Turki Tolak Bangkitkan Kembali Kekhalifahan Islam

0
440

BincangSyariah.Com – Ada reaksi baru atas bangkitnya kembali kekhalifahan Islam dari  Republik Turki. Reaksi tersebut dipicu atas terbitnya majalah dan surat kabar pro-pemerintah yang mengangkat tema pembaruan kekhalifahan Islam.

Turki adalah sebuah negara berbentuk republik konstitusional yang demokratis, sekuler, dan bersatu. Turki telah bergabung dengan Barat dan di saat yang sama bisa menjalin hubungan dengan dunia Timur. Turki juga merupakan salah satu anggota pendiri Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Konferensi Islam (OKI), negara anggota Dewan Eropa sejak tahun 1949 dan NATO sejak tahun 1952. (Baca: Kekeliruan HTI Pahami Hadis Taat pada Khalifah)

Sejak tahun 2005, Turki adalah satu-satunya negara Islam pertama yang berunding menyertai Uni Eropa, setelah mejadi anggota koalisi sejak tahun 1963. Selain itu, Turki juga merupakan anggota negara industri G20 yang mempertemukan 20 buah ekonomi yang terbesar di dunia.

Pada akhir Juli, partai yang paling berkuasa di Turki telah menolak seruan oleh majalah yang pro-pemerintah untuk membangkitkan kembali kekhalifahan Islam. Keputusan ini menyusul setelah pembukaan kembali Hagia Sophia di Istanbul sebagai masjid.

Seorang juru bicara untuk Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa di Turki pada hari Senin (27/7) meyakinkan bahwa Turki akan tetap menjadi republik sekuler setelah majalah tersebut menimbulkan kegemparan di media sosial dengan menyerukan pembaruan kekhalifahan.

“Republik Turki adalah negara yang demokratis dan sekuler berdasarkan aturan hukum,” demikian pernyataan juru bicara Omer Celik dalam sebuah cuitan di Twitter. “Republik kita adalah payung bagi kita semua berdasarkan kualitas-kualitas ini.”

“Adalah salah untuk memicu polarisasi tentang sistem politik Turki … Debat dan polarisasi tidak sehat yang muncul di media sosial kemarin tentang sistem politik kita tidak ada dalam agenda Turki,” tulis Celik.

Baca Juga :  Meneladani Sikap Toleransi Muhammad Al-Fatih terhadap Umat Kristen Konstantinopel

“Republik Turki akan berdiri selamanya. Dengan doa dan dukungan dari negara kita, dan di bawah kepemimpinan presiden kita, kita berjalan menuju apa yang disebut tujuan tak terjangkau bagi negara dan kemanusiaan kita. Republik kita akan terus bersinar,” tambahnya.

Tweet resmi AKP muncul pada pagi hari setelah Gercek Hayat majalah mingguan dan surat kabar Yeni Safak yang terkait dengan pemerintah, meminta Ibukota Turki, Ankara, untuk meluncurkan kembali kekhalifahan, yang dihapuskan tidak lama setelah jatuhnya Kekaisaran Ottoman.

“Sekarang Hagia Sophia dan Turki bebas; bersiaplah untuk kekhalifahan,” demikian judul dalam sampul terbitan Gercek Hayat pada 27 Juli 2020. “Jika tidak sekarang, lalu kapan? Jika bukan kamu, lalu siapa?”. Pertanyaan di sampul itu tersebut terkesan merujuk pada Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Kekhalifahan adalah negara Islam yang dipimpin oleh seorang khalifah yang dianggap sebagai penerus Nabi Muhammad Saw. Kekhalifahan terakhir di Turki dipimpin oleh Ottoman dan telah dibubarkan pada tahun 1924 yakni selama tahun-tahun awal Republik Turki.

Majalah Gercek Hayat dan surat kabar Yeni Safak dimiliki oleh Albayrak Media Group yang memiliki hubungan dekat dengan pemerintah Turki dan Presiden Erdogan.

Turki telah membuka kembali Hagia Sophia sebagai masjid setelah lebih dari 80 tahun dikonversi menjadi museum oleh pendiri Republik Turki, Mustafa Kemal Ataturk. Pada masa Kekaisaran Bizantium Kristen, Hagia Sophia dibangun sebagai katedral. Kemudian, Hagia Sophia diubah menjadi masjid setelah tahun 1453 yakni saat penaklukan Istanbul oleh Ottoman.

Hagia Sophia atau Aya Sofya adalah sebuah tempat ibadah di Istanbul, Republik Turki. Dari masa pembangunannya pada tahun 537 M sampai 1453 M, bangunan ini adalah katedral Ortodoks dan tempat kedudukan Patriark Ekumenis Konstantinopel, kecuali pada tahun 1204 sampai 1261. Tempat ini pernah diubah oleh Pasukan Salib Keempat menjadi Katedral Katolik Roma di bawah kekuasaan Kekaisaran Latin Konstantinopel.

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Bahaya Zina dan Filosofi Redaksi Ayat Laa Taqrobuu

Hagia Sophia berubah menjadi masjid mulai 29 Mei 1453 sampai 1931 pada masa kekuasaan Kesultanan Utsmani. Kemudian, bangunan ini disekulerkan dan dibuka sebagai museum pada 1 Februari 1935 oleh Republik Turki.

Hagia Sophia kembali menjadi masjid pada Jumat, 10 Juli 2020 setelah pengadilan Turki memutuskan bahwa konversi Hagia Sophia pada tahun 1934 menjadi museum adalah ilegal. Keputusan ini membuka jalan untuk kembali mengubah monumen tersebut menjadi masjid.

Terkenal akan kubah besarnya, Hagia Sophia dipandang sebagai lambang arsitektur Bizantium dan dikatakan para ahli telah mengubah sejarah arsitektur. Bangunan ini tetap menjadi katedral terbesar di dunia selama hampir seribu tahun sampai Katedral Sevilla diselesaikan pada tahun 1520.

“Ini Hagia Sophia yang melepaskan diri dari rantai penawanannya. Itu adalah impian terbesar kaum muda kita,” kata Erdogan. “Itu adalah kerinduan rakyat kita dan itu telah tercapai.” Pungkasnya.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here