Wajibkah Janin yang Mati Keguguran Dikafani dan Disalati?

0
405

BincangSyariah.Com – Kewajiban seorang Muslim yang masih bernyawa terhadap Muslim yang telah meninggal adalah memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan menguburkan. Empat hal tersebut berlaku untuk jenazah laki-laki dan perempuan. Lantas bagaimanakah dengan janin yang keguguran? Bayi yang meninggal sebelum lahiran, atau yang meninggal tak lama dari jarak lahiran.

Dalam Al Mughni, Ibnu Qudamah memaparkan sebagai berikut:

السقط الولد تضعه المرأة ميتا أو لغير تمام فأما إن خرج حيا واستهل فإنه يغسل ويصلى عليه بغير خلاف قال ابن المنذر :  أجمع أهل العلم على أن الطفل إذا عرفت حياته واستهل يصلى عليه

Janin keguguran adalah janin yang dilahirkan ibunya dalam keadaan telah meninggal atau tidak sempurna. Namun jika dia lahir hidup dan bisa menangis, kemudian mati, maka dia dimandikan dan disalati, berdasarkan kesepakatan ulama. Ibnul Mundzir mengatakan, “Ulama sepakat bahwa bayi yang terlahir dalam keadaan hidup, dengan dia menangis, maka dia disalati”.

Janin yang sempat terlahir di dunia, atau dalam artian tidak meninggal di dalam kandungan disyariatkan untuk dimandikam, dikafani, dan juga disalatkan. Keterangan di atas menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara jenazah orang dewasa dan bayi yang baru lahir. Lantas bagaimanakah dengan janin yang sudah meninggal sejak dalam kandungan?

Menurut Imam Malik, janin yang meninggal sejak dalam kandungan tidak perlu dikafani dan disalatkan. Sebagaimana juga janin tersebut tidak mendapatkan warisan dan tidak perlu diberi nama, kecuali jika ia terlahir dengan menangis dan terlahir dalam keadaan hidup. Pernyataan Imam Malik tersebut terangkum dalam Al Mudawaanah yang senada dengan hadis Rasulullah:

الطِّفْلُ لاَ يُصَلَّى عَلَيْهِ وَلاَ يَرِثُ وَلاَ يُورَثُ حَتَّى يَسْتَهِلَّ

Bayi tidak perlu disalati, tidak menerima warisan atau menurunkan warisan, sampai terlahir dalam keadaan hidup. (HR. Tirmidzi)

Baca Juga :  Manakah Harta Kita yang Sesungguhya?

Dengan demikian, janin yang perlu untuk dikafani dan disalatkan adalah janin yang lahir dan sempat hidup di muka bumi, walau sekejap. Adapun janin yang sudah meninggal dalam kandungan, maka tidak perlu dikafani dan disalatkan. Selain itu, ada pendapat Syaikh Zainuddin dari kitab Fathul Muin yang menyatakan bahwa jika janin tersebut tidak terlihat hidup, dan tidak pula terlihat tanda-tanda kehidupan namun tampak rupa dan kesempurnaan fisiknya, maka janin tersebut dimandikan, dikafani, dan dikuburkan, namun tidak wajib disalatkan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here