Ustz. M. Quraish Shihab: Membaca Harus Kritis !

1
412

BincangSyariah.Com – “Kapan saja ada waktu, saya membaca. Di mana saja ada tempat, saya menulis. Di kantor, di pesawat, dan lain-lain.”

Ungkap singkat al-Habib Muhammad Quraish Shihab (MQS) mengenai keseharian beliau.

“Setelah subuh, saya membaca wiridan sepuluh menit. Setelah itu saya membuat teh (yang seringkali menemani beliau dalam menulis). Setelah itu saya menulis sampai jam 8.”

Saya mengajukan pertanyaaan kepada beliau; “bagaimana seorang al-Habib MQS berinteraksi dengan kitab tafsir, baik itu dari sunni maupun syiah, baik itu kitab tafsir level pemula, level menengah dan level tinggi. Bagaimana beliau berinteraksi dengan kitab-kitab tafsir selama sekitar 60 tahun?”

Beliau menjawab:

“Pertama: pilih-pilihlah buku yang Anda baca. Karena terlalu banyak buku itu. Salah satu yang perlu dipertimbangkan adalah pengarang. Anda ingin belajar tafsir, tapi yang ngarang bukan pakar di bidang tafsir.”

“Jangan pernah menilai kebenaran dari orang. Tapi nilailah kebenaran dari ide. Saya mau beri contoh dari Alqur’an.”

“Ada orang-orang di masa Nabi yang menilai kebenaran bukan dari ide terdapat dalam Islam. Tetapi karena melihat akhlaknya Nabi Muhammad saw. Cara itu sekarang tidak bisa lagi digunakan.”

“Ada tiga cara orang menilai ide. Nilailah sebuah ide dari faktor intern yang ada dalam ide tersebut.”

“Pada zaman Nabi, ada orang-orang yang masuk Islam karena melihat wajah Nabi. Alquran tidak mau seperti itu. Walaupun ada jaminan dari Alquran, Nabi itu benar. Maka Alqur’an turun:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?“ (Ali ‘Imran: 144)

Baca Juga :  Pemerintah Mesir Anugerahi Bintang Tanda Kehormatan Kepada Prof. Dr. M. Quraish Shihab

“Nabi Muhammad itu Rasul yang bisa meninggal. Apakah ketika ia meninggal, kamu tinggalkan ide tersebut ketika idola kamu telah meninggal?”

“Itu sekarang. Anda mau baca, kritis. Bisa jadi apa yang dianggap benar dulu, sekarang sudah dianggap tidak benar.”

“Pendapat-pendapat ulama yang lalu dalam tafsir, banyak yang istimewa tapi buat masanya. Sekarang tidak. Imam Fakhr al-Din al-Razi itu beberapa pendapatnya sekarang sudah tidak relevan lagi.”

“Membaca harus kritis !” pungkas beliau.

Yang membuat saya terkagum, meski telah mencapai gelar presitius, doktoral dalam bidang Tafsir di al-Azhar dalam waktu yang sangat singkat, beliau terus membaca. Tidak peduli titel yang telah didapat, membaca tiada kata akhir. Bahasa tubuh beliau lebih fasih mengungkapkan kecintaan beliau kepada buku dibanding bahasa lisannya. Beliau pernah melontarkan canda:

“Sebenarnya sejak lama saya sudah poligami.” Dalam sedih dan duka, beliau mencurahkan kepada istri pertama itu. Ketika ditanya siapa istri pertama itu, beliau menjawab:

“Buku!”

1 KOMENTAR

  1. subhanallah,, semoga Allah memanjangkan umur beliau, karena beliau konsisten menyebarkan islam yg wasathiyyah / moderat,, yg mencerdaskan ummat,, mengikis fanatisme pemikiran,, sehingga menciptakan kondisi keberagamaan yg sejuk, arif bijak, ramah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here