UGM Hingga Antropolog AS Calonkan NU dan Muhammadiyah Dapat Nobel Perdamaian

0
728

BincangSyariah.Com – Universitas Gadjah Mada (UGM) berencana untuk mencalonkan dua organisasi Muslim terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), untuk menerima Hadiah Nobel Perdamaian, melihat bagaimana kontribusi kedua organisasi keislaman ini terhadap perkembangan demokrasi di negara yang memiliki populasi Muslim terbesar di dunia.

Rencana tersebut sebagaimana dilansir dari Tempo.co dan TheJakartaPost diungkapkan minggu lalu oleh direktur Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM M. Najib Azca selama peluncuran buku “Dua Menyemai Damai, Peran dan Konstribusi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Perdamaian dan Demokrasi” yang ditulis oleh tim peneliti PSKP.

“PSKP UGM sedang mempelajari rencana tersebut. UGM akan membuat keputusan dan mengirim nominasi ke komite Hadiah Nobel Perdamaian di Norwegia, ”katanya.

Terlepas dari laporan media tentang perkembangan kekuatan Islam garis keras yang berkembang di negara ini, pihak Universitas UGM percaya bahwa Muslim arus utama di Indonesia, seperti Muhammadiyah dan NU, toleran dan demokratis.

UGM, kata Najib, ingin menyoroti profil Islam Indonesia di panggung internasional. “Islam di Indonesia demokratis, beradab, dan damai. Ini berbeda dari Islam di negara-negara lain seperti Irak atau Afghanistan yang terus-menerus dirusak oleh konflik, ”katanya.

Sebagaimana diketahui Muhammadiyah didirikan oleh Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada tahun 1912, sedangkan NU didirikan di Surabaya, Jawa Timur, pada tahun 1926 oleh Hasyim Asy’ari.

Berbicara dalam sebuah diskusi tentang buku itu, Najib mengatakan bahwa Muhammadiyah dan NU pantas untuk berbagi Hadiah Nobel Perdamaian karena peran penting mereka dalam transisi demokrasi sejak tahun 1998.

“Muhammadiyah dan NU adalah pilar demokrasi dalam menyemai perdamaian positif melalui berbagai kegiatan seperti di bidang pendidikan, pemberdayaan ekonomi, filantropi, bencana dan kesehatan,” kata Najib.

Baca Juga :  Hukum Menyewakan Tempat Kos Kepada Non-Muslim

Muhammadiyah, lanjutnya, juga aktif dalam memfasilitasi rekonsiliasi damai setelah konflik di Poso dan Ambon. Seperti menyediakan fasilitas pendidikan di bagian timur Indonesia, yang mayoritas penduduknya bukan Muslim.

Sementara itu NU, melalui Presiden Abdurrahman Wahid saat itu, memainkan peran besar dalam menciptakan perdamaian di Aceh dan Papua. NU memiliki banyak pemikiran tentang kesetaraan gender, pencegahan radikalisme dan Islam Nusantara (Islam yang spesifik Indonesia). Kelompok paramiliter Barisan Serba Guna NU juga aktif melindungi kelompok minoritas.

Antropolog Robert W. Hefner dari Universitas Boston, yang telah melakukan penelitian luas tentang Islam di Indonesia, mengatakan ia pun telah mengirim surat kepada komite Hadiah Nobel Perdamaian di Norwegia untuk mencalonkan kedua organisasi tersebut.

“Saya mengirim surat itu pada 4 Januari dan sudah diterima,” katanya.

Dia menambahkan bahwa telah ada diskusi intensif dan ekstensif di tingkat global tentang peran Muhammadiyah dan NU dalam menciptakan komunitas Muslim yang damai dan damai di Indonesia.

Hefner mengatakan Muhammadiyah dan NU memainkan peran penting dalam mendidik masyarakat sehingga gagasan demokrasi dan kebangsaan Indonesia bisa diterima oleh semua pihak.

“Demokrasi tidak bisa bekerja hanya dengan bergantung pada pendekatan formal. Perlu sosialisasi dan menanamkan norma, ”kata Hefner.

Hefner mengklaim bahwa Muhammadiyah dan NU telah berhasil mendidik umat Islam untuk menganggap demokrasi dapat diterima. “Reformasi pendidikan Islam yang diimpikan oleh negara-negara Islam lainnya telah dilakukan di Indonesia sejak lama, terutama oleh Muhammadiyah,” katanya.

Sementara itu, profesor dan pakar politik UGM Mochtar Mas’oed mengatakan Muhammadiyah dan NU lebih tepat disebut “peradaban lembut” daripada “pembangun perdamaian”.

“Jika mereka disebut pembangun perdamaian, akan sulit bagi pembaca untuk menemukan data empiris,” kata Mochtar, menyatakan persetujuan dengan Hefner yang menekankan keberhasilan dua organisasi Muslim dalam menciptakan rasa etika publik.

Baca Juga :  KOMUJI Hadirkan Remaja yang Pernah Terpesona Propaganda ISIS, Ini Kata Tokoh Muda NU

Namun, Mochtar mempertanyakan kemampuan kedua organisasi untuk menangani populisme sayap kanan yang telah mendorong politisasi Islam yang keras di Indonesia.

“Pelakunya adalah minoritas, tetapi minoritas yang terorganisir dengan baik selalu bisa mengalahkan mayoritas yang tidak terorganisir,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here