Ini Tujuh Hal Penyebab Sikap Sombong

2
3092

BincangSyariah.Com – Nabi Muhammad mengakui bahwa dirinya diutus untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia. Ajaran yang dibawanya diklaim sebagai agama yang menebar kasih sayang kepada makhluk seluruh alam (wama arsalnaka illa rahmatal lil ‘alamin). Maka dalam berdakwah nabi Muhammad sangat memperhatikan cara-cara yang baik. Saat dihina dan dilecehkan, ia enggan membalas. Ia justru memaafkan dan tidak menyimpan dendam. Sebagaimana dalam kitab Maulid ad-Diba’i:

إِنْ أُوْذِيَ يَعْفُ وَلاَيُعَاقِبُ

Artinya:

jika disakiti ia memaafkan dan tidak menghukumnya

Islam datang bukan hanya menjelaskan ajaran dan konsep ketuhanan. Melampaui itu semua, Islam lahir di atas kondisi moralitas bangsa Arab yang berada di titik nadir.

Perempuan diperlakukan secara diskriminatif, para hartawan semakin memupuk kekayaannya dan kapitalisme, pemupukan terhadap modal dan kekuasaan, menurut Karen Amstrong dalam Islam; a Brief History menjadi inti kehidupan Arab jahiliyah. Sehingga mereka melupakan akhlak terhadap manusia dan menjadikannya hal yang paling tidak diperhatikan.

Pada prinsinya mereka terganggu jika pengaruh, kekuasaan dan sumber ekonomi dengan kedatangan ajaran Muhammad. Mereka yang menolak ajaran Islam dengan sikap yang angkuh dan kesombongan atas yang mereka miliki. Hal ini terekam dalam Al-Quran surat az-Zukhruf ayat 31 yang berbunyi:

وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَٰذَا الْقُرْآنُ عَلَىٰ رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ

Artinya:

dan mereka berkata, Mengapa Al-Quran ini tidak diturunkan kepada orang besar (kaya dan berpengaruh) dari salah satu dua negeri ini (Mekah dan Thaif)?

Dua Imam Jalaludin dalam kitab tafsir Jalalain memberikan tafsir ayat di atas bahwa mereka yang dimaksud dalam ayat ini ialah Abdul mughiroh (pembesar Mekah) dan Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqofi (pembesar Thaif).

Baca Juga :  Bahaya Sikap Sombong Bagi Para Penuntut Ilmu

Mereka menganggap sebagai orang yang lebih layak menerima wahyu (Al-Quran) daripada Muhammad. Karena ia adalah pembesar di Mekah dan Thaif. Keangkuhan dan kesombongan telah membutakan bangsa Arab Jahiliyyah terhadap kebenaran Islam.

Oleh karena itu, penting mengetahui apa yang menyebabkan rasa sombong yang muncul pada diri manusia. Sehingga kita dapat terus mawas diri dari sifat sombong.

Apalagi baru-baru ini beredar video yang memeragakan kecongkakan dengan merasa dirinya yang paling Islam. Sehingga dengan mudahnya ia menuduh kafir yang lain hanya enggan saat dipaksa mengucapkan takbir.

Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Maroqil Ubudiyah menyebutkan tujuh hal yang berpotensi menjerumuskan manusia pada sifat sombong.

Pertama, ilmu pengetahuan. Orang yang memiliki ilmu memiliki potensi terserang penyakit sombong. Karena bencana ilmu adalah kecongkakan.

Kedua, amal dan ibadah. Ulama dan ahli ibadah memungkinkan masuk dalam tiga tingkat kesombongan. Kesombongan yang pertama ialah kesombongan yang terdapat pada hatinya.

Ia merasa lebih baik dan telah beribadah lebih banyak dibanding yang lain. Orang seperti ini di dalam hatinya akan tertanam syajaratul kibar (pohon kesombongan).

Kesombongan yang kedua yaitu kesombongan yang ditampilkan dalam perbuatannya. Seperti marah saat tidak dihormati, memalingkan wajahnya dari orang lain dan lain sebagainya. kesombongan ketiga yang muncul dalam perkataan.

Mengatakan kepada orang lain “siapa dia, apa amal yang telah ia perbuat, apakah dia seorang zuhud, dan seterusnya”. Atau berkata, “aku adalah orang yang rajin berpuasa sunah, melakukan qiyamul lail, ilmuku lebih mumpuni karena diperoleh dari syekh ini, ini dan seterusnya”.

Ketiga, nasab atau keturunan. Orang yang memiliki silsilah keturunan yang mulia bisa terjerumus pada kesombongan. Ia sangat mungkin untuk merendahkan orang yang tidak memiliki mata rantai nasab yang baik, sekalipun ia seorang alim dan baik amalnya.

Baca Juga :  Coba Introspeksi, Pernahkah Kita Sombong Saat Mendapatkan Nikmat?

Keempat, ketampanan atau kecantikan. Hal ini dapat menyeret pemiliknya kepada mencela dan membuka aib atau keburukan orang lain karena merasa dirinya yang sempurna.

Kelima, harta kekayaan. Syekh Nawawi mencontohkan seperti penguasa dengan harta kekayaannya, pemodal dengan komoditasnya, pejabat pemerintah dengan wilayah kekuasannya, dan orang-orang yang memperindah diri dengan pakaian dan kendaraannya.

Keenam, kekuatan dan menggunakannya untuk menindas yang lemah. Ketujuh, memiliki pengikut, murid dan kerabat yang banyak. Meskipun ia sendiri tidak memiliki kesempurnaan, akan tetapi dengan banyaknya murid dan pengikut ia bisa terdorong bersikap sombong.

Dengan mengetahui hal-hal yang bisa menyebabkan bersikap sombong, semoga kita semua bisa tetap berhati-hati, bersikap tawadhu’ dan selalu tidak membanggakan apa yang dimilikinya. Baik berupa ilmu, amal dan ibadah, nasab, harta, kekuatan dan pengikut. Amin…

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here