Urgensi Tradisi Menulis dalam Perspektif Islam

0
558

BincangSyariah.Com – Secara kodrati, manusia memiliki kemampuan mengingat sesuatu yang ada dalam memori otaknya, namun manusia juga memiliki sifat lupa. Menurut Umar bin Khaththab, sebagaimana dikutip oleh al-Muttaqi al-Hindi dalam Kanzul Ummal, faktor yang membuat manusia ingat atau lupa adalah, karena dalam akal manusia terdapat thakha’ah (awan) sebagaimana awan yang menyelimuti rembulan. Ketika thakha’ah tersebut menyelimuti akal, maka manusia menjadi lupa, dan ketika thakha’ah tersebut hilang, maka manusia akan kembali mengingat apa yang mereka lupakan.

Karena memiliki sifat lupa itulah, dalam Bahasa Arab manusia disebut dengan al-insan. Penyair Arab mengatakan, “Wa maa summia al-insaanu illa li nisyaanihi” (dan tidaklah manusia disebut dengan al-insan kecuali karena sifat lupanya). (Baca: Doa Ketika Selesai Menulis Catatan Pelajaran)

Termasuk yang sering dilupakan oleh manusia adalah ilmu pengetahuan yang pernah dipelajari, padahal lupa merupakan salah satu musibah bagi orang-orang yang berilmu. Karena itulah, diperlukan upaya untuk menjaga keberlangsungan ilmu pengetahuan, agar terus diingat dan tidak dilupakan, yaitu dengan cara mencatat atau menulis sebuah karya yang bermanfaat.

Menurut az-Zamakhsyari dalam Qawa’idnya, melestarikan ilmu dengan cara menulis hukumnya adalah fardlu kifayah bagi orang-orang yang diberi anugerah kemampuan memahami dan mengkaji. Karena jika tradisi menulis ditinggalkan, maka ilmu pengetahuan tersebut akan diabaikan oleh manusia.

Salah satu motivasi Rasulullah terkait pentingnya menulis adalah sabda beliau sebagaimana diriwayatkan Imam Hakim dalam al-Mustadrak:

عن عبد الله بن عمرو بن العاص قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : قَيِّدُوْا الْعِلْمَ قلتُ : وَمَا تَقْيِيْدُهُ : قال : كِتَابَتُهُ

Dari Abdullah bin Amr bin Ash berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Ikatlah ilmu ini!” Aku kemudian bertanya, “Apakah pengikatnya?” Beliau menjawab, “Yaitu dengan cara menuliskannya”.

Baca Juga :  Kritik Ulama Terhadap Rasa Gengsi

Semakna dengan hadis di atas, Imam Malik berkata dalam sebuah syair:

العلمُ صيدٌ والكتابةُ قَيْدُه ***  قَيِّدْ صُيودَك بالحِبَالِ المُوثِقَهْ

Ilmu bagaikan binatang buruan, dan menulis adalah pengikatnya *** Ikatlah binatang buruanmu dengan tali-tali yang kuat”.

Budaya menulis, telah dimulai sejak zaman para Nabi sebagaimana keterangan dari Rasulullah, orang yang pertama kali menulis ilmu pengetahuan setelah Nabi Adam, adalah Nabi Idris. Beliau diberi nama “Idris” karena beliau adalah Nabi yang yudarrisu al-kutub (mengajarkan al-kitab). Nabi Nuh menuliskan diiwan (catatan) dalam bahtera beliau. Bahkkan Allah juga menuliskan Taurat untuk Nabi Musa, “dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu…” (QS. Al-A’raf [07] : 145).

Penulisan mushaf al-Quran yang dilakukan pada masa Abu Bakar dan Utsman bin Affan, juga pembukuan hadis pada masa Umar bin Abdul Aziz juga merupakan salah satu upaya untuk mencatat ilmu pengetahuan.

Dalam banyak kesempatan, Rasulullah memberi izin kepada sahabat untuk melakukan penulisan hadis sebagaimana dikutip at-Turmudzi dalam Nawaadir al-Ushul:

Ibnu Abbas bercerita, suatu hari ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah mengadukan kemampuan hafalannya yang buruk, Rasulullah kemudian bersabda, “Ista’in bi yamiinika (mintalah bantuan dengan tangan kananmu)”.

Abdullah bin Amr juga pernah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah! Bolehkan aku menulis sesuatu yang aku dengar darimu?” Rasul menjawab, “Iya”. Abdullah kembali bertanya, “Apakah dalam keadaan marah dan ridha?” Rasul kembali menjawab, “Iya, sesungguhnya tidak pantas bagiku kecuali mengatakan yang benar”.

Abu Hurairah juga bercerita, pada saat penaklukan Makkah, Rasulullah melakukan khutbah. Kemudian seorang dari Yaman yang bernama Abu Syah tiba-tiba berdiri. Dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tuliskanlah khutbah ini untukku”. Rasulullah bersabda, “Tuliskanlah khutbah ini untuk Abu Syah”.

Baca Juga :  Kenapa Santri Harus Menulis? Ini Alasannya

Tradisi menulis kemudian semakin berkembang pesat pada masa kejayaan Dinasti Abbasiyah, ditandai dengan munculnya sejumlah upaya penerjemahan ilmu pengetahuan dari bahasa Yunani, Cina, Sanskerta, dan Persia ke dalam bahasa Arab dengan dukungan Harun ar-Rasyid dan dilanjutkan pada masa al-Makmun. Al-makmun bahkan mendirikan Baitul Hikmah yang menjadi perpustakaan sekaligus lembaga penerjemahan, sehingga menjadikan Baghdad sebagai pusat peradaban dunia pada saat itu.

Keberhasilan tersebut dilanjutkan oleh dinasti-dinasti berikutnya, seperti dinasti Fatimiyah di Kairo Mesir yang mendirikan Dar al-Ilmi, juga keturunan dinasti Umayyah di Cordoba Spanyol yang mendirikan perpustakaan yang mengoleksi ribuan jilid karya-karya ilmuan muslim.

Berkat semangat tradisi menulis, penerbitan dan hadirnya beberapa perpustakaan, banyak karya para ilmuan dari setiap abad dengan berbagai macam disiplin keilmuan, masih bisa kita nikmati sampai saat ini.

Ketika sebuah generasi telah berlalu, maka generasi berikutnya akan sangat membutuhkan catatan dan penjelasan dari generasi sebelumnya. Ilmu pengetahuan generasi yang telah lalu diharapkan bisa menghilangkan kebodohan generasi pada saat ini.

Jika generasi terdahulu telah menanam, dan saat ini buahnya telah bisa kita rasakan, maka sekarang saatnya bagi kita untuk menanam, agar buahnya bisa dirasakan generasi mendatang.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here