Ulama Jangan Mudah Keluarkan Fatwa Bunuh

1
51

BincangSyariah.Com – Fatwa memiliki kedudukan yang sangat penting dalam masyarak Islam. Untuk itulah para ulama menyusun sejumlah etika (code of conduct) bagi mereka yang memberi fatwa (mufti). Namun, sebagian kode etik yang cukup relevan dengan situasi yang aktual saat ini adalah sebagaimana yang dikutip imam Nawawi dalam kitabnya, al-Majmu’.

قال الصيمري والخطيب إذا سئل عمن قال أنا أصدق من محمد بن عبد الله أو الصلاة لعب وشبه ذلك فلا يبادر بقوله هذا حلال الدم أو عليه القتل بل يقول ان صح هذا باقراره أو بالبينة استتابه السلطان فان تاب قبلت توبته وان لم يتب فعل به كذا وكذا

Al-Shaimiry dan al-Khatib berkata, “Jika seseorang berkata ‘saya lebih jujur daripada Nabi Muhammad’ atau ‘shalat itu cuma permainan’ atau ucapan yang sejenis (berupa penistaan agama) maka seorang mufti tidak seharusnya mengeluarkan fatwa ‘darah orang ini halal’ atau ‘orang ini harus dibunuh’.

Sebaiknya mufti berkata ‘jika ucapan itu sudah terverifikasi atau terkonfirmasi maka penguasa harus meminta orang tersebut bertobat. Jika ia bertobat/meminta maaf maka harus diterima. Jika tidak mau bertobat/meminta maaf maka penguasa dapat melakukan tindakan ini dan itu.” (Baca: Kemarahan Nabi Karena Fatwa yang Mengakibatkan Kematian)

 وان سئل عمن تكلم بشئ يحتمل وجوها يكفر ببعضها دون بعض قال يسئل هذا القائل فان قال أردت كذا فالجواب كذا

Dan jika mufti ditanya mengenai orang yang mengucapkan kalimat yang bisa membawanya kepada kekufuran, mufti sebaiknya merespon, “Orang yang mengucapkan ini harus ditanya terlebih dahulu. Jikalau yang dimaksud dari kalimatnya adalah demikian maka hukumnya seperti demikian”.

Di samping hal itu, kehati-hatian ulama dalam memberi fatwa sangat diperhatikan. Hal ini terbukti dengan sikap para mufti dalam menanggapi beragam persoalan. Imam Malik pernah ditanya 50 masalah dan tak satupun beliau jawab. Beliau juga sering berkata “Barang siapa yang suka memberi jawaban, sebaiknya sebelum menjawab ia bayangkan dirinya berada di antara surga dan neraka, dan memikirkan bagaimana nasibnya kelak, baru kemudian ia memberi jawaban”.

Imam Abu Hanifah pernah berkata “Jika karena tidak takut kepada Allah bahwa ilmu akan lenyap, saya tidak akan memberi fatwa. Mereka yang bertanya dapat keuntungan, sementara saya kena beban tanggung tanggung jawab”. Dan saat imam Syafi’i ditanya kenapa beliau diam saja (tidak menjawab persoalan), beliau menimpali “sampai saya tahu apakah lebih baik diam atau memberi jawaban”.

Beragam bentuk kehati-hatian dalam menyikapi persoalan dengan cara tidak menjawabnya ataupun berkata “saya tidak tahu”, bukan berarti ulama tersebut tidak mampu menjawabnya. Namun, seandainya memang tidak tahu, beliau punya kesempatan mempelajari persoalan itu dengan cepat menggunakan berjibun perangkat ilmu yang telah dikuasainya. Dan jika persoalan sudah diketahui solusinya, maka boleh jadi, beliau menunggu situasi dan kondisi yang tepat untuk memberi jawaban kepada si penanya.

Dan tidak heran (sungguh wajar) bila bentuk sikap itu menempel pada seorang mufti. Karena sebelumnya, ada riwayat demikian:

عن ابن مسعود وابن عباس رضى الله عنهم من أفتى عن كل ما يسئل فهو مجنون وعن الشعبى والحسن وابى حصين بفتح الحاء التابعين قالوا ان احدكم ليفتى في المسألة ولو وردت على عمر بن الخطاب رضى الله عنه لجمع لها أن أهل بدر

Dari ibn Mas’ud dan ibn Abbas, “Siapa yang memberi fatwa mengenai setiap masalah maka ia orang gila (majnun)”. Dari al-Sya’bi, al-Hasan dan abu Hashain, “Jika salah seorang dari kalian memberi fatwa dan perkara itu sampai ke Umar bin Khatthab, dia akan kumpulkan para ahli Badar (untuk memeranginya)”.

Pendek kata, seorang mufti tidak saja harus melakukan verifikasi, konfirmasi dan klarifikasi akan ucapan seseorang sebelum kemudian berfatwa mengenai ucapan tersebut, melainkan juga harus berhati-hati dalam mengeluarkan fatwa.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here