BincangSyariah.Com – Konon, dahulu kala di Jazirah Arabia, seorang laki-laki tengah dirundung malang. Ia mengalami kesulitan ekonomi. Hari-harinya dilalui dalam keadaan lapar. Suatu hari, ia ingin keluar rumah guna menghilangkan kesusahan ini. Maka ia pun keluar dengan wajah tanpa gairah, lesu.

Kakinya terus melangkah tak tentu arah sampai memasuki padang pasir yang luas. Matanya tertumbuk pada puing-puing istana yang sudah hancur. Semula istana itu tertimbun debu pasir, lalu angin kencang menerbangkannya sehingga menyingkap puing istana itu. Dia kemudian memeriksa setiap sudut di dalam istana tersebut. Tiba-tiba ia melihat di sebuah tembok sebuah prasasti yang berupa puisi-puisi yang indah. Ia membacanya dengan hati berdegup:

لَمَّا رَأَيْتُكَ جَالِساً مُسْتَقْبِلاً # أَيْقَنْتُ أَنَّكَ لِلْهُمُومِ قَرِينٌ

مَالضا يَقْدِرُ لَا يَكُونُ بِحِيلَةٍ # أَبَداً وَمَا هُوَ كَائِنٌ سَيَكُونُ

سَيَكُونُ مَا هُوَ كَائِنٌ فِي وَقْتِهِ # وَأَخُو الْجَهَاَلةِ مُتْعِبٌ مَحْزُونٌ

يَجْرِى الْحَرِيصُ وَلَا يَنَالُ بِحِرْصِهِ # شَيْئاً وَيَحْظَى عَاجِزٌ وَمَهِينٌ

فَدَعِ الْهُمُومَ وَتَعِرُّ مِنْ أَثْوَابِهَا # إنْ كَانَ عِنْدَكَ بِالْقَضَاءِ يَقِينٌ

هَوِّنْ عَلَيْكَ وَكُنْ بِرَبِّكَ وَاثِقاً # فَأَخُو الْحَقِيقَةِ شَأْنُهُ التَّهْوِينُ

طَرْحُ اَلأَذَى عَنْ نَفْسِهِ فِي رِزْقِهِ # لَمَّا تَيَقَّنَ أَنَّهُ مَضْمُونٌ

 

Manakala aku melihatmu duduk menghadap kiblat

Aku yakin kau sedang ditemani gelisah

 

Apa yang ditetapkan

Tak bisa direkayasa

 

Apa yang telah ditetapkan ada, ia akan ada

Apa yang akan ada, ada pada saatnya

Berteman kebodohan selalu melelahkan dan menderitakan

 

Ada orang yang semangat mencari rezeki

Tetapi ia tak memperoleh apa pun

Ada orang tak berdaya dan tersisihkan

Tetapi ia memperoleh keberuntungan

 

Tinggalkan gelisah hatimu

Lepaskan bajunya

Jika kau yakin pada ketetapan Tuhan

 

Bersikaplah tenang

Percayakanlah kepada Tuhanmu

Orang yang tahu hakikat akan senantiasa tenang

Ia membuang segala duka dalam  urusan rezeki

Ketika ia yakin bahwa Tuhan menjaminnya

Usai membaca puisi-puisi itu, air matanya berderai-derai, membasahi pipinya, penuh haru. Ia pun segera kembali ke rumahnya dengan hati yang optimis. Dia yakin bahwa Allah pasti akan memberinya jalan keluar dari kesulitannya.

Baca Juga :  Hukum Memegang Tongkat saat Khutbah Jumat

Terkait dengan puisi-puisi di atas, saya masih ingat syair-syair dengan makna serupa yang saya kenal sejak di pesantren. Antara lain:

عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللهِ إِنْ كُنْتَ غَافِلاً # سيأْتِيْكَ بِالْأَرْزَاقِ مِنْ حَيْثُ لاَتَدْرِيْ

فَكَيْفَ تَخَافُ الْفَقْرَ وَاللهُ رَازِقًا # فَقَدْ رَزَقَ الطَّيْرَ وَالْحُوْتَ فِى الْبَحْرِ

Bertakwalah kepada Allah bila kau lalai

Akan datang kepadamu rezeki

Tanpa kau mengerti dari mana

 

Bagaimana kau takut miskin

Padahal Allah Pemberi rezeki

Dia beri rezeki

Kepada burung-burung di udara dan ikan di laut.[]

[Tulisan ini disadur dari buku Lawaamii’ al-Hikmah ‘Pendar-pendar Kebijaksanaan’]

13 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here