Viral Disertasi UIN Yogya soal Seks Boleh Tanpa Nikah, Mari Memahami Ayat Budak (Milk al-Yamin) dalam al-Qur’an

4
836

BincangSyariah.Com – Belum lama ini, ada satu disertasi yang ditulis di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mencoba mengkaji pernikahan non-marital perspektif Muhammad Syahrur. Yang dimaksud dengan pernikahan non-marital disini adalah kajiannya terhadap ayat-ayat tentang perbudakan (milk al-yamin). Namun, kajian akademik ini kemudian diberitakan secara tidak berimbang oleh media sehingga tersebarlah judul bahwa ada satu disertasi di UIN Yogyakarta yang menyatakan kalau hubungan intim tanpa nikah itu diperbolehkan. Terkait dengan ini, para penguji dan dipimpin rektor UIN Sunan Kalijaga menjelaskan langsung soal disertasi ini.

Tapi, sebenarnya bagaimana sebenarnya makna Milk al-Yamin dalam al-Qur’an? Apakah berarti Al-Qur’an masih melegalkan perbudakan?

Di dalam al-Quran kita dapat menemukan beberapa ayat yang menyinggung bahasan tentang “perbudakan atau slavery”. Sebagaimana tertera dalam judul, Milk al-Yamin yang dimaknai sebagai hamba sahaya atau budak adalah bentuk nomina dari istilah ma malakat yaminuk atau ma malakat ayamanukum yang tertera dalam al-Quran. Dalam kitab Mu’jam Mufahras Li Alfadz al-Quran, istilah ini tersebar dalam 14 ayat al-Quran mulai dari Al-Nisa: 3 hingga al-Ma’arij: 30.

Keberadaan tema budak dalam al-Quran tidak bisa sefgera disimpulkan bahwa al-Qur’an melegalkan perbudakan. Akan tetapi, itu lebih dimaknai sebagai realitas sejarah bahwa pada saat abad ke-7 M, perbudakan menjadi bagian dari tatanan sosial saat itu di seluruh dunia. Semangat al-Qur’an sebagaimana tertera dalam Q.S al-Nisa: 92; al-Maidah: 89; al-Mujadalah: 3; dan al-Balad: 13 adalah untuk membebaskan perbudakan. Lalu bagaimana kita melihat Milk al-Yamin dalam al-Quran? Dalam tulisan ini, penulis akan mengulas satu ayat yang dapat mewakili ayat lain tentang Milk al-Yamin dengan memakai Q.S al-Ahzab: 50.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالَاتِكَ اللَّاتِي هَاجَرْنَ مَعَكَ وَامْرَأَةً مُؤْمِنَةً إِنْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ أَنْ يَسْتَنْكِحَهَا خَالِصَةً لَكَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ قَدْ عَلِمْنَا مَا فَرَضْنَا عَلَيْهِمْ فِي أَزْوَاجِهِمْ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ لِكَيْلَا يَكُونَ عَلَيْكَ حَرَجٌ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Baca Juga :  Hukum Menyucikan Alquran yang Terkena Najis

“Wahai Nabi! Sesungguhnza Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah engkau berikan maskawinnya dan hamba sahaya yang engkau miliki, termasuk apa yang engkau peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu (sepupu), anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu, yang hijrah bersamamu, dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi ingin menikahinya, sebagai kekhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki agar tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan Allah Maha Pengempun, Maha Penyayang.”

Pemilihan al-Ahzab: 50 sebagai representasi dari ayat lain karena kesesuaian antara semangat al-Quran dan praktik yang dilakukan oleh Nabi sebagaimana telah dijelaskan. Senada dengan penjelasan Ibnu Katsir (w. 774 H/ 1379 M) dalam tafsirnya Tafsir al-Quran al-‘Adzim, Nabi saw tidak pernah menggauli budak perempuan yang dimilikinya kecuali dimerdekakan baru dinikahi dengan cara terhormat.

Padahal ketika itu, di seluruh belahan bumi, budak tidak diperlakukan secara manusiawi, setara dengan benda. Sementara – menurut Ibnu Katsir – di zaman Nabi ada nama Shafiyyah binti Huyayy, yakni istri Nabi dengan gelar Ummul Mukminin, yang merupakan bekas hamba sahaya yang dimerdekakan oleh Nabi. Ada pula Juwairiyyah binti al-Harits dan Raihanah al-Quraizhah, bekas budak yang dimuliakan berkat ajaran Islam dan pembawa risalahnya Nabi Muhammad saw. Begitu pun Mariyah al-Qibtiyah yang dipersunting Nabi dan mempersembahkan putra bagi Nabi, Ibrahim.

Menurut Quraish Shihab dalam tafsirnya Al-Mishbah, ayat-ayat semacam ini perlu dipahami sebagai cara al-Quran untuk menghapus perbudakan secara gradual. Pada masa itu, perbudakan belum bisa langsung dihilangkan secara sekaligus. Kehidupan para budak masih sangat bergantung pada tuannya, baik sandang, pangan, maupun papan. Bila al-Quran menghapus perbudakan sekaligus, akan terjadi problem sosial sebagaimana terjadi PHK besar-besaran.

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Maun: Tanpa Saleh Sosial, Saleh Ritual Masih Tergolong Pendusta Agama

Praktik Nabi saw. menikahi bekas budak perempuan, adalah cara Nabi mengajarkan bahwa Islam tidak memandang seks sebagai sesuatu yang kotor jika disalurkan melalui relasi yang legal. Diperbolehkannya menggauli budak perempuan juga dapat dipahami sebagai langkah al-Quran untuk menghapuskan perbudakan. Karena pada masa itu, anak yang lahir dari hamba sahaya dan tuannya, maka statusnya adalah orang yang merdeka.

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here