Wajah Islam Wasathiyyah di Indonesia

0
748

BincangSyariah.Com – Saat memperingati milad ke-45 pada 7 Agustus 2020 lalu secara daring, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengakui bahwa tantangan Islam di masa depan sama sekali tidak ringan. Perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat dan dinamis mengharuskan manusia hidup dengan ketergantungan yang sangat tinggi terhadap teknologi.

Untuk menjawab tantangan tersebut, MUI telah mengeluarkan Fatwa MUI Nomor 24 Tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah melalui Media Sosial. Fatwa tersebut mengajak umat Islam agar mengamalkan nilai-nilai Islam wasathiyyah sebagai opsi terbaik menjawab tantangan zaman dalam skala lokal, nasional, bahkan global.

MUI menyatakan bahwa Islam wasathiyyah akan mengafirmasi sikap dan praktik keagamaan yang memiliki komitmen kebangsaan, penghormatan terhadap kearifan lokal, toleran, dan mengutamakan praktik beragama tanpa kekerasan. Apa sebenarnya Islam wasathiyyah yang dimaksud MUI tersebut?

Wasatiyyah adalah sebuah kerangka berpikir, bersikap dan bertingkah laku yang ideal, penuh keseimbangan dan proposional dalam syariat Islam dan seharusnya tertanam dalam pribadi Muslim. Arus wasatiyyah dipopulerkan oleh Dr. Yusuf Qardhawi, cendekiawan Muslim dari Mesir yang hijrah ke Qatar.

Yusuf Qardhawi menyatakan bahwa Islam wasatiyyah bukanlah ide aslinya tapi merupakan sebuah prinsip dasar yang melandasi semua ajaran Islam, baik aqidah, syariah maupun akhlak. Menjadi wasatiyyah berarti menyediakan ruang terbuka yang tepat dan nyaman untuk siapapun termasuk agama lain. Sikap ini akan membuat mereka yakin bahwa Islam hanya membawa kebaikan dan kita bisa meniru Rasulullah Saw. yang rahmatan lil’alamin.

Indonesia dianggap sebagai negara yang dikenal paling berhasil dalam menjinakkan gerakan teroris jika dibandingkan dengan negara-negara Timur Tengah. Hal ini mengundang para ulama dunia untuk melihat dari dekat bagaimana kehidupan beragama di wilayah Indonesia yang dikenal karena memiliki tradisi gotong royong, toleran, dan dialog baik antar sesama umat Islam yang berbeda mazhab, bahkan dialog lintas agama.

Baca Juga :  Mengapa Ulama Dulu Haramkan Ucapan Selamat Natal, Sekarang Tidak? Ini Kata Habib Ali al-Jufri

Islam wasatiyyah memiliki dasar normatif-teologis yang tercantum dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surat al-Baqarah ayat 143. Islam wasatiyyah juga pernah dibuktikan dalam sejarah Islam baik semasa hidup Rasulullah Saw., juga semasa abad pertengahan. Wajah Islam saat itu begitu toleran, akomodatif, dan apresiatif terhadap budaya luar. Hal tersebut menandakan bahwa Islam telah membuktikan dirinya sebagai penggerak peradaban.

Dalam esai berjudul Wasathiyyah Islam (2018), Komaruddin Hidayat mencontohkan Islam wasatiyyah terlihat di Indonesia dengan kehadiran Islam ke Nusantara melalui jalan damai. Hingga saat ini, warisan Hindu-Buddha seperti candi Borobudur dan Prambanan tetap dipelihara dengan apik, baik oleh pemerintah dan masyarakat sekitarnya yang beragama Islam.

Selain itu, masyarakat Islam juga ikut menjaga kelestarian tradisi Hindu Bali dan beberapa aliran kepercayaan lokal yang ada di Nusantara. Islamisme, nasionalisme, dan modernisme. Hal paling fenomenal dan historis ialah pembentukan negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

Pancasila adalah pertemuan dan kompromi antara Islamisme, nasionalisme, dan modernisme. Sebagai warga negara mayoritas dengan sederet nama pejuang kemerdekaan ialah tokoh-tokoh Islam, umat Islam di Indonesia tetap menganut paham demokrasi atau republik, bukan negara Islam (Islamic State).

Kerukunan yang terjadi didukung oleh negara yang juga tetap peduli pada kehidupan beragama. Kita patut bersyukur, kehidupan agama di Indonesia dipayungi oleh Pancasila dan dilindungi Undang-undang.

Maka, tak berlebihan apabila Pancasila disebut sebagai jalan tengah sebuah ijtihad dan eksperimentasi sejarah antara keislaman dan kebangsaan, antara islamisme dan nasionalisme. Komaruddin Hidayat menambahkan bahwa Pancasila adalah landasan bersama atau bisa disebut sebagai kalimatun sawa’ untuk mengakomodasi dan melindungi keragaman etnik, agama, dan kepercayaan penduduk Nusantara yang sangat plural.

Baca Juga :  Besok Haul yang ke-50, Ini Profil Mama Ajengan Masthuro

Dalam naungan Pancasila, semua warga negara memiliki kedudukan sama di depan hukum. Pancasila sejalan dengan Islam wasatiyyah yang menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta di mana rahmat Islam berlaku bagi seluruh umat manusia sekaligus binatang. Oleh karena itu, Islam Wasathiyah harus saling menyayangi dan berbagi.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here