Tubuh Perempuan, Milik Siapa?

0
1317

BincangSyariah.Com – Kedudukan perempuan di tengah masyarakat Jahiliyyah saat Islam hadir sangatlah mengenaskan. Mereka tidak hanya diperlakukan seperti hewan, melainkan juga bagaikan benda mati. Misalnya bayi perempuan biasa dikubur hidup-hidup (an-Nahl/16:58-59); dipaksa menikah lalu diceraikan sebelum alami menstruasi pertama (ath-Thalaq/65:4); dipoligami dengan jumlah istri tak terbatas dan tanpa syarat adil (an-Nisa/4:3 membatasi hanya 4 istri dengan syarat adil dan mendorong monogami); Istri juga boleh dicerai lalu dirujuk berkali-kali tanpa batas (al-Baqarah/2:229 membatasi maksimal dua kali yang boleh dirujuk); diwariskan (an-Nisa/4:19 melarang keras praktik tersebut); dinikahi sedarah (an-Nisa/4:23 melarang keras), dan masih banyak contoh lainnya.

Tradisi seperti ini tidak hanya ditemukan di masyarakat Jahiliyah saat Islam hadir, tapi di mana-mana. Bahkan sampai kini ada tradisi honour killing yang kebanyakan korbannya perempuan. Mereka dibunuh keluarganya sendiri karena dianggap mencemarkan nama baik keluarga. Iya, itu di zaman sekarang!

Dalam situasi seperti tersebut, siapakah pemilik tubuh perempuan? Betul, tubuh perempuan adalah milik mutlak laki-laki! Bagaimana menurut Islam? Perubahan revolusioner apa yang dilakukan? Tauhid dalam Islam mengubah secara revolusioner kedudukan laki-laki dan perempuan. Laki-laki dilarang menuntut perempuan untuk tunduk mutlak, sebab sebagai sesama hamba Allah keduanya hanya boleh tunduk mutlak pada Allah.

Laki-laki juga dilarang menuntut perempuan untuk mengabdi pada kemaslahatan laki-laki saja. Sebab sebagai sesama khalifatullah fi al-ardh keduanya mengemban amanah Allah untuk bersama-sama mengabdikan diri demi kemaslahatan makhluk-Nya di muka bumi, seluas-luasnya. Prinsip dasar Tauhid ini juga berdampak pada jawaban tentang siapakah pemilik mutlak tubuh perempuan? Tubuh perempuan, sebagaimana tubuh laki-laki, adalah milik mutlak Allah. Apa artinya?

Laki-laki dan perempuan sama-sama hanya boleh gunakan tubuhnya dan tubuh-tubuh orang lain secara bermartabat. Yakni diperbolehkan agama (halalan), baik (thoyyiban), lagi pantas/layak (ma’rufan). Hanya dengan cara ini manusia bisa membuat tubuhnya maslahat bagi diri sendiri dan pihak lain.

Baca Juga :  Menurut Ulama, Ini Sepuluh Alasan 10 Muharam disebut Hari Asyura

Jadi, tubuh laki-laki dan perempuan adalah milik Allah. Namun keduanya bertanggungjawab atas penggunaannya secara bermartabat. Di Hari Perhitungan (Yaumul Hisab) kelak, tubuh manusia bahkan akan bersaksi langsung di hadapan Allah untuk apa digunakan selama di dunia. “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan (Yasin/36:65).

Semoga kita bisa terus gunakan tubuh kita, dan perlakukan tubuh-tubuh orang lain secara bermartabat. Semoga juga kelak tubuh kita sibuk bersaksi tentang kebaikan-kebaikan yang kita lakukan selama di dunia. Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here