Urutan yang Boleh Menjadi Wali Nikah

0
20

BincangSyariah.Com – Dalam kitab–kitab fiqih, para ulama kita telah merumuskan ada lima rukun yang harus dipenuhi untuk melangsungkan akad pernikahan. Lima rukun tersebut adalah: wali, dua orang saksi, shighot, calon mempelai laki–laki dan perempuan. Artikel singkat ini akan menjelaskan urutan yang boleh dijadikan wali oleh mempelai perempuan.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, bahwasanya ketika melangsungkan pernikahan itu yang membutuhkan wali adalah calon mempelai wanita, bukan laki–laki. Penjelasan ini sudah banyak dibahas oleh para ulama fiqih, diantaranya adalah Syekh Muhammad bin Qosim al–Ghozi dalam karyanya Syarh Fath al-Qarib.

Beliau menerangkan bahwasanya urutan yang boleh menjadi wali nikah adalah sebagai berikut,

  1. Bapak
  2. Kakek hingga ke atas apabila wali yang lebih dekat tidak ada
  3. Saudara sebapak
  4. Ponakan dari saudara sekandung
  5. Paman
  6. Anaknya paman
  7. Pemerdeka Budak
  8. Hakim (Pengadilan)

Ketentuan diatas, apabila wali yang lebih dekat tidak ada  maka urutan yang boleh dijadikan wali nikah adalah urutan yang paling dekat setelahnya. Jadi, semisal bapaknya masih ada, maka bapak bisa dijadikan wali nikah oleh mempelai perempuan. Apabila bapaknya meninggal, maka boleh digantikan oleh kakeknya. Jadi jelas, harus mengutamakan yang lebih dekat terlebih dahulu.

Keteranga diatas diambil dari kitab ٍSyarh Fath al-Qarib di bab nikah pasal kedua sebagaimana berikut :

(وأولى الولاة) أي (أحق الأولياء بالتزويج الأب ثم الجد أبو الأب) ثم أبوه وهكذا ويقدم الأقرب من الأجداد على الأبعد (ثم الأخ للأب والأم) ولو عبر بالشقيق لكان أخصر (ثم الأخ للأب ثم ابن الأخ للأب والأم) وإن سفل (ثم ابن الأخ للأب) وإن سفل (ثم العم) الشقيق ثم العم للأب (ثم ابنه) أي ابن كل منهما وإن سفل (على هذا الترتيب) فيقدم ابن العم الشقيق على ابن العم للأب (فإذا عدمت العصبات) من النسب (فالمولى المعتق) الذكر (ثم عصباته) على ترتيب الإرث أما المولاة المعتقة إذا كانت حية، فيزوج عتيقها من يزوج المعتقة بالترتيب السابق في أولياء النسب، فإذا ماتت المعتقة زوج عتيقتها من له الولاء على المعتقة، ثم ابنه ثم ابن ابنه (ثم الحاكم) يزوج عند فقد الأولياء من ذلك

Baca Juga :  Belajar Bijak dalam Beragama kepada Nabi Ibrahim

Paling pertamanya hak perwalian menikah ialah bapak/ayah, kakek, buyut laki–laki hingga keatas (dan didahulukan kakek yang lebih dekat daripada yang jauh), kemudian saudara sekandung, lalu saudara se bapak, ponakan se kandung, ponakan se bapak begitu seterusnya hingga kebawah, lalu paman kandung, paman se ayah, kemudian anak masing–masing dari paman kandung dan ayah. Ketentuan ini wajib secara urut. Maka ponakan paman sekandung didahulukan daripada ponakan se–bapak. Apabila ahli waris ashobah (yang telah disebutkan diatas) tidak ada, maka hak perwaliannya adalah pemerdeka budak laki–laki (sayyid) kemudian ahli waris ashobah. Adapun perwalian pemerdeka budak perempuan (sayyidah) apabila ia masih hidup, maka sayyid menikahkan budaknya kepada orang yang akan menikahi budak perempuannya secara urutan yang telah dijelaskan pada urutan wali secara nasab. Apabila sayyidah mati, maka orang yang memerdekakan sayyidahnya menikahkan pada budak perempuan tersebut, lalu anak–cucunya. (terakhir) adalah hakim yang menikahkan ketika tidak ada wali dari ketentuan diatas.

Wallahu a’lam. Sekian. Terima Kasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here