Mempererat Ukhuwwah Islamiyyah Sunni-Syiah di Bumi Nusantara secara Kaffah

2
508

BincangSyariah.Com – Allah menganugerahi bumi Nusantara (Indonesia) dengan berbagai nikmat, baik berupa kekayaan sumber daya alam, pulau, dan aneka flora dan fauna maupun berupa kekayaan keragaman suku, tradisi, budaya, agama, dan mazhab. Tentu nikmat-nikmat ini harus senantiasa disyukuri dengan cara memelihara dan mengelolanya secara baik sembari meningkatkan ibadah kepada Allah.

Dalam hal keragaman, misalnya, Allah memang sengaja menciptakan keragaman tersebut (baik jenis kelamin, bangsa, suku, budaya, agama, maupun mazhab) agar manusia bisa saling mengenal satu sama lain (al-Hujurat (49): 13). Allah secara jelas menggunakan redaksi “li ta‘arafu (agar kalian semua saling mengenal)” dalam al-Hujurat (49): 13 tersebut, bukan redaksi “li tabagadhu (agar kalian semua saling membenci)”, atau “li tanakaru (agar kalian semua saling memusuhi)”, atau “li tafakharu (agar kalian semua saling membanggakan diri)”, atau “li taqatalu (agar kalian semua saling membunuh).”

Usaha saling mengenal ini bisa dilakukan secara langsung (seperti silaturahmi, penelitian, dan lain sebagainya) dan bisa juga dilakukan secara tidak langsung (seperti bertanya kepada orang lain, membaca literatur-literatur tertentu, dan lain sebagainya).

Dalam konteks tradisi, misalnya, maka seseorang bisa saling mengenal melalui silaturahmi dan penelitian secara langsung atau melalui literatur-literatur terkait. Begitu pula dalam konteks saling mengenal budaya, agama, mazhab, dan lainnya.

Dengan demikian, ketika kita saling mengenal secara baik dan utuh, maka kita akan saling menghormati, menghargai, menolong, dan menyayangi satu sama lain. Apalagi syariat Islam memang menghendaki perdamaian dunia, bukan kekacauan dan peperangan.

Oleh karena itu, salah satu tujuan syariat Islam (maqashid asy-syari‘ah) adalah saling mengenal, menolong, dan melengkapi dan pemeliharan negara secara penuh terhadap hak asasi manusia (Jamaluddin ‘Athiyyah, Nahw Taf‘il Maqashid asy-Syari‘ah, 2003: 165-170).

Baca Juga :  NGOPI BincangSyariah; Cerita dari Tanah Palestina

Syiah adalah Saudara Kandung Sunni

Realitas hidup seringkali menampilkan hal berbeda dengan keinginan dan ajaran-ajaran luhur agama. Akhir tahun 2019, misalnya, Habib Haddad Alwi (penyanyi religi ternama) mengalami persekusi ketika menghadiri haul Habib Abdullah bin Zein al-Attas di Sukabumi. Dalam hal ini, beliau dipaksa turun dari atas panggung karena dianggap Syiah (detik.com, akses 09/01/2020).

Kemudian, beberapa waktu lalu sekelompok orang menyerang beberapa Muslim (yang diduga Syiah) secara brutal di Kota Surakarta seraya berteriak: “allahu akbar; bubar; kafir; Syiah bukan Islam; Syiah musuh Islam; darah kalian halal (kumparan.com, akses 08/19/2020).”

Tindakan ini jelas sekali bertentangan dengan ajaran luhur Islam, fakta keislaman Syiah, dan Undang-Undang Dasar 1945 yang menjamin hak asasi manusia setiap warga negara Indonesia dan kemerdekaan beribadah sesuai agama dan keyakinan masing-masing (lihat UUD 1945 Bab XA dan Bab XI).

Dalam Islam sendiri, Rasulullah saw. bersabda: “tidak halal bagi seorang Muslim meneror Muslim lain.” Hadis ini bertalian erat dengan hadis berikut: “orang beriman adalah orang yang mengamankan manusia, baik darahnya maupun harta-bendanya.”

Dengan demikian, setiap Muslim haram meneror orang lain, baik Muslim maupun non-Muslim. Bahkan Rasulullah saw. menegaskan bahwa siapapun yang tidak menyayangi sesama manusia, maka Allah tidak akan menyayanginya (KH. Muhammad Syamsul Arifin, Arba‘una Haditsan, hlm. 16).”

Adapun fakta keislaman Syiah adalah berkaitan dengan ijmak ulama (Sunni dan Syiah) tahun 2005 yang secara tegas mengakui Syiah Jakfariyah/Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah dan Zaidiyyah sebagai Muslim. Tahun 2006, para ulama Sunni dan Syiah menandatangani Deklarasi Mekah yang menyatakan bahwa: “Muslim adalah siapa saja yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad utusan-Nya” (Baca: Muslim Syiah Hari Ini Menurut Sunni).

Baca Juga :  Terkait Kekerasan Kelompok Intoleran di Solo, Ini Kata Quraish Shihab tentang Suni-Syiah

Sementara Rasulullah saw. sendiri telah bersabda bahwa: “umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan (Imam as-Sakhawi, al-Maqashid al-Hasanah, 1985: 716).” Selain itu, Rasulullah saw. bersabda: “tahanlah diri kalian dari orang-orang yang bersaksi tiada Tuhan selain Allah.

Kalian tidak boleh mengafirkan mereka hanya karena melakukan dosa tertentu. Barangsiapa yang mengafirkan orang yang bersaksi tiada Tuhan selain Allah, maka sejatinya dia lebih dekat kepada kekafiran (Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki, at-Tahdir min al-Mujazafah bi at-Takfir, 2004: 118).”

Menjadi Hamba Allah yang Saling Bersaudara Satu Sama Lain

Para ulama Sunni dan Syiah sebenarnya sudah melakukan silaturahmi dan rekonsiliasi untuk mengakhiri permusuhan dan konflik berdarah antara kelompok Muslim Sunni dengan kelompok Muslim Syiah.

Apalagi Rasulullah saw. sendiri secara tegas melarang umat Islam saling benci, hasud, bermusuhan, dan memutuskan hubungan satu sama lain. Sebaliknya, beliau memerintahkan seluruh umat Islam menjadi hamba Allah yang saling bersaudara satu sama lain (Arba‘una Haditsan, hlm. 13).

Dalam hal ini, Syekh Mahmud Syaltut (ulama ternama Sunni dan Imam Besar Al-Azhar) dan Syekh Muhammad al-Gazali (ulama ternama Sunni) menegaskan keislaman Syiah.

Bahkan Syekh Mahmud Syaltut memperbolehkan setiap Muslim mengikuti mazhab manapun, baik Sunni maupun mazhab Syiah Itsna ‘Asyariah, dan juga boleh pindah mazhab apabila mereka menghendaki.

Sebab, Islam memang tidak mewajibkan Muslim untuk mengikuti mazhab tertentu. Sementara Syekh Muhammad al-Gazali melarang setiap Muslim mengafirkan Muslim Syiah (Baca: Muslim Syiah Hari Ini Menurut Sunni).

Dalam kesempatan lain, pada tahun 1979, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei (Ulama Syiah dan Pemimpin Revolusi Iran) menyerukan di Iran agar kaum Syiah dan kaum Sunni menjadi umat Islam yang satu dan meninggalkan perbedaan di antara mereka.

Baca Juga :  Berebut Islam, Berebut Rakyat

Oleh karena itu, mereka bisa bergandeng tangan dan bahu-membahu dalam mewujudkan persatuan umat Islam tersebut (Syekh Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islamiyy wa Adillatuh, 1985, I: 45).

Persatuan antara kalangan Muslim Syiah dengan kalangan Muslim Sunni ini akhirnya tercapai. Mengingat pada tahun 2005, dua ratus ulama (baik Sunni maupun Syiah) bersepakat bahwa pemeluk mazhab Hanafi, Maliki, asy-Syafi‘i, dan Hanbali (Sunni), Jakfariyah/Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah, Zaidiyyah (Syiah), Ibadhi (Khawarij moderat), azh-Zhahiri, teologi Asy’ariyah, sufisme, dan salafi sejati adalah Muslim.

Sehingga mereka tidak boleh saling mengafirkan dan memurtadkan satu sama lain. Tahun 2006, ulama Sunni dan Syiah menandatangani Deklarasi Mekah yang menegaskan bahwa: “Muslim adalah siapa saja yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad utusan-Nya.”

Di sisi lain, tahun 2010, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei mengeluarkan fatwa yang melarang setiap Muslim Syiah menghina simbol-simbol keislaman yang dihormati oleh kalangan Muslim Sunni, seperti istri-istri Rasulullah saw., para sahabat, dan lain sebagainya.

Fatwa ini mendapatkan dukungan dan apresiasi yang sangat besar dari ulama Sunni dan Imam Besar Al-Azhar, Syekh Ahmad Muhammad Al-Tayyeb (The Muslim 500: The World’s 500 Most Influential Muslims, 2020, 2019: 43).

Dengan demikian, tidak heran apabila Azyumardi Azra menegaskan bahwa permusuhan, konflik, dan bahkan perang berdarah antara kaum Syiah dan kaum Sunni adalah terkait persoalan politik dan kontestasi kekuasaan, bukan terkait persoalan akidah (iman) dan Islam.

Mengingat mereka sama-sama taat kepada ajaran-ajaran yang sama dalam hal iman dan Islam. Artinya, Syiah dan Sunni merupakan bagian hakiki dari Islam. Sehingga mereka (kaum Syiah dan kaum Sunni) adalah saudara kandung yang sama-sama menjadi sayap-sayap Islam (lihat Sejarah & Budaya Syiah di Asia Tenggara, 2013: 5). Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here