Wabah Corona Pun Menginfeksi Penyebaran Hadis Nabi

1
2077

BincangSyariah.Com – Wabah Corona sudah menjadi pandemi global. Itu artinya, ia sudah menyebar lintas negara, ke sebagian besar negara-negara di dunia yang memang aktivitas internasionalnya tinggi. Banyak negara yang sudah ambil keputusan lockdown dan tidak sedikit pula yang mengambil keputusan lain. Masing-masing sudah ada pertimbangan kuat dan komprehensifnya dari berbagai ahli yang ada masing-masing negara itu.

Apa yang kita sampaikan di media sosial dalam bentuk broadcast WA ataupun status FB, postingan IG, cuitan di Twitter maupun jejaring medsos lainnya, saya yakin juga sudah terpikirkan atau bahkan didengar dan dibaca oleh para ahli yang menjadi penasihat dan pemberi pertimbangan pemerintah kita, baik pusat maupun daerah. (Baca: Living Hadis: Corona Mewabah, Literasi Hadis Berubah)

Kita tidak perlu memperkeruh suasana dengan ngotot minta agar pendapat kita dipakai oleh pemerintah kita. Nggak apapa sih ngotot juga, itu memang hak kita dalam berpendapat yang juga dijamin dan dilindungi oleh Undang-undang. Tapi, jika sudah sampai tidak bisa menjaga diksi, pilihan kata dalam tulisan, tidak bisa lagi menjaga lisan, maka yang muncul bukan lagi wabah, namun bala’ syadid (bencana besar), alias wabah yang lebih besar dari wabah corona dan lebih berbahaya. Bukan hanya fisik saja yang terinfeksi, tapi juga psikis; hati, pikiran, dan kejiwaan juga menjadi korbannya.

Sudah sewajarnya pula, sebagai seorang muslim, kita ikut menyikapi Corona dalam akun-akun medsos kita dan menggunakan ayat dan hadis sebagai basis pendapat kita. Tidak ada masalah dalam hal ini. Namun, ketika ayat dan hadis itu kemudian kita jadikan sebagai basis untuk mencaci makin orang lain yang pandangannya berbeda dengan kita, apalagi ternyata pandangan itu juga didasarkan kepada ayat dan hadis juga, maka itulah yang menjadi masalah besar.

Lalu, apakah tepat penggunaan ayat dan hadis dengan cara seperti itu? Karena itu, serahkan saja pada pemerintah kita terkait dengan keputusan nasionalnya. Kalau berkaitan dengan yang sekupnya lokal, ya ikuti saja keputusan pemimpin daerahnya. Kalau kita menyampaikan pandangan, apalagi dengan ayat dan hadis, maka sampaikanlah secara bijak sebagaimana karakter asli ayat dan hadis itu sendiri.

Baca Juga :  Sedekahnya Orang Miskin

Tapi kan, kita kuatir kalau pemimpin kita tidak pandai dalam ilmu agama? Tidak perlu khawatir berlebihan, karena ada sekian banyak umat yang semuanya ikut mengingatkan dan memberi peringatan kepada para pemimpin kita. Ada tim ahli agama juga yang memberikan pertimbangan kepada mereka. Mereka semua orang-orang yang ahli dan bijak, bahkan lebih ahli daripada kita.

Bahkan, ada juga tim dari ahli-ahli di bidang lain. Sedangkan kita, barangkali pertimbangannya hanya satu ayat atau satu hadis saja. Atau paling luasnya, hanya satu bidang saja, yaitu bidang agama saja. Memang urusan agama itu adalah yang paling asasi dan paling utama, dan bahkan pertama. Tapi, kami pastikan bahwa keputusan apapun itu juga pasti berkenaan dan berujung kepada agama.

Ada yang bilang, bahwa urusan nyawa seseorang tidak boleh kalah dengan pertimbangan ekonomi ataupun agama. Tidak perlu khawatir. Seandainya pertimbangan ekonomi pun yang dikedepankan dalam pengambilan kebijaka, ternyata dasarnya adalah kehidupan dan nyawa manusia juga.

Sekarang, kita mulai dari diri kita sendiri saja. Tidak usah menunggu di-lockdown oleh  negara. Kita lock down diri sendiri dan keluarga kita masing-masing. Ya, memang masyarakat kita masih belum melek soal ini, namun inilah saatnya kita saling mengingatkan antar sesama.

Wabah corona ini menariknya lagi adalah telah menginfeksi penyebaran hadis-hadis Nabi. Sengaja saya gunakan diksi seperti ini adalah karena memang kenyataannya penyebaran hadis di media sosial sudah tidak bisa dikendalikan lagi kode etiknya. Padahal, penyebaran hadis itu adalah sama dengan periwayatannya.

Untunglah, selametnya adalah, hadis Nabi saat ini sudah selesai dibukukan dan diedit secara jeli dan digandakan secara massal sejak ratusan tahun yang lalu, sehingga wabah yang sudah menginfeksi penyebaran hadis itu sudah ditemukan obat penangkal dan obat untuk penyembuhannya. Sedangkan untuk corona, masih belum.

Baca Juga :  Orang Munafik di Masa Rasulullah

Kali ini, muncul kelatahan banyak pihak yang menyebarkan hadis-hadis yang dinilai berhubungan dengan corona. Ada yang sahih, ada yang lemah, dan ada pula yang palsu nisbatnya kepada Nabi. Ada pula yang tidak jelas sumbernya (lâ ashla lahû) alias tidak dapat dipertanggungjawabkan nisbatnya kepada Nabi.

Hikmah positifnya adalah kita jadi lebih melek tentang hadis. Hadis-hadis tentang tha’un, kami amati sebagai hadis yang paling viral dalam dua bulan terakhir ini, sejak Januari hingga Maret 2020. Baik itu tentang hakikat tha’un, kisah tentang sikap para sahabat terhadap wabah tha’un, maupun cara penangkalnya yang berupa wudlu, dan sebagainya.

Negatifnya adalah, karena tidak semua penyebaran hadis di media sosial adalah dilakukan oleh para ahli riwayat hadis, akhirnya penyebaran hadis menjadi tidak jelas, alias “terinfeksi wabah corona.” Ini jika para ahli hadis, ahli riwayat hadis, ahli kritik hadis, dan ahli dirayah hadis tidak bergerak secara kompak bersinergi satu sama lain, maka wabah corona ini benar-benar akan menginfeksi penyebaran hadis (riwayat hadis) bahkan juga dirayah hadis.

Satu hal lagi yang penting diketahui adalah, bahwa membaca tentang bahaya virus corona itu menurut hemat kami tidak bisa hanya memakai hadis tentang tha’uni semata. Tha’un dan Corona itu memang sama-sama jenis wabah. Tetapi, keduanya adalah berbeda, dari jenis yang berbeda, karakter yang berbeda. Meskipun, keduanya juga sama-sama disebut mematikan. Jadi, Tha’un dan Corona itu  ibarat ikan lele dan ikan hiu. Keduanya sama-sama jenis ikan, predator mematikan bagi ikan lain, tapi karakternya berbeda. Cara penangkapannya pun berbeda. Harganya pun tidak sama.

Wabah itu ada banyak macamnya. Ada wabah flu. Ada wabah  TBC. Ada wabah MERS. Ada demam berdarah. Ada cacar. Ada folio. Ada juga Tha’un, dan sekarang adalah Corona. Masing-masing berbeda. Jika ada wabah yang dalam hadis disebutkan dapat ditangkal dengan sebatas berwudlu misalnya, maka dalam konteks Corona belum tentu sama. Artinya, wudlu saja belum tentu cukup. Tapi, itu pun entah hadis mana yang dikaitkan dengan jaminan kebebasan dari wabah apapun. Baiklah, memang menyikapi wabah corona dengan menggunakan hadis-hadis tentang wabah tha’un adalah sah-sah saja. Tapi jangan meyamakan secara sama persis.

Baca Juga :  Orang yang Paling Pelit Menurut Nabi

Akibatnya, kita menjadi kepedean. Ada sebuah hadis yang belakangan beredar bahwa orang yang rajin berwudlu, maka akan terlindung dari tha’un. Dalam sebuah riwayat yang dinisbatkan kepada Nabi dan disebut-sebut diriwayatkan oleh Imam Thabarnai bahwa pada akhir zaman nanti akan ada wabah besar dan penyakit. Hanya orang-orang yang rajin berwudlu sajalah yang bisa selamat dari wabah besar tersebut. Lalu kemudian, riwayat itu disandingkan dengan hadis tentang tha’un.

Kita boleh menggunakan hadis itu untuk salah satu motivasi pertimbangan kewaspadaan dengan meningkatkan kerajinan kita dalam berwudlu. Kita juga boleh menggunakan hadis yang masih misterius statusnya itu untuk motivasi berwudlu. Tapi, jangan untuk berfatwa tentang obat dan penangkal Corona. Itu berbeda.

Jika kita sembrono berfatwa soal Corona, hanya menggunakan hadis saja, maka akibat buruknya bisa kembali kepada hadis itu sendiri. Orang bisa tidak percaya lagi dengan hadis nantinya. Tapi, tentu hal ini tetap banyak hikmahnya. Toh, secara medis memang tetap sama dengan anjuran dokter agar kita rajin mencuci tangan. Bahkan, dengan berwudlu, kita sebenarnya lebih dari sekedar mencuci tangan. Sekali lagi, ingat! Bedakanlah antara memotivasi diri untuk berwudlu atau mencuci tangan untuk mencegah dari Corona, itu berbeda dengan berfatwa bahwa wudlu adalah jaminan terhindar dari Corona.

Sekali lagi, jangan juga samakan antara tha’un dengan corona. Corona itu adanya di dalam, dan bisa keluar melalui droplet. Begitu menurut para ahli di bidang virusologi, ilmu pervirusan. Tapi Tha’un, apakah ia jenis virus? Atau jangan-jangan bukan virus? Kalaupun virus, apakah ia virus yang hanya menempel di kulit atau memang virus seperti Corona yang mengganggu alat vital kehidupan kita yang ada di bagian dalam tubuh kita, paru-paru misalnya? Wallahu a’lam.

1 KOMENTAR

  1. […] Hadis ini beredar di masyarakat. Salah satu penyebab peredarannya (sabab irad) dari hadis ini adalah wabah Corona. Adanya perintah mengisolasi diri bagi mereka yang dinyatakan positif, maupun yang dikategorikan sebagai Orang Dalam Pemantauan (ODP) karena pernah berinteraksi dan kontak langsung dengan korban Corona. Tak hanya itu, ia juga beredar sebagai dasar bagi kebijakan atau himbauan social distancing untuk memutus rantai penyebaran Corona. (Baca: Wabah Corona Pun Menginfeksi Penyebaran Hadis Nabi) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here