Hukum Utang Mata Uang Dolar, Boleh Bayar Pakai Rupiah Atau Harus Dolar?

1
937

BincangSyariah.Com – Ada sebuah kasus bahwa ada seseorang yang berutang pada tahun 2000. Saat itu pinjamnya adalah dalam bentuk mata uang dolar, dengan kurs senilai 9.000 rupiah per dolar. Karena saat itu yang dipinjami tinggal di Amerika, maka uang itu ditransfer melalui rekening bank antar negara. Uang diterima dalam bentuk rupiah oleh pihak yang berutang. Jika pinjamnya adalah uang 200 USD, maka uang yang diterima saat itu adalah senilai 1.800.000 rupiah. Uang yang tidak kecil nilainya di tahun-tahun tersebut.

Nah, lama tidak terdengar kabar beritanya, baru kemudian tahun 2020, tiba-tiba pihak yang mengutangi sudah kembali ke Indonesia dan bergegas menagih utang yang pernah diberikannya kepada orang tersebut. Di sinilah perselisihan itu terjadi. Permasalahannya adalah uang itu harus dikembalikan dalam bentuk dolar, ataukah dalam bentuk rupiah?

Pertama, pihak yang mengutangi, menagih agar utang itu ditunaikan dalam bentuk mata uang dolar, yang berarti 200 USD. Alasannya, ia mengeluarkan uang itu dalam bentuk dolar. Kedua, pihak yang utang, berkeinginan mengembalikannya dalam bentuk uang rupiah, yang berarti utangnya adalah senilai 1.800.000 rupiah.

Padahal, kurs mata uang dolar saat ini, sudah tembus ke angka 16.500 rupiah per USD, maka itu artinya, jika utang itu disampaikan dalam bentuk dolar, maka total uang yang harus dibayar adalah 16.500 rupiah x 200 USD, sehingga sama dengan 3.300.000 rupiah.

Permasalahan ini, sebenarnya berakar dari adat/kebiasaan perbankan, yang mana setiap valuta asing yang masuk dan ditransfer ke Indonesia, maka secara otomatis akan dirupakan menjadi rupiah. Sebaliknya, uang rupiah yang ditransfer ke negara lain, maka secara otomatis uang itu akan dikonversi menjadi mata uang negara lain di negara penerimanya. Jadi, mekanisme jual beli valuta itu terjadi seiring kebijakan negara lewat perbankan.

Baca Juga :  Hukum Transaksi Jual Beli dengan Mesin, Apakah Boleh?

Takyif fikih (rekayasa akad) dari proses transfer itu seolah berbunyi begini: “Muqridl (pemberi utang) meminjami uang muqtaridl (penerima utang) senilai 200 USD. Lalu ia mengangkat wakil bank yang ia percaya, untuk mengirimkan uang tersebut ke bank yang dituju dan menjadi wakil muqtaridl di Indonesia, lengkap dengan prosedur yang harus dijalani. Pihak bank yang menjadi wakil muqridl, selanjutnya melakukan transaksi jual beli valuta asing secara spot dengan bank wakil muqtaridl. Dari hasil transaksi ini, didapatkan bahwa uang tersebut senilai 1.800.000 rupiah.”

Jika menyimak runutan akad sebagaimana disebutkan ini, maka dapat disimpulkan bahwa hukum yang berlaku atas uang itu adalah senilai 200 USD. Sebab, konversi uang dari USD ke rupiah adalah dilakukan sesama wakil, selaku pihak yang berakad secara langsung, sehingga serah terimanya pun (qabdl) juga diwakili olehnya. Wakil muqtaridl, awal mulanya menerima uang 200 USD itu. Pengkonversian, adalah merupakan praktik jual beli uang antara wakil muqtaridl dengan muqtaridl-nya. Oleh karenanya, akad ini sudah tidak ada hubungannya dengan pihak wakil muqridl.

Ibn Al-Mundzir di dalam Syarah al-Bukhari li ibn Bathal, menyampaikan hal ini sebagai berikut:

أجمع كل من نحفظ عنه من أهل العلم أن الوكالة في الصرف جائزة، ولو وكل رجل رجلا يصرف له دراهم، ووكل آخر يصرف له دنانير، فالتقيا وتصارفا صرفا جائزا، أن ذلك جائز، وإن لم يحضر الموكلان أو أحدهما

Artinya:

Telah bersepakat semua orang yang kami kenali sebagai ahli ilmu, bahwasanya mengangkat akad perwakilan di dalam akad pertukaran barang ribawi (sharf) adalah boleh. Andaikata ada seorang laki-laki mewakilkan kepada orang lain agar melakukan pertukaran dirham yang dimilikinya, kemudian ada laki-laki lain mewakilkan kepada pihak selainnya agar melakukan pertukaran ribawi terhadap dinar yang dimilikinya, dan kemudian tidak disangka keduanya sama-sama bertemu di dalam suatu majelis dan mengadakan akad pertukaran dua barang ribawi tersebut dengan akad yang dibolehkan syariat, maka pertukaran itu hukumnya adalah boleh. Kendati kedua pihak yang mewakilkan tidak hadir di majelis, atau salah satunya.” (Abu al-Hasan Ibn Ali Ibn Khalaf al-Maliki, Syarah Al-Bukhari li ibn Bathal, Riyadl: Maktabah al-Rusyd, tt., Juz 6, halaman 436)

Baca Juga :  Lima Bukti Pancasila Sesuai Syariat Islam

Dengan menyimak penjelasan di atas, maka pihak muqtaridl, kedudukannya adalah sama dengan wakil muqtaridl di dalam penerimaan USD, kendati pihak muqtaridl tidak hadir di tempat. Alhasil, maka berlaku ketentuan lain mengenai utangnya, yaitu:

(ويرد) فى القرض (المثل فى المثلى) لأنه أقرب إلى حقه ولو فى نقد بطل التعامل به (و) يرد (فى المتقوم المثل صورة) لأنه اقترض بكرا ورد رباعيا وقال إن خياركم أحسنكم قضاء رواه مسلم

Artinya:

Utang dikembalikan dengan rupa al-mitslu fi al-mitsly (sama wujud barangnya), karena kedekatannya dengan hak orang yang memberi hutang (muqridl), meskipun dalam kasus emas dan perak yang batal muamalahnya. Demikian juga, barang nominal (mutaqawwam) dikembalikan dengan barang yang sama wujudnya (sama-sama mutaqawwam), karena beliau Nabi SAW pernah meminjam unta bakar dikembalikan dalam rupa unta ruba’iy (sama-sama untanya), kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya, orang paling baiknya kalian adalah orang yang paling bagus dalam membayar hutangnya.” HR. Muslim. (Syekh Muhammad Khotib Al-Syirbiny, Mughny al-Muhtāj ilā Ma’rifati Ma’āniy Alfādhi al-Minhāj, Beirut: Daru al-Fikr, tt: 119)

Menyimpulkan dari definisi di atas, maka hal yang berlaku atas utang itu adalah mengembalikan dalam rupa dolar, sebab, wakil muqtaridl adalah menerima dalam bentuk dolar. Alhasil, yang wajib ditunaikan adalah 200 USD, atau setara dengan 3.300.000 rupiah, dengan kurs 16.500 rupiah per USD. Wallahu a’lam bi al-shawab

1 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Dolar, Rupiah, Rupee, Ringgit, Yen, atau Euro itu seluruhnya merupakan nama atau istilah bagi currency atau satuan mata uang suatu negara. Sebagai mata uang, maka ia memiliki peran pokok, yaitu merupakan wasilah perdagangan. Ia merupakan al-mi’syari al-syar’i (kalibrasi syara’) yang menyatakan timbangan atau ganti dari suatu nilai barang dan menyatakan kekayaan. Namun, karena antara mata uang satu dengan mata uang lainnya, keduanya acap menunjukkan kecenderungan kurs yang berbeda akibat pergerakan pasar, maka dia dipandang oleh para pialang currency sebagai wahana investasi yang baru. (Baca: Hukum Utang Mata Uang Dolar, Boleh Bayar Pakai Rupiah Atau Harus Dolar?) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here