Viral Bu Tejo yang Julid dan Kegemaran Gibah yang Mesti Disadari

1
1213

BincangSyariah.Com – Saat asyik mengobrol, kita kerap kesulitan membedakan mana yang merupakan bagian dari pertukaran informasi dan mana yang merupakan ghibah dan fitnah. Memang ada tipe manusia yang suka bergosip, bukan hanya perempuan, laki-laki pun banyak yang suka bergosip.

Tipe manusia yang seolah tahu tentang segala hal, tapi jika disanggah, ada saja cara yang diperoleh untuk berkelit. Eksistensi manusia tipe ini didukung dengan kehadiran para pengikut setianya yang siap sedia mendukung segala argumen-argumennya.

Bu Tejo, pemeran utama dalam film Tilik (2018) yang memiliki karakter ceplas-ceplos, julid, dan cerewet, viral di Twitter. Karakternya yang julid membuat netizen ramai-ramai mengapresiasi. Apresiasi yang datang pun beragam. Ada yang memujinya, ada pula yang mengkritiknya. (Baca: Empat Keutamaan Menjenguk Orang Sakit dalam Islam)

Salah satu kutipan Bu Tejo yang terkenal adalah kalimat berikut: “Dadi wong ki mbok yo sing solutip ngono lho.” Kalimat ini diucapkan Bu Tejo dengan nada sombong. Kalimat dalam bahasa Jawa tersebut berarti “jadi orang tuh ya yang solutif gitu lho.”

Film Tilik bercerita tentang tradisi menjenguk warga desa yang sedang sakit secara bersama-sama, beramai-ramai. Kebiasaan ini ada di masyarakat Yogyakarta, yang juga menjadi latar tempat film ini. Dinamika film terjadi sepanjang perjalanan dengan truk menuju rumah sakit yang menggosipkan Dian, salah seorang gadis penduduk desa.

Sang sutradara, Wahyu Agung dan penulis skenarionya, Bagus Sumartono, menghadirkan aneka ragam karakter manusia. Lahirlah Bu Tejo, si playmaker pergosipan. Kemampuan mengarahkan Wahyu dan akting Bu Tejo (Siti Fauziyah) sangat bagus sehingga sulit bagi penonton untuk tidak sebal dengan karakter Bu Tejo yang juga bisa disebut sebagai manifestasi dari “Lambe turah.”

Baca Juga :  Hukum Melukis Wajah dalam Islam

Bagaimana Islam memandang dunia perjulidan ini?

Salah satu cara paling efektif menjauhi perbuatan gibah seperti apa yang dilakukan Bu Tejo adalah dengan kesadaran diri. Manusia biasa tak pernah luput dari kesalahan dan khilaf. Maka dari itu, belum tentu orang yang dipergunjingkan lebih rendah daripada diri pelaku penggunjing sendiri.

Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Al-Ahzab Ayat 58:

 وَٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ بِغَيْرِ مَا ٱكْتَسَبُوا۟ فَقَدِ ٱحْتَمَلُوا۟ بُهْتَٰنًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

Wallażīna yu`żụnal-mu`minīna wal-mu`mināti bigairi maktasabụ faqadiḥtamalụ buhtānaw wa iṡmam mubīnā

Artinya: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”

Tanpa kita sadari, bergunjing hanya menambah dosa. Sementara itu, subjek yang dipergunjingkan bisa berkurang dosanya dan bertambah pahala atasnya.

Kadang, seseorang terbiasa bergunjing karena merasa bahwa kabar yang diterimanya adalah kebenaran. Padahal, tanpa klarifikasi atau tabayyun, bisa jadi persebaran kabar itu menjurus pada hoaks dan bahkan fitnah. Ketidaksadaran tersebut tentu menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat, khususnya kaum Muslimin.

Karena itulah, sejak awal, Islam telah memerintahkan sekalian manusia untuk menjauhi prasangka buruk yang menjadi awal dari bahan gibah. Bahkan, para pelaku gibah sampai diibaratkan sebagai orang yang suka kalap dan memakan bangkai saudaranya sendiri.

Dalam surah al-Hujurat ayat 12, Allah Swt. berfirman sebagai berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Yā ayyuhallażīna āmanujtanibụ kaṡīram minaẓ-ẓanni inna ba’ḍaẓ-ẓanni iṡmuw wa lā tajassasụ wa lā yagtab ba’ḍukum ba’ḍā, a yuḥibbu aḥadukum ay ya`kula laḥma akhīhi maitan fa karihtumụh, wattaqullāh, innallāha tawwābur raḥīm

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Baca Juga :  Hukum Melangkahi Kuburan Dalam Islam

Mengobrol lama-lama, berdiskusi dan bermusyawarah sangat boleh dilakukan selama bertujuan untuk bertukar informasi dan memutuskan sesuatu. Tapi, jika obrolan sudah mengarah ke prasangka buruk dan berujung gibah, kita mesti segera mengendalikan. Sebab, gibah tak hanya merugikan diri sendiri, tapi juga merugikan orang lain, bahkan orang banyak. Apa yang disampaikan dalam gibah tidak sepenuhnya benar, bahkan cenderung menuju ke fitnah.[]

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here