Viral! Seorang Gadis Berjilbab Nazar Akan Berbikini, Wajibkah Ditepati?

1
769

BincangSyariah.Com – Dilansir dari Liputan6.com, ada seorang gadis berilbab yang bernazar akan berpakaian bikini di bundaran HI. Dalam twitnya, gadis ini bernazar dengan pakaian bikini apabila Timnas U-22 keluar sebagai juara AFF yang diselenggarakan di Kamboja. Alhamdulillah, ternyata Timnas Indonesia keluar sebagai juara AFF U-22, 26 Februari 2019 lalu.

Netizen menagih nazar gadis tersebut dan menyerbu akun twitternya. Mungkin karena sudah tidak tahan dengan bully-an para netizen, gadis tersebut mengahapus twitnya dan memberikan klarifikasi bahwa ia hanya bercanda. Ia juga meminta maaf karena telah membuat sesuatu yang tidak pantas. Ia juga meminta agar para netizen berhenti membully-nya. Lantas, bagaimana hukum dari nazar perempuan tersebut? Apakah harus ditepati atau tidak?

Nazar secara bahasa adalah berjanji untuk melakukan sesuatu. Baik yang bernilai baik ataupun buruk. Adapun secara istilah, nazar menurut Ibnu Qosim adalah (Fathul Qorib),

 التزام قربة غير لازمة باصل الشر

Iltizamu qurbatin ghairu lazimatin biashlisy syar’i

Menyanggupi (untuk melakukan) perbuatan ibadah yang tidak wajib menurut syara’

Berdasarkan pengertian di atas, gadis berjilbab tersebut sah nazarnya secara bahasa namun tidak secara syariat. Karena menurut syariat,  nazar harus berkaitan dengan ibadah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sedangkan nazar perempuan di atas hanya semakin menjauhkan pada Allah Swt. Karena membuka aurat di depan umum sama saja dengan melakukan kedurhakaan pada Allah Swt. yang mewajibkan untuk menutup aurat. Namun dalam segi bahasa, sah-sah saja nazar gadis tersebut. Karena nazar secara bahasa tidak harus berjanji dalam kebaikan, dalam kemaksiatan juga terjadi.

Lalu, bagaimana sebenarnya hukum bernazar dengan melakukan kemaksiatan seperi halnya gadis di atas? Imam Ibnu Qosim menyebutkan bahwa,

Baca Juga :  Taubatlah Sebelum Meninggal, Ini Empat Syarat Taubat Diterima

ولا نذر في معصية اي لا ينعقد نذرهانذرها كقوله ان قتلت فلانا بغير حق فلله علي كذا

Wala nadzro filma’shiyati ay la yan’aqidu nadzaruha kaqoulihi in qotaltu fulanan bighairi haqqin falillahi alayya kadza.

Nazar tidak sah dalam hal kemaksiatan. Dalam artian nadzarnya tidak dihitung sebagai nadzar. Seperti perkataan seseorang bahwa jika aku membunuh fulan dengan tanpa alasan yang dapat dibenarkan, maka Allah berhak atasku hal seperti ini.

Imam Nawawi Al-Bantani dalam Tausyikh Ala Ibni Qosim menambahkan bahwa nazar dalam hal kemaksiatan, baik yang dikaitkan dengan sesuatu ataupun tidak, ia tetap tidak terjadi. Seperti ucapan seseorang yang bernazar “hari ini aku akan minum khamar”. Dalam contoh tersebut nazarnya untuk melakukan kemaksiatan, yakni minum khamar. Menurut beliau nazar seperti tersebut tidak terjadi. Jadi, sebagaimana kasus gadis berhijab yang nazar akan berbikinidi Bundaran Hotel Indonesia, itu juga tidak terjadi. Dalan artian meskipun Indonesia menang, gadis itu tidak perlu berpakaian bikini. Terlepas itu hanya sebuah lelucon atau bukan.

Dalam hal nazar di atas, Rasulullah Saw. bersabda,

ومن نذر ان يعصي الله فلا يعصيه

Waman nadzaro an ya’shiyallaha fala ya’shihi

Barang siapa yang bernadzar akan melakukan kemaksiatan kepada Allah Swt., maka ia tidak perlu bermaksiat pada-Nya. (HR. Bukhari)

لا وفاء لنذر في معصية

La wafa’a linadzrin fima’shiyatin

Tidak ada kewajiban untuk menunaikan nazar dalam hal kemaksiatan. (HR. Muslim)

Jadi, berdasarkan hadis tersebut, gadis yang nazar akan berbikini tidak boleh melakukannya. Karena nazarnya gugur dengan sendirinya. Mengenai denda atau kafarat nazarnya, sebagian ulama mewajibkan dan sebagian lain tidak mewajibkan. Adapun denda dari nazar tersebut adalah sama dengan denda orang yang melanggar sumpah, yaitu memerdekakan budak, atau memberi makan 10 fakir miskin (atau memberikan pakaian yang layak pada 10 orang fakir), atau puasa tiga hari. Ia boleh memilih salah satu dari yang tiga. Ia juga boleh memilih, ikut ulama yang mewajibkan bayar denda atau tidak. Rasulullah Saw. bersabda:

Baca Juga :  Terkait Hukum Waris, Ini Sepuluh Prinsipnya yang Harus Anda Ketahui

ومن نذر نذرا في معصية فكفارته كفارة يمين

Waman nadzaro nadzron fi ma’shiyatin fakaffarotuhu kaffarotu yaminin.

Barangsiapa yang bernadzar dalam hal kemaksiatan, maka dendanya seperti denda melanggar sumpah. (HR. Abu Daud. Namun hadits ini dihukumi mauquf oleh para huffadz. Bulughul Marom,  312-313)

Allah Ta’ala A’lam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here