Tujuan dan Tingkatan Manusia dalam Beribadah

1
7707

BincangSyariah.Com – ‘Abdurrahman ‘Abdul Khalik menyebutkan dalam al-Maqâṣid al-‘Ammah li asy-Syarî’ah al-Islâmiyyah (1985: 6& 9) bahwa tujuan utama Allah menciptakan makhluk, seperti malaikat, jin, manusia, benda-benda padat, dan makhluk-makhluk lain adalah untuk beribadah. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam al-Qur’an surat aż-Żâriyât (51): 56 dan al-Anbiyâ’ (21): 26-28. Oleh karena itu, ‘Abdurrahman ‘Abdul Khalik menganggap ibadah kepada Allah sebagai salah satu tujuan umum syariat Islam (maqâṣid asy-syarî’ah al-‘ammah) yang harus diwujudkan oleh umat Islam.

Dalam konteks manusia, ‘Alî ‘Utsman ketika memberikan pengantar buku Mafhûm al-‘Ibâdah fî al-Isâm (1991: 5), karya cendekiawan Muslim dan kristolog ternama, Ahmad Deedat, mengatakan bahwa tujuan utama diciptakannya manusia adalah untuk beribadah kepada Allah.

Sementara menurut Imam ar-Râgif al-Aṣfihânî, manusia diciptakan oleh Allah selain untuk beribadah, juga bertujuan untuk memakmurkan bumi dan menjadi khalifah (pengganti) Allah yang bertanggungjawab mengatur dan mengelola kehidupan di bumi sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah.

Ketiga tujuan ini disebutkan secara jelas dalam al-Qur’an surah Hûd (11): 61, aż-Żâriyât (51): 56, dan al-’A‘râf (7): 129 (Yûsuf al-Qaraḍâwî, as-Sunnah Maṣdaran li al-Ma‘rifah wa al-Ḥaḍârah, 1997: 242-243).

Adapun definisi ibadah sendiri, menurut Ibn Taymiyyah, adalah segala sesuatu yang disukai dan diridai oleh Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan batin atau lahir. Beliau memberikan beberapa contoh ibadah, seperti: salat, zakat, puasa, haji, jujur ketika berbicara, menunaikan amanah, berbakti kepada kedua orang tua, silaturahmi, menepati janji, menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, memerangi orang-orang kafir dan munafik, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibn sabîl (pengembara dan gelandangan), budak atau pembantu, dan binatang, berdoa, zikir, dan membaca al-Qur’an, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah dan kembali (tobat) kepada-Nya, tulus beragama karena Allah, sabar terhadap ketentuan-ketentuan-Nya, bersyukur terhadap nikmat-nikmat-Nya, rela terhadap keputusan-Nya, tawakal, mengharap (rajâ’) rahmat-Nya, takut (khauf) kepada siksa-Nya, dan lain sebagainya (al-‘Ubûdiyyah, 1999: 19).

Baca Juga :  Pendakwah itu Bagaikan Jarum, Jangan Jadi Gunting

Dengan demikian, menurut Yûsuf al-Qaraḍâwî, ibadah tidak hanya berkaitan dengan salat, puasa, sedekah, haji, umrah, doa, dan zikir semata, tetapi juga berkaitan erat dengan akhlak (tatakrama), peraturan, hukum (undang-undang), adat-istiadat, dan tradisi.

Pendek kata, ibadah berkaitan dengan seluruh urusan kehidupan umat manusia yang menyangkut  keagamaan ataupun keduniaan, baik lahir maupun batin (al-‘Ibâdah fî al-Islâm, 1995: 52-53).

Pendapat senada juga disampaikan oleh Ahmad Deedat bahwa ibadah meliputi semua perbuatan, niat (kehendak), dan perkataan yang disukai oleh Allah. Dengan kata lain, ibadah adalah semua ucapan atau perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka mencari rida Allah (Mafhûm al-‘Ibâdah fî al-Isâm, 1991: 15-16).

Sementara tujuan ibadah, menurut Imam ‘Izz bin ‘Abd as-Salâm, seluruhnya adalah semata-mata untuk mendekatkan diri (at-taqarrub) kepada Allah (Maqâṣid al-‘Ibâdât, 1995: 11). Adapun menurut Imam asy-Syâṭîbî, sebagaimana dikutip oleh Yûsuf al-Qaraḍâwî, ibadah secara garis besar memiliki dua tujuan, yaitu: tujuan pokok (primer) dan tujuan sekunder.

Tujuan pokok ibadah adalah: menghadapkan diri kepada Allah dengan hati ikhlas semata-mata karena-Nya dalam rangka tunduk dan patuh kepada-Nya; memperoleh derajat (kedudukan) mulia di akhirat; atau menjadi kekasih (wali) Allah; dan sejenisnya. Sedangkan tujuan sekunder ibadah adalah: memperbaiki dan menenangkan jiwa; memperoleh keutamaan dan hajat keduniaan; mencegah keburukan dan kemungkaran; masuk surga dan terbebas dari siksa neraka; mendapatkan penjagaan dari Allah; dan memperoleh kedudukan mulia (al-‘Ibâdah fî al-Islâm, 1995: 119-120).

Sedangkan menurut Abu Zahrah, tujuan ibadah yang disyariatkan oleh Allah, seperti salat, puasa, haji, zakat, dan lainnya adalah untuk membersihkan dan mendidik jiwa manusia dan mengukuhkan kehidupan sosial yang baik. Oleh karena itu, ketika jiwa manusia terdidik dan bersih, maka ia bisa mewujudkan kemaslahatan dan menekan keburukan-keburukan dalam kehidupan bermasyarakat (Uṣûl al-Fiqh, hlm. 364).

Dalam hal ini, menurut pemahaman penulis, selain untuk kemaslahatan hidup sosial, kebersihan jiwa sejatinya juga merupakan syarat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sebab, tidak mungkin jiwa-jiwa yang kotor bisa dekat dan bersanding mesra dengan Zat Yang Mahasuci. Tidak mungkin keindahan rembulan bisa dinikmati apabila ditutupi oleh gumpalan-gumpalan awan hitam.

Baca Juga :  Kritik terhadap Wensinck terkait Pandangannya Mengenai Imam al-Ghazali

Tidak mungkin pancaran sinar mentari bisa dilihat secara sempurna oleh mata yang sedang sakit. Benar kata Imam Bûṣîrî dalam Qaṣîdah Burdah: qad tunkiru al-‘ainu aw’a asy-syamsi min ramadin # wa yunkiru al-famu a‘ma al-mâ’i min saqami (mata yang sakit akan memungkiri keindahan cahaya mentari # dan lidah yang sakit akan memungkiri kenikmatan air).

Hal ini bukan berarti para pendosa tidak bisa dekat dengan Allah. Semua orang, termasuk para pendosa memiliki kesempatan yang sama untuk mendekatkan diri kepada Allah. Namun, menurut para ulama sufi, langkah pertama yang harus ditempuh adalah bertobat terlebih dahulu sebelum akhirnya menjalankan langkah-langkah (maqâmât) berikutnya, seperti warak, zuhud, sabar, fakir, syukur, khauf, rajâ, tawakal, dan rida (‘Abdullah bin ’Abî Bakr al-‘Aidrûs,al-Kibrît al-Amar wa al-Iksîr al-Akbar, hlm. 70).

Ketika seorang hamba bertobat, maka berarti ia berusaha membersihkan dirinnya dari noda-noda. Sehingga pada gilirannya ia―yang sudah disuci-bersihkan oleh Allah―akan menjadi dekat dengan Zat Yang Mahasuci. Meskipun harus diakui kesepuluh langkah (maqâmât) menuju Allah tersebut memang mudah ditulis dan diucapkan, tetapi sungguh sangat sulit dan berat untuk dijalankan atau dipraktikkan. Butuh kesungguhan dan pertolongan Allah untuk menjalankan kesepuluh langkah tersebut, sebagaimana dapat dipahami dari surat al-‘Ankabût (29): 69 ayat wa allażîna jâhadû fînâ la nahdiyannahum subulanâ (dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami pasti Kami tunjukkan jalan-jalan Kami).

Kalau seseorang sudah dekat dengan Allah, puncak segala cinta dan rindu, puncak segala keinginan dan harapan, lalu keinginan apa lagi yang ingin dicapai? Dalam sebuah kaidah dikatakan: kullu mâ yata‘allaqu bihî syarîfun fa huwa syarîfun (segala sesuatu yang bergantung atau berhubungan dengan sesuatu yang mulia, maka ia ikut dimuliakan). Hal ini sejalan dengan ayat 10 surat Fâṭir (35): man kâna yurîdu al-‘izzah fa li allâh al-‘izzah jamî‘an (barangsiapa manghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah).

Dengan demikian, kalau kita mendekatkan diri kepada cahaya, maka minimal tubuh kita akan terkena pancaran sinarnya. Sehingga orang lain melihat tubuh kita penuh dengan cahaya. Para nabi, wali, dan orang-orang saleh secara umum hidup mulia dan dimuliakan karena mereka berhubungan, bergantung, dan mengikatkan diri kepada Zat Yang Maha Mulia.

Baca Juga :  Kitab Bahjat al-Wudluh: Di Dunia, Susah dan Senang itu Silih Berganti

Dalam melaksanakan ibadah kepada Allah, menurut Sayyidunâ Abu Bakar ash-Shiddiq ra., terdapat tiga macam golongan: pertama, orang-orang yang beribadah dengan jalan khauf (takut kepada siksa Allah); kedua, orang-orang yang beribadah dengan jalan rajâ’ (mengharap rahmat Allah); dan ketiga, orang-orang yang beribadah dengan jalan ḥub (cinta kepada Allah).

Imam Nawâwî al-Jâwî menjelaskan sebuah perkataan (maqâla) bahwa kehendak al-‘ârif (ahli makrifat) adalah memuji kepada Tuhan dan kehendak az-zâhid (ahli zuhud) adalah doa. Sebab, tujuan al-‘ârif adalah Tuhannya dan tujuan az-zâhid adalah dirinya. Al-‘ârif  melakukan ibadah bukan untuk kepentingan dirinya, baik untuk memperoleh pahala ataupun surga, tetapi semata-mata karena (cinta) kepada Allah.

Sementara az-zâhid melakukan ibadah masih ditujukan untuk kepentingan diri sendiri, seperti ingin memperoleh kebaikan hidup di dunia dan akhirat (Syarḥ Naṣâ’ih al-‘Ibâd, hlm. 56 & 5). Oleh karena itu, ada pendapat yang mengatakan bahwa ibadah dengan jalan cinta adalah paling tinggi dan mulia. Karena ia dilakukan bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi dilakukan semata-mata untuk kekasihnya, yaitu Allah swt. Berbeda dengan ibadah dengan jalan khauf dan rajâ’ yang memang ditujukan untuk kepentingan diri sendiri. Akhirnya, wa allâh ’a‘lam wa a‘lâ wa aḥkam.

 

1 KOMENTAR

  1. Mas…..kenapa orang bisa jadi atheis, sedangkan masa mudanya dia orang yang sholeh, namun sering menyebut nama allah dikala sendiri, susah maupun senang, seolah2 tuhan itu sahabatnya….bukan tuhanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here