohkan oleh Rasulullah adalah ketika Aisyah menceritakan, bahwa Rasulullah saw mendekati istrinya setelah tahajud. Dari al-Aswad bin Yazid, bahwa beliau pernah bertanya kepada Aisyah tentang kebiasaan salat malam Rasulullah. Keterangan Aisyah:

كَانَ يَنَامُ أَوَّلَ اللَّيْلِ ثُمَّ يَقُومُ، فَإِذَا كَانَ مِنَ السَّحَرِ أَوْتَرَ، ثُمَّ أَتَى فِرَاشَهُ، فَإِذَا كَانَ لَهُ حَاجَةٌ أَلَمَّ بِأَهْلِهِ، فَإِذَا سَمِعَ الْأَذَانَ وَثَبَ، فَإِنْ كَانَ جُنُبًا أَفَاضَ عَلَيْهِ مِنَ الْمَاءِ، وَإِلَّا تَوَضَّأَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ

“Rasulullah saw tidur di awal malam, kemudian bangun tahajud. Jika sudah memasuki waktu sahur, beliau salat witir. Kemudian kembali ke tempat tidur. Jika beliau ada keinginan, beliau mendatangi istrinya. Apabila beliau mendengar azan, beliau langsung bangun. Jika dalam kondisi junub, beliau mandi besar. Jika tidak junub, beliau hanya berwudu kemudian keluar menuju salat jamaah. (HR an-Nasai dan disahihkan oleh al-Albani)

Baca Juga :  Mengenal Istilah-istilah dalam Ilmu Fikih (Bagian II)

Berdasarkan keterangan Aisyah di atas, sebagian ulama lebih menganjurkan agar berhubungan intim dilakukan di akhir malam, setelah tahajud, dengan pertimbangan mendahulukan hak Allah, dengan beribadah kepadaNya. Menghindari tidur ketika junub. Di awal malam umumnya pikiran penuh, dan di akhir malam umumnya pikiran dalam keadaan kosong.

Berdasarkan paparan di atas maka disimpulkan bahwa semua keterangan di atas hanya menyebutkan kebiasaan yang dilakukan pada masa silam. Semata tradisi, terkait adat atau kebutuhan fisik seseorang, tidak bisa dijadikan acuan bahwa itu sunah atau dianjurkan. Dengan demikian, hal ini tidak bisa dijadikan acuan baku, sehingga dikembalikan kepada kebutuhan dan kebiasaan masyarakat. Wallahu ‘alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here