BincangSyariah.Com- Boleh jadi, bahasan tentang marah agak terlupakan di tengah momen idul fitri, momen yang umumnya mengkondisikan orang untuk berbahagia, saling memaafkan, dan tidak ada lagi perasaan mengganjal dalam hati, apalagi sampai marah. Ini saya rasa adalah diantara keberkahan yang didapatkan dari momen idul fitri.

Kita berulang-ulang mengucapkan taqabbalallahu wa minna wa minkum (semoga Allah menerima ibadah yang kita dan kalian lakukan) atau mina al-‘aaidin wa al-faaizin (semoga (kita) termasuk orang yang kembali kepada Allah dan mendapatkan kemenangan), atau dengan menggabungkan kedua ungkapan itu, atau menggabungkannya, seluruhnya menyajikan sebuah sikap optimis dan harapan semoga kita menjadi hamba yang semakin baik setelah Ramadan.

Tapi, siapa yang tahu boleh jadi ada riak-riak yang tidak terduga yang menjadikan kita marah. Dalam kehidupan tidak selalu mulus memang. Ada saja yang tidak sesuai dengan yang kita kehendaki dan tidak bisa ditolelir lalu membuat kita marah.

Marah adalah bagian dari sifat kemanusiaan. Nabi Saw. Menyadari hal itu. Sehingga dalam suatu kasus, beliau pernah bersabda

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رجلا قال للنبي صلى الله عليه وسلم: أوصني، قال : لاتغضب فردد مرارا، قال : لاتغضب. رواه البخاري

Dari Abu Hurairah bercerita, ada seorang lelaki mendatangi Rasulullah Saw. lalu ia berkata, “berilah wasiat padaku,” Nabi Saw menjawab, “Jangan Marah,” tapi si laki-laki itu bertanya lagi berkali-kali. “Jangan Marah!” kata Rasulullah Saw. (HR. Bukhari)

Beliau ingin menegaskan kalau marah itu tidak baik, meski itu bagian dari tabiat kemanusiaan. Banyak para ulama yang membahas, bahwa ada banyak tabiat kemanusiaan yang sebaiknya tidak diikuti karena itu adalah bagian memperturutkan hawa nafsu.

Baca Juga :  Doktrin Trinitas dan Tafsir al-Maidah Ayat 73

Marah – yang dalam Bahasa arab disebut ghadab – digolongkan sebagai perwujudkan hawa nafsu yang dalam Bahasa arab disebut nafsu al-Ammaarah. Ammarah kurang lebih berarti ingin memaksakan kehendak kita kepada orang lain. Ini adalah bagian dari memperturutkan hawa nafsu yang tidak direstui oleh ajaran agama.

Quran menegur mereka yang mengikuti hawa nafsu sampai pada derajat menuhankannya. Misalnya dalam ayat, Alam Tara man ittakhadza ilaahahu hawaa.

Jika seseorang marah, nabi memberikan treatment (cara mengobati) untuk menanggulanginya. Nabi memerintahkan jika seseorang marah dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk untuk meredakan rasa marahnya. Jika masih belum hilang, ia bahkan diminta untuk berbaring. Jika tidak juga, maka Nabi Saw. memerintahkan orang itu untuk berwudhu dan shalat. (HR. Abu Daud)

Keseluruhan cara itu menggambarkan penurunan volume kegiatan dan relaksasi sehingga hawa nafsu bisa menjadi reda. Berwudhu dan shalat juga bisa mengalihkan perasaan dan menurunkan temperamen yang sedang ‘panas’. Bahkan jika seseorang memakan makanan yang dibakar saja, ada bimbingan Rasulullah Saw. untuk menurunkan hawa di dalam tubuh dengan berwudhu setelah memakannya. Meski al-Tirmidzi ber-istidlal kalau wudhu itu tidak menunjukkan kalau wudhu seseorang batal karena makan makanan yang dibakar, namun kita bisa mendapatkan pemahaman yang lain kalau ternyata wudhu bermanfaat untuk “memadamkan” amarah dan hawa nafsu yang menyala di dalam tubuh.

Jadi, apakah seseorang tidak boleh marah sama sekali ? Jawabannya tidak selalu. Agama memperbolehkan kita untuk marah dengan tujuan untuk menegur mereka yang melakukan perilaku bertentangan dengan ajaran agama. Tapi yang terpenting, marah itu harus diletakkan dalam tujuan mewujudkan kebaikan dan mencegah kemunkaran (al-amru bi al-ma’ruf wa al-nahyu ‘an al-munkar).

Baca Juga :  Rukyah Hilal Idul Fitri

Sebagai contoh, Nabi Saw. pernah marah kepada sebagian para sahabat yang menutupi pencurian yang dilakukan oleh Fathimah al-Makhzumiyyah. Permasalahannya, wanita itu tidak berani dilaporkan karena berasal dari kabilah terhormat. Nabi memarahi mereka dengan memberikan pernyataan keras, “kalau seandainya Fatimah bin Muhammad mencuri pasti akan ku potong tangannya” (HR. Bukhari&Muslim)

Kisah tersebut disebutkan dalam hadis berikut:

أَمَّا بَعْدُ ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ النَّاسَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ ، وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا“

“Amma ba’du: Sesungguhnya telah membinasakan umat sebelum kalian, ketika di antara orang-orang terpandang yang mencuri, mereka dibiarkan (tidak dikenakan hukuman). Namun ketika orang-orang lemah yang mencuri, mereka mewajibkan dikenakan hukuman hadd. Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, seandainya Fatimah puteri Muhammad mencuri, aku akan memotong tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Contoh lain adalah ketika Nabi Saw. menegur Ali bin Abi Thalib ketika diketuk rumahnya oleh Nabi di tengah malam karena ingin membangunkan tahajud. Ali Ra. yang waktu itu sudah menikah dengan Fatimah, enggan melakukannya karena menurutnya masih terlalu malam. Nabi Saw. pun tidak meneruskan mengajaknya lagi sambil memukulkan tangan ke pahanya dan turunlah ayat “wa kaana al-insaanu aktsara syai’in jadala”. (HR. Bukhari)

Kisah ini dituturkan dalam hadis yang terdapat di kitab Shahih Bukhari berikut:

ان علي بن ابي طالب أخبره أن رسول الله صلى الله عليه وسلم طرقه وفاطمة بنت النبي عليه السلام ليلة فقال الا تصليان فقلت يا رسول الله أنفسنا بيد الله فاذا شاء أن يبعثنا بعثنا فانصرف حين قلنا ذلك ولم يرجع الي شيئا ثم سمعته وهو مول يضرب فخذه وهو يقول ( وكان الانسان أكثر شيئ جدلا)

Baca Juga :  Hukum Memakai Baju Baru saat Lebaran

Mudah-mudahan dalam suasana idul fitri ini, kita terhindar dari perilaku marah yang tidak diperkenankan oleh agama. Amin***

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here