Tujuh Hal yang Perlu Diketahui Terkait Perbedaan Mazhab Fikih

15
5388

BincangSyariah.Com – Fakta adanya perseturuan antara kelompok dengan kelompok  lainnya akibat perbedaan pegangan dalam bermazhab menjadi bukti nyata kurangnya pemahaman terhadap prinsip-prinsip mendasar diantara mereka.

Prinsip-prinsip kemudahan dalam ajaran islam seharusnya mendasari pemahaman mereka dalam bermazhab, agar tidak mudah menyalahkan antara satu dengan lainnya yang tak jarang mengakibatkan pertengkaran.

Pertengkaran antara satu dengan kelompok lain pada prinsipnya terjadi karena banyak dari penganut mazhab tidak mengenal dan mengetahui prinsip-prinsip memahami perbedaan pendapat dalam bermazhab. Sehingga kesan yang paling nampak terletak bahwa kebenaran hanya berada dalam mazhabnya sedangkan mazhab lainnya salah.

Padahal, pendiri mazhab sekalipun tidak pernah menvonis pendapat yang berbeda sebagai mazhab yang salah. Maka dari itu penulis ingin berbagi ilmu untuk mengatasi hal tersebut sebagaimana dibawah ini

  1. Hindari Sifat Fanatisme

Fanatisme terhadap salah satu pendapat dalam bermazhab dapat mengakibatkan ketidakjernihan hati dalam memandang seseorang yang berbeda. Bahkan lebih dari itu, tidak jarang kita temui kelompok yang sangat fanatik, menghujat, menyesatkan dan bahkan mengkafirkan kelompok lain yang tidak satu aliran.

Kita harus bijak memandang perbedaan pendapat ulama fikih dengan tidak menyalahkan apalagi menyesatkan orang lain atau kelompok yang tidak satu mazhab dengan kita. Karena kebenaran dalam ranah fikih tidak hanya dimiliki satu mazhab tertentu akan tetapi mazhab lainnya juga berhak memiliki kebenaran.

Kebijaksanaan dalam bermazhab juga tercermin dalam keyakinan kita bahwa fikih sebagai sebuah produk pemikiran ulama yang telah dihasilkan melalui cara ijtihad. Fikih sejatinya tidak statis. Justru ia akan selalu saja mengalami perubahan dan perkembangan sesuai dengan perkembangan zaman itu sendiri.

  1. Hindari Sikap Terlalu Tekstual

Kebanyakan kita dalam menjadikan mazhab tertentu sebagai rujukan pengamalan fikih hanya berhenti di teks hasil ijtihad pendiri atau ulama mazhab. Namun, kita jarang (atau tidak pernah) menelaah lebih dalam apa makna yang berada dibalik teks seperti, ‘illah (motif), maqashid (tujuan) dan dasar yang dijadikan pegangan dalam melakukan ijtihad tentang persoalan tertentu.

Baca Juga :  Doa Agar Dijauhkan Dari Sifat Pengecut dan Pikun

Akibatnya, fikih dianggap sebagai sesutu yang suci yang tidak boleh di otak atik ulang dalam menerjemahkan ke dalam konteks kekinian. Padahal, faktanya yang terjadi para pendiri mazhab seringkali menghasilkan fikih yang berbeda dari fikih hasil sebelumnya dalam berijtihad hanya karena faktor illah (motif),  maqashid (tujuan) dan pegangan. Contoh pendapat lama dan barunya imam Syafi’i.

  1. Hindari Sikap Berlebihan dalam Memegang Prinsip Kehati-hatian (Ihtiyath)

Prinsip kehati-hatian dalam bermazhab itu penting tapi jangan terlalu berlebihan. Karena berlebihan dalam prinsip kehati-hatian kadang kala mengakibatkan hal-hal yang tabu dan menyulitkan terbih bagi kalangan awam.

Salah satu contoh yang terbiasa terjadi dikalangan awam dalam urusan najis. Mereka memandang lantai rumah itu najis sehingga harus memakai sandal (sucian) setelah dari kamar mandi agar shalatnya tidak batal, padahal najis itu dalam ketentuan fikih harus didasarkan pada keyakinan karena adanya bukti yang berupa bendanya.

Contoh lainnya, banyak dari kita yang terlalu memegang prinsip kehati-hatian dalam urusan shalat. Mereka disaat sakit ternyata banyak meningalkan shalat karena memandang dirinya merasa najis atau atau tidak suci.

Padahal, shalat apapun kondisinya tetap harus ditegakkan kecuali hilang akal dan tertidur. Hal semacam ini mengakibatkan kefatalan yang luar biasa karena meninggalkan isi (shalat) disebatkan salah pandang terhadap kulit (syarat-syarat).

  1. Tidak boleh Menghilangkan Prinsip Darurat dan Pengecualian

Prinsip darurat dan pengecualian dalam Islam sangat diperhitungkan keberadaannya. Kondisi darurat yang dialami seseorang terbukti dapat menghalalkan segala cara yang pada awalnya tidak diperbolehkan. Contohnya, shalat dalam kondisi najis bagi seseorang yang sudah tidak memunkinkan bersuci, seperti orang mengalami istihadhah dan selalu keluar kencing.

Hanya saja prinsip ini tidak boleh dilonggarkan seluas mungkin, ada batasan-batasan tersendiri yang kesemuanya tetap dikembalikan pada kebiasaan dan nalar seseoranga. Contohnya hal diatas kalau sudah dimungkinkan dilakukan secara normal maka dengan sendirinya prinsip darurat sudah tidak lagi dijadikan pegangan.

  1. Tidak Boleh Menghilangkan Nilai-Nilai Kemaslahatan
Baca Juga :  Hikmah Pagi: Mengenal Hakikat Sifat Muruah

Ibn al-Qayyim mengatakan, “syariah islam didasarkan pada hikmah dan kemaslahatan manusia sebagai hamba Allah baik di dunia ataupun di akhirat”. Berarti persoalan yang tidak bernilai kemaslahatan, keadilan, kerahmatan dan hikmah tidak terkatagorikan sebagai syariah islam.

Nilai-niai kemaslahatan ini harus menjadi pegangan kita dalam bermazhab karena sejatinya sebagaimana di nyatakan dengan jelas oleh Ibn al-Qayyim diatas islam ini sebagai panduan hidup manusia lahir berdasarkan prinsip kemaslahatan.

Apapun yang ditemukan dalam suatu pendapat mazhab tertentu yang nilai-nilai kemaslahatannya sudah tak begitu diraskan hususnya di era sekarang ini jangan dipertahankan sebagaimana bentuk aslinya, harus ditilik ulang dengan menggunakan sudut pandang yang sesuai dengan era kekinian.

  1. Tidak Boleh Melupakan Prinsip Fikih yang Elastis dan Kondisional

Sebagaimana disinggung diatas terkait perbedaan pendapat mazhab syafi’i antara qaul jadid dan qaul qadim-nya (pendapat baru dan lama) sudah menjadi cukup bukti bahwa fikih itu elastis dan kondional. Karena ia sebagai produk pemikiran, yang pastinya bertalian dengan tempat, waktu dan kondisi.

Berarti kita harus berkeyakinan bahwa apapun yang belum disinggung oleh ulama’-ulama’ terdahulu kita dan menjadi produk pemikiran fikih ulama-ulama’ sekarang seperti tentang wajibnya pencatatan perkawinan, bukanlah sebuah pertentangan dan pelanggaran sehingga terkesan dibeda-bedakan dan diabaikan.

  1. Tidak Boleh Mengesampingkan Prinsip al-Qath’i dan al-Zhanni (Kebenaran Absolut dan Kebenaran Relatif)

Dalam menyikapi perbedaan pendapat kita seringkali tidak membedakan mana yang absolut dan mana yang relatif sehingga kita terkesan eksklusif (tidak mau kenenaran dari luar kita). Padahal, sebagaimana disinyalir dalam kaidah bahawa titik poros kerjanya fikih adalah berada pada hal-hal yang berbau zhanniyat (relatif).

Fikih tidak dikatakan syariah murni yang statis sehingga bersifat plural dan selalu saja menimbulkan perbedaan dalam sejarah perkembangannya. Contohnya kewajiban melaksanakan shalat sebagai syariah yang selamanya statis karena berada diranah qath’iyyat. Berbeda dengan sebagian syarat sahnya shalat seperti melafalkan niat yang masuk pada ranah zhanniyat. Sehingga tidak ada ulama’ yang  berbeda pendapat tentang kewajiban menjalankan shalat tapi terkait niat dalam shalat ada yang mewajibkan dan ada yang tidak mewajibkannya.

Baca Juga :  Mengenal Konsep Istihsan sebagai Sumber Hukum Islam

Sumber: Khathawaat fi Fiqh al-Ta’aayusy wa al-Tajdid karya Dr. Hani Ahmad Faqih, Dosen Universitas al-Madinah al-Munawwarah.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

15 KOMENTAR

  1. Mohon maaf meluruskan!
    Dalam paragraf terakhir ada kata niat, yang dimaksud oleh penulis bukan niat tapi melafalkan niat dalam shalat.
    Terimakasih. Mohon maaf yang sebesar-besarnya.

  2. Yang salah itu Ustadz yang menjelaskan fikih madzhab.
    Banyak Ustadz yang ngaku menguasai ilmu fikih tapi tidak pernah mempelajari ilmu ushul-nya.
    Apalagi dalam setiap ceramahnya srlalu membuka ruang tanya-jawab yang menuntut pemahaman yang luas.
    Lihat contoh yang sering keseleo dalam menjawab; Mama Dedeh, Abdul Somad, Adi Hidayat, dll.
    Mereka yang awam biasanya menelan bulat2

  3. Yang salah itu Ustadz yang menjelaskan fikih madzhab.
    Banyak Ustadz yang ngaku menguasai ilmu fikih tapi tidak pernah mempelajari ilmu ushul-nya.
    Apalagi dalam setiap ceramahnya selalu membuka ruang tanya-jawab yang menuntut pemahaman yang luas.
    Lihat contoh yang sering keseleo dalam menjawab; Mama Dedeh, Abdul Somad, Adi Hidayat, dll.
    Mereka yang awam biasanya menelan bulat2
    Ini komen orisinil
    Dadak nyusun redaksi tanpa konsep

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here