Viral, Benarkah Kata Ijazah Satu Akar Kata dengan Mukjizat?

1
955

BincangSyariah.Com – Semenjak pembubaran ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pasca kalah di PTUN, sekelompok orang yang pro dengan HTI bersikeras masih tetap membela ormas yang kini terlarang itu. Menariknya, di sela-sela sekian banyak pembelaan itu, terselip berita viral salah satu Guru Besar di sebuah universitas ternama yang menganggap kata ijazah merupakan kosakata bahasa Arab yang memiliki akar kata yang sama dengan mukjizat. Benarkah pernyataan seperti itu? Mari kita kupas.

Kedua kosakata tersebut memang merupakan kosakata bahasa Arab yang diserap ke dalam bahasa Indonesia. Keduanya sudah ada di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi pertama. Kata ijazah dalam KBBI bermakna  ‘surat tanda tamat belajar; sijil’; dan ‘izin yang diberikan oleh guru kepada muridnya untuk mengajarkan ilmu yang diperoleh si murid dari gurunya’. Sementara itu, kata mukjizat dalam KBBI bermakna ‘kejadian (peristiwa) ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia’.

Berbicara akar kata tidak terlepas dari ilmu etimologi. Dalam bahasa Arab disebut dengan al-isytiqaq (الاشتقاق). Dalam konteks ini, kita tidak akan mengulas tentang al-isytiqaq lebih detail. Namun kita justru akan melihat langsung kedua kata tersebut apakah berasal dari akar kata yang sama, seperti yang disampaikan Guru Besar itu, atau justru sangat berbeda?

Kata ijazah dalam KBBI menyerap kata bahasa Arab ijāzah (إجازة). Kata bahasa Arab ini berasal dari akar j-w-z (جوز). Menurut Ibn Faris dalam kamus Maqayisul Lughah, akar kata tersebut memiliki tiga makna etimologis; (1) memotong; (2) berada di pertengahan; dan (3) berjalan. Menurut Ibn Faris, kata ijāzah masuk dalam kategori makna etimologis yang ketiga. Ibn Faris menafsirkan kata ajāza (أجاز), bentuk verba dari ijāzah (إجازة), dengan nafadza (نفذ) yang berarti ‘memberikan jalan’.

Baca Juga :  Fragmen Gus Baha: Belajar Meyakini Kekuasaan Allah lewat Nyamuk

Karena itu, orang yang sudah mendapatkan ijazah sekolah, universitas misalnya, diberikan jalan untuk melanjutkan langkah berikutnya untuk melanjutkan jenjang berikutnya, baik di bidang pendidikan atau melanjutkan pekerjaan. Santri yang sudah diberikan ijazah membaca wiridan terntentu berarti sudah diberikan jalan oleh kiainya untuk langsung melakukannya.

Sementara itu, kata mukjizat dalam KBBI diserap dari mu’jizah (معجزة). Dalam kaidah penyerapan bahasa Indonesia dari bahasa Arab, konsonan ‘ain (ع) dalam bahasa Indonesia berubah menjadi konsonan k, dan ta marbuthah (ة) bila diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi h. Seharunya menjadi mukjizah.

Menurut Uri Tadmor dalam artikelnya Loanwords in Indonesian, beberapa serapan bahasa Indonesia yang berakhiran at kemungkinan menyerap melalui bahasa Persia terlebih dahulu, sehingga dalam bahasa Indonesia berbunyi mukjizat, bukan mukjizah. Terkait kata tersebut, bahasa Persia pun menyerap dari bahasa Arab. John Richardson dalam kamus A Dictionary Persian, Arabic, and English (hlm 955) memasukan lema atau kosakata mu’jizat (معجزة) yang berarti a miracle ‘keajaiban’.  

Kata mu’jizah berasal dari akar kata ‘a-j-z (عجز), yang menurut Ibn Faris memiliki dua makna etimologis; (1) lemah dan (2) bagian akhir. Makna etimologis kata mu’jizah (معجزة) kembali pada makna yang pertama. Karena mu’jizah (معجزة) merupakan bentuk derivasi dari a’jaza (أعجز) yang berarti ‘melemahkan’.

Dalam buku-buku teologi yang dipelajari di pesantren, mukjizat didefinisikan dengan ‘segala bentuk keajaiban yang Allah berikan pada para nabi-Nya untuk mengukuhkan kenabian mereka’. Nabi Musa diberi mukjizat berupa tongkat, Nabi Isa bisa membangkitkan jenazah. Nabi Muhammad diberi mukjizat berupa Alquran.

Mengapa semua pemberian yang ajaib itu dinamakan mukjizat? Ini karena semuanya itu diberikan oleh Allah Swt. kepada mereka untuk melemahkan lawan-lawan para nabi yang selalu memusuhi. Musuh-musuh para nabi itu tidak mampu menandingi mukjizat-mukjizat tersebut.

Baca Juga :  Yang Menjadi Ukuran Derajat Manusia adalah Takwa

Kesimpulannya, jelas kata ijazah dan mukjizat berasa dari dua akar kata yang berbeda. Ini contoh kecil kekeliruan sederhana yang dilakukan para pembela HTI, sekalipun setingkat Guru Besar. Menentukan dua kosakata yang berbeda akar kata saja keliru fatal, bagaimana mungkin mereka yang membela HTI dapat memahami khazanah ulama klasik dengan baik, dan dapat mengejawantahkan nilai-nilai subtansial kekhilafahan yang mereka perjuangkan untuk konteks keindonesiaan?!

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here