Wakaf Tanah dari Non-Muslim untuk Masjid, Boleh Diterima?

2
999

BincangSyariah.Com – Di daerah tertentu, seperti di Papua, banyak masjid yang dibangun di atas tanah milik non-muslim, baik karena diwakafkan dengan sukarela, dan ada juga yang harus dibeli. Persoalannya di sini mengenai tanah yang diwakafkan oleh non-muslim dengan sukarela untuk masjid, apakah hal itu sah dan boleh diterima?

Menurut ulama Syafiiyah, wakaf tanah dari non-muslim untuk masjid, misalnya, dihukumi sah. Tidak masalah non-muslim memberikan wakaf tanah atau lainnya untuk orang muslim, atau untuk kepentingan orang-orang muslim, seperti mewakafkan tanah untuk masjid atau pesantren, mewakafkan Al-Quran, mewakafkan kitab, dan lain sebagainya.

Selama non-muslim tersebut mewakafkan tanahnya untuk masjid dengan sukarela tanpa ada paksaan sedikit pun, maka hal itu dihukumi sah dan boleh membangun masjid di atas tersebut. Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Tuhfatul Habib berikut;

يصِحُّ وَقْفُ مُطْلَقِ التَّصَرُّفِ المُخْتَارِ فَيَصِحُّ مِنْ كَافِرٍ وَلَوْ لِمَسْجِدٍ

Sah  wakaf dari orang yang memiliki hak mutlak tasharruf dan sukarela. Karena itu, sah wakaf dari orang non-muslim meskipun untuk masjid.

Menurut ulama Syafiiyah dan Hanabilah, selama wakaf dari non-muslim tersebut digunakan untuk kepentingan Islam atau orang-orang muslim, maka hal itu tidak masalah, tetap dihukumi sah dan boleh digunakan sebagaimana tujuan wakaf dari non-muslim tersebut. Berbeda jika berwakaf untuk sesuatu yang bertentangan dengan Islam, baik dari muslim atau non-muslim, dihukumi sama-sama tidak sah.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Wahbah Al-Zuhaili dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu berikut;

وَقَالَ الشَّافِعِيَّةُ وَالحْنَاَبِلَةُ: اَلْعِبْرَةُ بِكَوْنِ الْوَقْفِ قُرْبَةً فِي نَظَرِ الْإِسْلَامِ سَوَاءٌ أَكَانَ قُرْبَةً فِي اعْتِقَادِ الْوَاقِفِ أَمْ لا فَيَصِحُّ وَقْفُ الْكَاِفرِ عَلَى الْمَسْجِدِ؛ لِأَنَّهُ قُرْبَةٌ فِي نَظَرِ الْإِسْلَامِ، وَلَا يَصِحُّ وَقْفُهُ عَلَى كَنِيسَةٍ أَوْ بَيْتِ نَارٍ وَنَحْوِهِمَا؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ قُرْبَةً فِي نَظَرِ الْإِسْلَامِ.

Baca Juga :  Wakaf Uang dalam Pandangan Hukum Islam

Ulama Syafiiyah dan Hanabilah mengatakan bahwa yang menjadi acuan dalam soal wakaf adalah qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) yang sesuai dengan pandangan Islam, baik itu selaras dengan keyakinan pemberi wakaf atau tidak. Karenanya, sah wakaf non-muslim untuk masjid karena dalam pandangan Islam itu merupakan bentuk dari qurbah. Tidak sah wakaf untuk gereja, baitun nar (tempat penyembahan api), atau sejenisnya karena itu bukan merupakan qurbah dalam pandangan Islam. (Baca: Kisah Nabi Bantu Bangun Gereja, Fiktif atau Fakta?)

2 KOMENTAR

  1. […] Mengenai masalah ini, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Menurut ulama Hanabilah, jika penerima wakaf beragama Islam, atau secara sosial-kolektif barang wakaf dimanfaatkan dan digunakan oleh orang-orang Islam, maka pengelola wakaf disyaratkan harus beragama Islam. (Baca: Wakaf Tanah dari Non-Muslim untuk Masjid, Boleh Diterima?) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here