Bolehkah Tuna Netra dan Tuna Wicara Menyembelih Hewan Kurban?

0
85

BincangSyariah.Com – Ketika tiba bulan Haji, banyak di antara kaum muslimin yang hendak berkurban. Dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa ketika seseorang hendak berkurban, maka dia dianjurkan untuk menyembelih sendiri atau mewakilkan kepada orang lain dan hadir ketika hewan kurban disembelih. Namun bagaimana dengan orang yang tuna netra dan tuna wicara, apakah boleh menyembelih sendiri?

Sembelihan orang yang tuna netra atau buta hukumnya boleh dan sah, serta hasil sembelihannya halal dimakan. Meski boleh dan halal, namun sebaiknya orang yang tuna netra mewakilkan sembelihan kurbannya kepada orang lain yang bisa melihat dengan baik. Ini karena jika dia menyembelih sendiri, dikhawatirkan ada hal-hal yang harus dilakukan dalam sembelihan tidak dilaksanakan dengan baik dan sempurna. (Baca: Bernazar Kurban dalam Hati, Apakah Jadi Wajib Berkurban?)

Karena itu, meski boleh dan halal, para ulama mengatakan bahwa sembelihan orang yang tuna netra dinilai makruh. Ia sebaiknya hadir saja untuk menyaksikan sembelihan kurbannya dan mewakilkan sembelihannya kepada orang lain. Ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu berikut;

تَحِلُّ ذَكَاةُ الْأَعْمَى بِلَا خِلَافٍ وَلَكِنْ تُكْرَهُ كَرَاهَةَ تَنْزِيهٍ

Sembelihan orang buta atau tuna netra hukumnya halal tanpa ada perbedaan pendapat. Hanya saja, hal itu dihukumi makruh dengan makruh tanzih.

Adapun sembelihan orang tuna wicara, maka menurut kebanyakan ulama, hukumnya halal, baik dia memiliki bahasa isyarat yang bisa dipahami atau tidak, atau dia paham bahasa isyarat atau tidak. Ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu berikut;

الْأَخْرَسُ إنْ كَانَتْ لَهُ إشَارَةٌ مَفْهُومَةٌ حلت ذبيحته بالاتفاق ولا فَطَرِيقَانِ (الْمَذْهَبُ) وَبِهِ قَطَعَ الْأَكْثَرُونَ الْحِلُّ أَيْضًا (وَالثَّانِي) أَنَّهُ كَالْمَجْنُونِ وَبِهِ قَطَعَ الْبَغَوِيّ وَالرَّافِعِيُّ ..نَقَلَ ابْنُ الْمُنْذِرِ الْإِجْمَاعَ عَلَى إبَاحَةِ مُذَكَّاةِ الْأَخْرَسِ وَلَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَ فَهْمِهِ الْإِشَارَةَ وَعَدَمِهِ

Baca Juga :  Pohon Pindah Ke Tanah Orang Lain Akibat Longsor, Bagaimana Hak Miliknya?

Orang yang tuna wicara, jika dia memiliki bahasa isyarat yang bisa dipahami, maka sembelihannya halal dengan kesepakatan para ulama. Jika tidak memiliki bahasa isyarat yang bisa dipahami, maka ada dua pendapat. Pertama, pendapat madzhab, ini ditegaskan kebanyakan ulama, hukumnya halal juga. Kedua, dia seperti orang gila, ini ditegaskan oleh Imam Al-Baghawi dan Imam Al-Rafii. Ibn Al-Mundzir menukil kesepakatan para ulama mengenai kebolehan sembelihan orang tuna wicara dan dia tidak membedakan antara apakah orang tuna wicara tersebut paham bahasa isyarat atau tidak paham.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here