Wailak !, Sikap Nabi Kepada Orang yang Bicara tentang Kapan Kiamat

0
189

BincangSyariah.Com – Pagi ini kami membaca tulisan bagus salah seorang kawan kami, Ustadz Dr. Alvian Iqbal Zahasfan, seorang doktor di bidang hadis dan akidah lulusan Darul Hadis al-Hassaniyyah Maroko. Tulisan itu merupakan hasil obrolan sebelumnya tentang kegelisahan beliau saat merespon sikap, akhlak, dan perilaku berbicara sebagian pendakwah di dunia nyata maupun dunia maya. Pasalnya, saat ini banyak orang yang berani berbicara atas nama Nabi dan hadisnya tentang hal-hal yang sangat terbatas. Nabi pun membatasi diri soal itu, tapi kali ini di media-media sosial, disampaikan melebih batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh Nabi.

Salah satu hal yang Nabi sangat membatasi diri untuk membicarakannya adalah masalah ruh dan hari kiamat. Keduanya ini memang paling menarik untuk dibicarakan. Kita sendiri kalau sudah ngomong soal ruh, pasti makin diobrolkan, makin penasaran dan makin enak. Lalu, tanpa disadari sudah kebablasan. Begitu juga soal kiamat. Ini biasanya banyak dipakai untuk dakwah mengajak orang berhijrah dari perilaku buruk kepada perilaku yang baik, mengajak orang bertaubat secara massal.

Awalnya, ada beredar viral pernyataan tegas seorang pendakwah tentang waktu kiamat pada 15 ramadan tahun 1441 yang bertepatan dengan malam jumat. Poin inilah yang sebenarnya menghentakkan jagat maya dan jagat nyata. Kami yakin pada aslinya tidak ada orang percaya tentang isi berita itu meskipun dibawakan oleh seorang ustadz kondang, tapi karena ada nama Nabi dibawa-bawa kemudian yang terpenting lagi adalah diviralkan sejadi-jadinya, jadilah mengganggu pikiran dan hati banyak muslim. Apalagi ketika kemudian di dunia nyata hal itu ikut diperbcangkan di mana-mana.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, di Indonesia ini entah sudah berapa kali ada geger soal waktu kiamat. Ada yang kemudian mengajak ke planet luar bumi. Bahkan tetangga kami sendiri ada yang terbawa oleh omongan seorang tokoh agama di daerah Malang, lalu dengan mantapnya ia jual rumah dan seluruh hartanya lalu disedekahkan kepada tokoh tersebut. Alih-alih takut kiamat besar yang membuat bumi ini hancur lalu pingin ke planet lain, harta benda malah habis total jadi jatuh miskin. Padahal, sebelumnya ia adalah seorang pengusaha sukses. Ya, benar-benar kiamat yang terjadi, yaitu kiamat kecil untuk dirinya sendiri.

Menanggapi kedua fenomena ini, baik fenomena kiamat pada Jumat 15 Ramadhan maupun kiamat ala tetangga kami itu, masyarakat pun jadi heboh banget. Ada yang mengutuk keras, ada pula yang nyukurin hingga mencaci maki, misuhi (jawa: mencaci), dan menertawakannya. Namun, tak sedikit pula yang kasihan dan menyayangkan sikapnya itu. Setidaknya ini yang kami amati melalui media sosial di internet maupun media-media tetangga di kampung.

Baca Juga :  Video: Telaah Hadis Kiamat Terjadi di Malam Jumat Pertengahan Ramadan

Memang, berbicara berlebihan soal waktu kiamat itu terlarang. Di samping membuat orang panik, menimbulkan fitnah (keresahan), dan itu selalu dihindari oleh Rasulullah, juga karena memang masalah waktu kiamat adalah rahasia ilahi. Berbicara terlalu detail soal waktu kiamat berarti telah mengambil alih hak prerogatif Allah. Meski demikian, bukan berarti kita juga boleh seenaknya mencela orang yang terlanjur bicara tentang itu. Ghafarahullâh.

Sekarang, mari kita lihat bagaimana sikap Nabi kepada orang yang bicara tentang kapan kiamat, salah satunya ada dalam hadis ini,

 عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَتَى السَّاعَةُ قَائِمَةٌ ؟ قَالَ : ” وَيْلَكَ، وَمَا أَعْدَدْتَ لَهَا ؟ “. قَالَ : مَا أَعْدَدْتُ لَهَا، إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ. قَالَ : ” إِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

Sayyiduna Anas bin Malik radliyallâhu ‘anhu mengisahkan ada orang dari kampung pedalaman sowan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Orang itu kepo tentang kiamat. “Rasul, kapan sih kiamat itu terjadi?” tanyanya polos.

“[Wailak! wa mâ a’dadta lahâ?] Weleh-weleh…! Emangnya, apa yang sudah kamu siapkan [koq bertanya kapan kiamat]?!” jawab rasul singkat dengan penuh kesabaran dan kelembutan, tapi cukup membuat orang itu paham bahwa itu pertanyaan yang tidak penting banget.

“Saya belum menyiapkan apa-apa, sih! Tapi, [yakinlah] aku benar-benar cinta Allah dan RasulNya!” tukas orang pedalaman itu polos dan tulus.

“Kalau begitu, kamu memang [akan selalu] bersama orang yang kamu cintai itu!” tanggap Nabi dengan penuh motivasi dan senyuman.

Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Tirmidzi rahimahumullâh.

Kelihatannya, orang pedalaman itu baru “hijrah,” sedang semangat-semangatnya belajar agama dan kebetulan materinya tentang kiamat yang pasti membuat semua orang takut. Wajar kalau dia kemudian bertanya tentang kapan terjadinya.

Begitulah kira-kira konteks dialog antara Nabi dengan orang badui yang kritis tersebut yang terbayang di benak kami. Untungnya, orang pedalaman itu tidak bertanya kepada Nabi lewat media sosial yang pastinya mudah diakses oleh siapa saja dan di mana saja. Entah bagaimana respon Nabi kalau seandainya demikian situasinya. Apalagi, sampai menetapkan hari kiamat, bukan sekedar bertanya seperti dalam hadis di atas.

Baca Juga :  Dua Tips Melunakkan Hati yang Keras

Tapi, bagaimanapun kondisinya saat itu, penting untuk kita catat seperti apakah respon nabi saat menghadapi pernyataan-pernyataan polos dari orang sangat bersemangat dalam beragama, mencintai Allah dan RasulNya, namun masih berpengetahuan tingkat dasar (badui). Dan yang terpenting lagi adalah bahwa rasulullah itu orangnya murah senyum, penyabar, pemaaf, bijaksana, tidak gampang marah, enggan berkata kotor, dan tidak mau mendoakan buruk kepada orang beriman. Bahkan, kepada orang yang masih beliau harapkan akan menjadi beriman pun, beliau selalu doakan yang terbaik. Lalu, bagaimana mungkin ini orang badui beriman didoakan buruk apalagi dicaci-maki, dimarahi, dan di-pisuhi oleh beliau.

Sangat penting lagi untuk dicatat dalam hadis itu adalah kata wailak yang kalau dipreteli, ia adalah terdiri dari kata wailun (celaka) dan laka (untukmu). Ini mirip dengan struktur ayat wailun lil muthaffifîn. Tapi, ingat keduanya sangat berbeda jauh. Kata wailak tidak pernah dibaca rafa’-dlammah (waliuka atau wailun laka). Ia selalu dibaca fathah pada huruf lam-nya.

Tampaknya ia juga tidak sama konteksnya dengan kata wailaka aamin yang ada dalam QS. al-Ahqaf: 17. Dalam ayat ini, para ahli tafsir dan I’rab menyatakan bahwa kata wailak di situ adalah berarti doa. Ia dibaca nashab karena dalam kapasitasnya sebagai mashdar (kata keterangan penegas) dari kata kerja yang dibuang. Ada pula yang memosisikannya sebagai maf’ul bih dari kata kerja yang juga dibuang yaitu alzamakallahu wailak. Dan banyak lagi penafsiran untuk kata wailak yang ada dalam ayat tersebut.

Tampaknya, kata wailak dalam hadis di atas lebih mirip pola dan maknanya dengan kata yâ wailatâ dalam QS. al-Furqan: 28, yang artinya “alangkah celakanya diriku!” alias kalimat penyesalan (kalimat tahazzun). Jika pola ini yang dianggap dekat dengan kata wailak dalam hadis di atas, maka kata wailak dalam hadis itu dibaca nashab karena sebagai munada mudlaf yang bermakna tahassur atau tahazzun tadi itu. Imam Ibn Sayyidih menjelaskan bahwa kata ini adalah pola ungkapan ratapan (uslub nudbah). Jadi jelas, tidak semua kata wail + kata ganti adalah berpola ungkapan doa (uslub dua’iyyah).

Kalau begitu, tukasan Nabi itu dapat diartikan sebagai sikap menyayangkan pertanyaan tersebut, karena ia bukan pertanyaan penting, melainkan ada pertanyaan yang jauh lebih penting, yaitu pertanyaan tentang bagaimana mempersiapkan diri menghadapi kiamat yang misterius waktunya itu. Karena itu, ia tidak tepat diartikan cemoohan, umpatan, pisuhan, atau doa kecelakaan hanya gara-gara ada orang yang masih polos bertanya tentang hal yang mengganggu pikiran dan perasaannya.

Baca Juga :  Hukum Keluar dari Kawasan Terkena Wabah Penyakit 

Karena itulah, imam Sibawaih menyatakan kata wailak dalam hadis ini berarti kalimatu zajrin liman asyrafa al-halakah (ungkapan yang membuat jera, terhenti dan terhindar dari potensi bahaya), demikian dikatakan Ibn al-Atsir dalam Jami’ al-Ushul fi Ahadits al-Rasul; dan al-Samin al-Halabi dalam ‘Umdatul Huffazh fi Tafsiri Asyrafil Alfazh. Ia juga diartikan sebagai kalimat ta’ajjub (ungkapan keheranan dan ketakjuban) dan tawajju’ (ungkapan keluhan) menurut al-Qadli Iyadl (Musa Syahin Lasyin, Fathul Mun’im Syarh Sahih Muslim).

Ini juga mirip dengan pola waika-annallaha yabsuthur-rizqa dalam Qs. al-Qashash: 82, yang artinya adalah “aduhai!” yang juga merupakan ungkapan keheranan atau takjub, dan tahazzun. Ini karena menurut para ulama tafsir, kata waik atau wai adalah kependekan (akronim) dari wailaka . Demikian kata Imam Ibnu Sayyidihi [Nama aslinya Ali bin Ismail atau Abul Hasan] dalam I’rab al-Quran, mengutip pendapat Imam al-Kisai, Imam Yunus, dan Imam Abu Hatim.

Dari uraian di atas, kata wailak dalam hadis di atas, yang dapat menjadi pentunjuk gambaran sikap Nabi terhadap orang yang kepo dalam hal waktu kiamat adalah pola ungkapan ta’ajjub, tawajju’, tahazzun, tahassur, kalimat zajr, yang kadang juga dinyatakan dengan ungkapan singkat, weeei! Atau  waiiik! (kira-kira dengan nada agak membentak dengan suara yang tidak tinggi, atau dengan mengacungkan telunjuk ke depan mulut, dengan sedikit meghela nafas).

Dalam budaya kita, ungkapan wailak itu kami terjemahkan dengan Welleh!; weleh-weleh!; hallah!; Wooi!; Wai!; Weh-weh-weh! Atau sejenisnya. “Weleh…..koq ngomongin kapan kiamat, to! Emang sudah persiapan apa aja mas?” Jadi, begitulah kira-kira ungkapan keteladanan beliau yang agung. Allâhumma shalli wa sallim ‘alaih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here