Tuan Guru Bajang Soroti Ajakan Kembali kepada Alquran dan Hadis

2
1356

BincangSyariah.Com – Dalam beberapa kesempatan, kadang kita mendengar beberapa orang menyerukan slogan “mari kembali kepada Alqur’an dan hadis”. Hal ini biasanya terjadi pada konteks di mana banyak orang orang, melalui amaliahnya, dianggap tidak lagi mengacu kepada Alquran dan hadis sebagai landasannya.

Ajakan ini sangat bagus, mengingat salah satu asas beragama adalah dengan saling menasehati kalau saudaranya melakukan kekeliruan dan penyimpangan. Hal ini sebagaimana tersirat dalam surat Al-‘Ashr ayat 2-3,

“Sesungguhnya manusia mengalami kerugian, kecuali mereka yang beriman dan beramal sholeh serta saling menasihati dengan kebaikan dan kesabaran”

Namun, membicarakan fenomena maraknya seruan kembali kepada Al-Qur’an dan hadis ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Diantaranya adalah dengan memahami betul argumen yang dipakai kelompok yang ingin kita nasehati.

Karena, tidak semua yang kita lihat berbeda dalam pengamalan agama itu keliru. Ini soal ekspresi dan tafsir masing-masing kelompok terhadap agama yang memang meniscayakan keragaman sudut pandang.

Sebagai contoh, tidak fair ketika kita menyalahi beberapa amaliyah kelompok lain tanpa menanyakan kepada orang tersebut apa yang melandasi amaliyahnya tersebut.

Alih-alih mengajak diskusi, Ia lebih memilih mengatakan “mari kembali kepada Alquran dan hadis”.Hal tersebut tentu merupakan sikap bahwa dia benar-benar ingin menutup diskusi dengan menawarkan solusi agar kembali kepada nilai Alquran hadis dengan jalan yang lurus.

Di acara Picnikustik Komunitas Musisi Mengaji (KOMUJI) Jakarta, sebuah acara rutinan bulanan yang memadukan pentas kesenian dan tausiyah keagamaan yang diselenggarakan di Medco Ampera, Jakarta Selatan pada Rabu 29 Januari lalu dengan tema “The Miracle of The Al-Qur’an”, salah satu pemateri, Tuan Guru Bajang (TGB) atau Dr. Muhammad Zainul al-Majdi mengulas sekilas fenomena “Kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis”

Menurut beliau, memahami ajakan kembali kepada Alquran dan hadis perlu penalaran yang kompleks, tidak bisa dipahami secara telanjang. Dengan artian, tidak semua amalan-amalan yang tidak dinarasikan secaaara tersurat dalam Al-Qur’an berarti salah.

Al-Qur’an, dalam banyak hal menjelaskan hal hal yang bersifat global. Tidak terperinci.

“Dalam banyak hal Al-Qur’an tidak membicarakan hal-hal yang terperinci. Al-Qur’an mendiamkan keragaman yang ada,” pungkas Doktor di bidang Tafsir Universitas Al-Azhar Kairo ini

Beliau mencontohkan masalah pakaian. Islam menganjurkan untuk berpakaian yang rapi serta menutup aurat, hal ini jika diterjemahkan dalam berbagai konteks bisa menghasilkan beragam bentuk tafsir.

“Saat berada di Arab, baiknya pakai jubah, karena disana budaya pakaiannya jubah. Jika di Turki pakai tubrus, jika di Indonesia pakai sarung dan sejenisnya.”

“Islam mengajarkan nilai, bukan pada bentuk amaliahnya. Kecuali pada beberapa hal yang sifatnya prinsipil, semisal tentang keesaan Tuhan, dan akidah dasar lainnya.” Demikian tandas sosok yang pernah menjadi Gubernur Nusa Tenggara Barat selama dua periode (2008-2018) ini.

Jika demikian, bisa dipahami bahwa interpretasi segolongan kelompok atas Al-Qur’an dan hadis bisa jadi berbeda dengan yang lain. Fenomena inl ini tidak bisa ditafsirkan sebagai sebuah bentuk pemahaman yang keluar dari ajaran Al-Qur’an dan hadis. Sehingga ajakan kembali pada al-Qur’an dan hadis dengan makna hanya satu pemahaman yang benar adalah pandangan yang keliru.

Terlebih, lanjut TGB, ajakan kembali kepada Alquran dan hadis berarti mempelajari segala perangkat keilmuan yang mendukung untuk memahami Quran dan hadis secara baik yang benar. Tanpa itu seruan tersebut tidak akan menghasilkan apa-apa, malah membuahkan kesalahpahaman.

Baca Juga :  Apakah Allah Mengabulkan Doa Non-Muslim yang Teraniaya?

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here