Viral Banser Nazar Jalan Kaki Lampung – Jakarta, Bagaimana Hukumnya?

0
402

BincangSyariah.Com – Dengan berjalan kaki Maskhun Arif Hidayat (48), seorang Banser dari Lampung, akhirnya tiba di kantor PBNU Jakarta dan Istana Negara, hari ini (17/07/19).

Perjalanan jauh yang ditempuh dengan berjalan kaki dari kampungnya itu, merupakan janji yang ia nazarkan jika Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin menang dalam pemilu kali ini. Maskhun memerlukan waktu 15 hari untuk melakukan perjalanan Lampung-Jakarta guna memenuhi nazar tersebut. Sebenarnya bagaimana hukum nazar yang dilakukan Maskhun?

Baginda Rasulullah pernah meilhat seorang lelaki pergi mengerjakan haji dengan berjalan kaki. Rasulullah bertanya, ” mengapa orang tersebut? Mereka menjawab, “Ya Rasul dia bernazar pergi haji dengan berjalan kaki. Kemudian baginda bersabda

إن الله عن تعذيب هذه نفسه لغني مروه فليرتكب

“Sesungguhnya Allah tidak butuh dengan penyiksaan dirinya itu, suruhlah dia agar naik kendaraan” (HR. Bukhari & Muslim)

Dalam riwayat Abu Dawud, juga dikisahkan Rasul pernah menyuruh perempuan yang nazar berjalan kaki untuk haji agar naik kendaraan. Berdasarkan hadis-hadis ini, dapat dipahami bahwa mlakukan perjalanan termasuk perkara mubah , dalam artian nazar boleh dilaksanakan dan boleh tidak dilaksanakan, nazar yang demikian tidak wajib ditepati. Tapi jika nazar yang dilakukan berat dan dianggap dapat menyiksa diri sendiri bahkan tidak mengapa jika ditinggalkan.

Berdasarkan pendapat mayoritas ulama, tidak wajib menepati nazar mubah. al-Qurthubi dalam Ahkam al-Quran mengatakan, “Adapun nazar mubah maka tidak wajib untuk menepatinya, sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadis shahih.”

Akan tetapi, menurut Ibnu Qudamah dalam al-Mughni, ulama berbeda pendapat apakah orang tersebut wajib mengeluarkan kafarat (denda) atau tidak. Di antara yang mewajibkan golongan ulama Hanabilah dan sebagian besar ulama salaf dari Hanafiyah. Sedangkan menurut Malik dan Syafi’i tidak wajib, diperbolehkan orang tersebut meninggalkan nazar mubah tanpa bayar kafarat.

Baca Juga :  Viral! Seorang Gadis Berjilbab Nazar Akan Berbikini, Wajibkah Ditepati?

Banyak yang mengira bahwa nazar merupakan sebab tercapainya apa yang diidamkan. Ini merupakan prasangka yang salah. Dalam hadis dikatakan

إِنَّ النَّذْرَ لَا يُقَدِّمُ شَيْئًا وَلَا يُؤَخِّرُ، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِالنَّذْرِ مِنْ الْبَخِيلِ

“Sesungguhnya nazar tidak menyegerakan sesuatu dan tidak pula bisa menangguhkannya. Nazar ini hanya dilakukan oleh orang yang bakhil” (HR. Bukhari Muslim)

Hadis ini merupakan larangan mengandalkan nazar, bahwa nazar tidak membantu terjadi atau tidaknya sesuatu. Allah mengabulkan sesuatu bukan karena nazar yang dilakukan seseorang tapi memang Dia berkehendak demikian. Tapi meski demikian dalam hadis lain, Rasul menegaskan bahwa  nazar wajib ditepati dan jika tidak ditepati karena yang dinazarkan merupakan kemaksiatan tetap diwajibkan membayar kafarat meskipun masih terdapat perbedaan pendapat. Seperti dalam sebuah hadis dikatakan

قال النبي صلى الله عليه وسلم : من نذر أن يطيع الله فليطعه ، ومن نذر أن يعصيه فلا يعصيه. رواه البخاري

Nabi Muhammad Saw bersabda, “Barang siapa yang bernazar ketaatan kepada Allah maka lakukanlah ketaatan kepada-Nya, barang siapa yang bernazar kemaksiatan kepada Allah maka jangan lakukan kemaksiatan kepada-Nya.” (HR. Bukhari)

Berdasarkan hadis tersebut, dilihat dari apa yang dinazarkannya, nazar bisa berhukum wajib jika nazar ketaatan, haram jika nazar kemaksiatan dan mubah jika nazar sesuatu yang boleh dilakukan (mubah). Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here