Tujuh Penyebab Keringanan Hukum dalam Agama

0
1544

BincangSyariah.Com – Bagi umat muslim yang telah menginjak usia baligh dan berakal sempurna, diwajibkan untuk menjalankan semua aturan hukum agama Islam, baik meliputi aspek larangan yang harus ditinggalkan maupun aspek perintah yang harus dikerjakan. Meski demikian pada kenyataannya dalam kondisi tertentu umat muslim sulit atau terhalang untuk menjalankan hukum agama tersebut dengan sempurna.

Oleh karena itu, Allah Swt. memberikan dispensasi-dispensasi kepada umat Islam untuk meninggalkan atau membiarkan hamba-Nya dengan tidak menjalankan aturan agama dengan sempurna. Hal ini sebagaimana disebutkan di dalam Alquran surah Albaqarah ayat 185 “Allah Swt menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. Sementara itu, di dalam hadis pun Nabi Saw. pernah bersabda “Aku diutus dengan membawa agama yang condong pada kebenaran, murah dan mudah.” (HR. Ahmad).

Imam Abu Bakar Al Ahdali di dalam kitab Alfaraidul Bahiyyah yang membahas tentang kaidah-kaidah fiqh dengan model syiiran menyebutkan ada tujuh penyebab seorang muslim mendapatkan dispensasi hukum agama. Ketujuh hal tersebut adalah: Pertama, karena terpaksa. Misalnya dipaksa mengatakan kalimat kufur, maka ia tidak dianggap kufur dengan syarat hatinya tetap yakin dengan keimanannya. Karena Allah Swt berfirman di dalam Alquran Surah Annahl ayat 106 “Siapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapatkan kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)…,” atau terpaksa minum khamr.

Namun kondisi “terpaksa” tersebut tidak berlaku dalam perbuatan zina yang tidak diperbolehkan menurut kesepakatan para ulama, karena mafsadah atau konsekuensi buruk yang ditimbulkan sangat parah. Baik yang dipaksa itu dari laki-lakinya atau pihak perempuan, maka bagi mereka tetap dihukum zina sebab terpaksa. Begitu pula dengan kasus sodomi atau lesbian. Dan tidak dianggap pula dalam kasus pembunuhan. Karena sudah disepakati bahwa haram melanggar hak Allah dengan terpaksa, maka orang yang terpaksa membunuh tersebut tetap dikisas.

Baca Juga :  Kisas yang tidak Kisasi

Kedua, karena lupa. Maka, bagi umat Muslim yang melanggar hukum Islam karena lupa, maka ia tidak berdosa. Seperti lupa melakukan hubungan badan antara suami istri di siang hari dalam keadaan berpuasa, maka tidak ada kafarat baginya, dan puasanya tidak batal. Begitu juga lupa makan dan minum saat berpuasa, maka tidak berdosa dan tidak batal puasanya.

Ketiga, karena tidak mengerti hukum. Misalnya berbicara di waktu salat, maka tidak batal salatnya dengan syarat pembicaraan yang dia ucapkan sedikit. Dan penyebab ketidaktahuan hukum Islam tersebut adalah karena ia baru masuk Islam, atau ia hidup jauh dari sentuhan dakwah seorang ulama.

Keempat, karena kesulitan. Yakni sulitnya menghindar dari sesuatu yang najis, seperti kotoran burung yang banyak sekali bertebaran di atas tempat thawaf, menghindari debu jalanan yang biasanya mengandung najis, atau salat dengan membawa najis-najis yang dimaafkan (baca: Sepuluh Macam Najis yang Dimaafkan).

Kelima, karena bepergian. Misalnya seseorang boleh mengqasar, menjamak salat dan tidak berpuasa disebabkan menempuh perjalanan yang telah mencapai dua marhalah.

Keenam, karena sakit. Di antara contoh dispensasi yang diberikan untuk umat Muslim yang sedang sakit adalah, tayamum sebagai pengganti wudu jika berat menggunakan air, bolehnya salat fardlu dengan duduk, menjamak salat (menurut Imam Nawawi) dan tidak berpuasa Ramadan (tetapi harus diganti di hari lain).

Ketujuh, karena kekurangan/minus. Setiap manusia pastinya menghendaki sesuatu yang sempurna, dan tidak menyukai adanya unsur kekurangan. Tetapi syariat memberikan dispensasi hukum agama disebabkan oleh adanya unsur minus/kurang. Seperti tidak diwajibkannya melaksanakan salat dan puasa bagi orang gila dan anak kecil yang belum baligh, tidak diwajibkannya salat Jumat bagi seorang wanita, budak laki-laki, anak kecil yang belum baligh dan lain-lain.

Baca Juga :  Sebagai Muslimah, Ini Tips Mempercantik Diri yang Perlu Diperhatikan

 

[Diolah dari kitab Al Tsamaratul Mardliyyah, ulasan Nadham Qawaid Fiqhiyyah Alfaraid al Bahiyyah karya KH. M. Yahya Khusnan Mansur, dan Alfawaid Aljanniyyah Hasyiyyah Almawahib Alsunniyyah Fi Nadhm Alqawaid Alfiqhiyyah Fil Asybah wan Nadhair Ala Madzhab Alsyfiiyyah karya Syekh Muhammad Yasin Alfadani]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here