M. Quraish Shihab: Penyebab Utama Paham Radikalisme Adalah Kebodohan

0
484

BincangSyariah.Com – Kelompok radikal yang kerap mengatasnamakan Islam sebenarnya telah kehilangan jati diri Islam itu sendiri sebagai agama yang luhur dan mulia. Wajah Islam yang seharusnya penuh keindahan, keramahan dan toleran beralih penuhuh kebencian, kemurkaan dan intoleran. Alih – alih menebar kebaikan, mereka justru membuat resah dan gelisah masyarakat.

Dalam sebuah talkshow Shihab & Shihab episode Radikalisme Tanda Kebodohan, seseorang bertanya kepada Abi Quraish, ”saya mau bertanya, apa saja yang harus dilakukan oleh kita agar tidak terpengaruh oleh paham – paham radikalisme yang dapat memecah belah persatuan bangsa Indonesia ?”

Pakar tafsir kenamaan di Indonesia itu menjawab, “Faham – faham yang sesat, faham – faham radikalisme itu salah satu penyebab utamanya adalah kebodohan. Jadi kita harus banyak mempelajari agama kita. Kita harus mempelajari situasi yang kita hadapi sehingga faham – faham tersebut tidak memengaruhi kita”. Poin yang bisa kita cermati di sini adalah menghilangkan kebodohan dengan cara belajar dan memahami situasi.

Belajar memang erat kaitannya dengan menghilangkan kebodohan, sebab itu merupakan salah satu tujuan utamanya. Sebagaimana Syekh Az-Zarnuji dalam Ta’lim Muta’allim, berkata bahwasanya niat belajar atau mencari ilmu diantaranya ditujukkan untuk menghilangkan kebodohan bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Berdasarkan landasan inilah, maka ketika seorang santri baru datang ke pesantren, mereka ditekankan oleh kyai pengasuh, atau kakak-kakak santri yang membimbing bahwa tujuan mereka datang ke pesantren adalah semata – mata untuk menggapai ridha Allah dan menghilangkan kebodohan. Jargon niat belajar ini biasanya dibingkai sedemikian rupa lalu dipajang di setiap bilik kamar santri sebagai pengingat.

Menghilangkan kebodohan menjadi begitu penting sebab dampak dari kebodohan amat mengerikan dan membahayakan. Dia sanggup menggelapkan apa yang seharusnya terang serta menghitamkan apa yang seharusnya putih. Tak ayal dalam suatu riwayat dikatakan, dasar pembelot menentang ajaran dakwah para anbiya tiada lain disebabkan oleh kebodohan mereka.

Baca Juga :  Di Rumah Tidak Ada Orang, Apakah Tetap Disunahkan Mengucapkan Salam?

Begitu pula para simpatisan paham radikalisme, Abi Quraish mengungkap para oknum ini adalah orang-orang bodoh yang tidak mengenal agama Islam. Beliau berkata “Yang dipengaruhi itu orang bodoh, yang dipengaruhi itu orang yang tidak mengenal agama ini.

Para alim ulama baik salaf maupun khalaf telah mensinyalir bahaya kebodohan. Ibn al-Qayyim Al-Jauziah, dalam kumpulan qasidahnya,  Al-Kafiyah As-Syafiyah mendendangkan, “Kebodohan adalah panyakit yang mematikan, obatnya adalah dua komponen yang telah disepakati dari nash Al Qur’an dan Sunnah. Dan dokternya adalah seorang alim rabbani.”

Senada dengan Ibn al-Qayyim, Syekh Burhanuddin mengatakan bahwa orang yang tekun beribadah tapi bodoh, bahayanya lebih besar dari pada orang alim tapi durhaka. Keduanya adalah penyebab fitnah di kalangan umat, dan tidak layak dijadikan panutan.

Kelompok radikal mencoba melakukan perubahan besar – besaran dalam tatanan kehidupan manusia dengan cara kekerasan dan pemaksaan. Mereka memonopoli kebenaran hanya milik kelompok mereka sendiri. Ini tentu menjadi berbahaya karena sering kali mempersekusi privasi orang lain. Tentu paham seperti ini jauh dari ajaran Islam yang terkenal penuh rahmat dan kasih sayang.

Abi Quraisy secara tegas menuturkan, “Agama ini agama yang penuh kedamaian tidak mungkin dia mengajak pada keburukan. Nabi bersabada, tidak ada sesuatu yang disertai kelemahan lembutan kecuali baik, tidak ada sesuatu yang disertai dengan kekejaman kekerasan kecuali buruk. Agama ini menghendaki damai.”

Disamping itu, implementasi dari ilmu yang telah diperoleh tidak bisa dilakukan secara serampangan. Dibutuhkan pemahaman mendalam atas situasi dan kondisi yang tengah dihadapi. Kita perlu menimbang dengan cermat sebelum bertindak. Hal ini bertujuan agar apa yang akan dilakukan bisa berjalan sesuai target dan optimal.

Baca Juga :  Hukum Puasa Bagi Sopir Bus Antar Kota

Sebaliknya, seseorang yang tidak memedulikan situasi cenderung terburu – buru dan sembrono, sehingga apa yang ia lakukan alih – alih mendekatkan justru menjauhkan dia dari tujuan yang ingin dicapai.

Diakhir perbincangan Prof. Quraish beserta putrinya Najwa Shihab, mengingatkan kita agar selektif mencari guru agama. Menurut penulis, agama Islam adalah agama ilmu pengetahuan. Selayaknya ilmu pengetahuan, untuk mendapatkannya dibutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Sehingga sudah selayaknya tugas seorang guru agama diemban oleh mereka yang benar-benar telah menempuh perjalanan intelektual sampai matang dan kompeten.

Sementara bagi mereka yang baru mempelajari Islam satu dua hari, ada baiknya untuk tidak tampil dulu layaknya ulama papan atas. Akan lebih bijak jka waktunya lebih banyak dipergunakan untuk memperdalam Islam terlebih dahulu, sehingga apa yang disampaikan tidak melenceng dan tidak menyesatkan umat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here