Ulasan tentang Macam-Macam Maksiat pada Musafir

0
1406

BincangSyariah.Com – Musafir atau orang yang mengadakan perjalanan jauh mendapatkan kemurahan tersendiri dari Allah Swt. Musafir diperbolehkan tidak puasa saat bulan Ramadan. Ia juga diperkenankan untuk menjamak dan mengqosor salat lima waktu. Musafir juga diberi izin untuk memakan apa saja yang ada didekatnya (bangkai, binatang yang haram di makan) ketika dalam keadaan darurat (karena tidak ada lagi yang tidak dimakan). Selain itu semua, masih banyak hal lain yang dijadikan rukhsoh bagi para musafir.

Akan tetapi, tidak semua rukhsoh untuk musafir bisa langsung diambil. Ada sebagian yang memiliki syarat-syarat tertentu yang berkaitan dengan perjalanannya. Sebut saja dalam jamak dan qashar salat. Salah satu yang harus dipenuhi oleh sang musafir adalah perjalanannya diperbolehkan oleh agama. Dalam artian bukan perjalanan maksiat. Orang yang bepergian jauh harus memiliki sangkaan bahwa perjalanannya adalah untuk kebaikan.

Kebolehan di sini bermakna bukan perjalanan yang diharamkan. Misalakan lari dari rumah karena mau ada persoalan keluarga. Jadi bisa saja perjalanannya wajib seperti orang naik haji, sunah seperti ziarah kubur atau silaturrahim, makruh seperti orang mengadakan perjalanan jauh secara sendirian. Atau perjalanan untuk mensyukuri nikmat Tuhan, seperti bertamasya ke tempat hiburan. Intinya perjanannya harus dalam batas-batas yang dibolehkan syariat.

Hanya saja terkadang dari awal tujuannya baik, namun di tengah jalan bertemu dengan hal yang tidak baik. Kadang orang yang mengadakan perjalanan jauh ikut terpengaruh atau tidak tahan godaan. Ada memang yang berangkatnya sudah tidak baik, namun tobat di tengah perjalanan. Tentunya ketentuan syariat untuk keduanya tidaklah sama. Perlu kiranya kita mengetahui macam-macam maksiat yang terjadi pada musafir. Berikut ini beberapa jenis maksiat yang bisa terjadi oleh musafir sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Nawawi al-Bantani dalam Kasyifatu al-Saja’, 

Pertama, ‘ashin bissafar, yaitu perjalanannya bertujuan untuk maksiat. Misalkan ingin nonton konser dangdut, mau merampok, membunuh, dan lain-lain. Dari awal niatnya sudah tidak benar. Orang seperti ini tidak diperkenankan untuk salat jamak atau qashar. Namun andaikata bertobat dan sisa perjalanannya masih memenuhi syarat, maka boleh-boleh saja ia menggunakan rukhsah.

Kedua,ashin fissafar, yaitu maksiat di dalam perjalanan. Tujuannya baik, namun di tengah perjalanan ketemu dengan maksiat. Lalu terjerumus ke dalamnya. Misalkan niatnya mau ziarah wali songo, namun di tengah perjalanan tak sengaja melihat konser dangdut. Lalu ia mampir dan ikut bergoyang di tengah-tengah penonton. Nah, orang ini tetap dibolehkan mengambil rukhsoh salat dengan jamak atau qosor.

Ketiga, ‘ashin bissafar fissafar, yaitu dari awal tujuannya sudah maksiat, akan tetapi tiba-tiba dia sadar dan bertobat, lalu hatinya berbalik lagi menuju maksiat. Orang seperti ini boleh mengambil rukhsoh walaupun sisa perjalanannya tidak memenuhi syarat (tidak sampai 80 km) asalkan bertibat. (Kasyifatu as-Saja’, h. 91). Allah Ta’ala A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here