Transaksi Forex dan Money Changer Menurut Paradigma Ushul Fikih

2
76

BincangSyariah.Com – Mungkin pembaca sudah tidak asing lagi dengan istilah Forex. Bahkan, mungkin Anda termasuk salah satu pelakunya di dunia digital. Untuk Anda yang belum tahu, di sini, penulis akan coba untuk mengurai tentang apa itu forex, dan apa itu trading forex. Bagaimana mekanisme trading forex itu dilangsungkan. Inilah yang akan coba kita kupas.

Pengertian Forex

Forex merupakan kependekan dari Foreign Change (bursa mata uang asing). Mata uang asing sendiri sering kita sebut dengan istilah valuta asing (valas). Jadi, bila kita berbicara mengenai bursa mata uang asing, maka secara tidak langsung kita diarahkan untuk memahami bahwa maksud dari  bursa itu adalah terjadinya pertukaran mata uang asing.

Secara klasik, pertukaran mata uang asing ini sering dilakukan lewat money changer, misalnya Western Union, dan beberapa perbankan di Indonesia. Untuk melakukan pertukaran, kita dituntut untuk datang ke tempat money changer tersebut, pada waktu jam kerja, melakukan antrean, dan sebagainya. Dan yang terpenting untuk dicatat, adalah bahwa di money changer, uang yang kita tukar adalah senantiasa ada dalam bentuk mata uang fisik.

Di  era digital ini, untuk melakukan pertukaran valuta asing tersebut tidak perlu lagi untuk mendatangi money changer dan melakukan antrean. Kita cukup mengakses pertukaran lewat akun resmi  yang kita miliki dengan sejumlah money changer online. Pertukaran mata uang yang dilakukan secara online inilah yang sering kita kenal sebagai forex.

Beda antara Mekanisme Forex dan Money Changer

Meskipun antara forex dan money changer ini memiliki basis yang sama yaitu pertukaran antara dua mata uang negara yang berbeda, namun ada perbedaan mendasar di antara keduanya. Apa sisi perbedaan itu?

Sebagaimana sudah disebutkan di atas, bahwa pada money changer, pertukaran mata uang itu terjadi secara lansung berupa fisik uang. Namun, dalam forex, pertukaran ini tidak melibatkan fisik, melainkan sekedar nilai uang dari masing-masing negara. Karena berupa nilai, maka pertukaran ini sifatnya juga bisa disebut sebagai pertukaran dua barang yang sama-sama bersifat maushuf fi al-dzimmah (barang yang bisa disifati dan ada dalam tanggungan).

Suatu misal pasangan IDR/USD. Mata uang IDR termaktub dalam bentuk aset maushuf fi al-dzimmah. Demikian pula dengan USD, juga termaktub dalam bentuk harta maushuf fi al-dzimmah.

Pertukaran dua harta yang sama-sama dalam bentuk  maushuf fi al-dzimmah semacam ini sering dikenal dengan istilah bai’ al-dain bi al-dain (jual beli utang dengan utang). Mengapa?

Sebab, segala sesuatu yang sifatnya masih ada dalam tanggungan (fi al-dzimmah), adalah sama pengertiannya bahwa sesuatu itu ada dalam bentuk utang. Alhasil, pertukaran yang terjadi antara utang dengan utang, adalah masuk rumpun akad pengalihan utang. Akad pengalihan utang semacam ini dikenal oleh syari’at sebagai akad hiwalah.

Dalam konteks madzhab Syafii, akad hiwalah, merupakan akad yang dibolehkan oleh syariat dalam kerangka dlarurah li al-hajah, yaitu darurat karena kebutuhan manusia. Alhasil, mafhum mukhalafahnya, menurut kaidah asal dari akad hiwalah, hukum jual beli utang dengan utang ini pada awalnya adalah dilarang.

Sehingga, ketetapan dibolehkannya pada tataran  selanjutnya, adalah termasuk kategori mukhalif al-ashl (bertolak belakang dengan kaidah asal) seiring adanya darurat hajat. Tanpa adanya darurat hajat, maka kewajiban untuk kembali kepada kaidah asal, merupakan yang diperintahkan oleh syara’, sebagaimana berlaku atas jual beli dengan akad salam.

Apakah Praktik Forex sudah bisa dikategorikan Dlarurat li Al-Hajat (Darurat karena Kebutuhan)

Untuk pertukaran yang dilakukan pada money changer, kita sudah mengetahui hukumnya bahwa ini adalah dasar utama dari dibolehkannya pertukaran dua mata uang asing yang berbeda jenis dan asal negaranya. Pertukaran yang terjadi dalam konteks ini adalah pertukaran fisik uang.

Selanjutnya, pertukaran terjadi dalam wilayah uang yang fisiknya bisa disifati berbekal nilai yang tercatat pada pasar bursa (exchange). Selanjutnya, pertukaran ini merupakan mekanisme yang berlaku atas transaksi forex.

Mengingat kaidah asalnya forex adalah berangkat  dari money changer, maka dasar illat kebutuhan yang berlaku atas transaksi forex adalah juga harus sama dengan yang terjadi pada money changer. Untuk itu, beberapa poin penting yang harus dicatat, adalah mengapa perlu adanya pertukaran 2 mata uang yang berbeda jenis?

Beberapa Alasan Kebutuhan Pertukaran Mata Uang

Menurut Imam al-Ghazali, sebagaimana disampaikan dalam karya masterpiece-nya Ihya Ulumuddin, uang merupakan cerminan harga-harga. Oleh  karenanya, uang diciptakan tidak untuk diperdagangkan. Uang  diciptakan adalah secara khusus sebagai wasilah perdagangan. Memperdagangkan uang adalah termasuk bagian dari kezaliman sebab bertentangan dengan awal diciptakannya.

Namun, ketika seseorang pergi ke negeri lain di mana di negeri tersebut berlaku mata uang tertentu yang berbeda dengan negeri tempat musafir itu berasal, di situ dibutuhkan bagi seorang musafir untuk menggunakan mata uang negeri tersebut. Seorang musafir yang berasal dari Indonesia, tidak mungkin melakukan transaksi jual beli dengan menggunakan mata  uang rupiah ketika ia berada di Amerika. Demikian pula yang berlaku sebaliknya. Alhasil, ia membutuhkan mata uang dolar agar bisa melakukan  transaksi di sana.

Untuk bisanya melakukan pertukaran mata uang antara rupiah dengan dolar, maka dibutuhkan keberadaan pihak warga Amerika yang membutuhkan keberadaan rupiah untuk melakukan transaksi di Indonesia. Pihak ini, sudah pasti merupakan pihak yang memiliki ikatan bisnis perdagangan dengan Indonesia. Tanpa adanya pihak ini, maka rupiah tidak laku di Amerika.

Demikian pula yang terjadi sebaliknya, pengusaha asal Indonesia membutuhkan dolar untuk melakukan transaksi di Amerika. Tanpa adanya kebutuhan, mustahil ia mencari dolar. Alhasil, pertukaran antara rupiah dan dolar merupakan sebuah keniscayaan bagi para pelaku bisnis. Tanpa adanya pertukaran mata uang, maka tidak ada kegiatan ekspor-impor barang, atau perdagangan antar negara. Jadi, sampai di sini terjadi relasi yang juga saling  membutuhkan di antara kedua pihak.

Alasan lain dari dibutuhkannya pertukaran uang dan valas adalah adanya risiko dibukanya beberapa sektor industri pariwisata dan kerjasama internasional. Misalnya, adalah sektor pariwisata yang meniscayakan terjadinya arus kedatangan wisatawan ke suatu negeri. Mereka mahu tidak mahu membutuhkan keberadaan mata uang negeri tujuan, agar bisa melakukan transaksi di tempat tujuan.

Kebutuhan Dominasi Mata Uang Suatu Negeri terhadap Mata Uang Lain

Posisi uang yang bisa diperdagangkan, menjadikan salah satu alasan bahwa uang di satu sisi menduduki peran sebagai komoditi niaga. Peran ini sudah barang tentu bertolak belakang dengan awal diciptakannya sebagai wasilah perdagangan. Namun, fakta tersebut merupakan realitas yang tak dapat dihindari, dengan alasan kebutuhan sebagaimana di atas.

Dengan kedudukannya sebagai komoditas niaga, menjadikan peredaran uang di kancah internasional akan senantiasa dipengaruhi oleh teori supply and demand (hukum penawaran dan permintaan). Jika sebuah mata uang sering diminta oleh warga negara lain, menandakan bahwa mata uang tersebut mendominasi kebutuhan. Semakin sering diminta, posisinya akan semakin dibutuhkan, sehingga nilai tukarnya menjadi menguat.

Secara tidak langsung, dengan basis hukum penawaran dan permintaan ini, maka hal yang sebaliknya juga bisa berlaku atas mata uang suatu negara. Sedikitnya permintaan atas mata uang suatu negeri, akan direspon  secara ekonomi berupa kejatuhan nilai tukar mata uang negeri tersebut terhadap mata uang lain.

Kesimpulan

Berbegai hal di atas, merupakan alasan mengapa perlu adanya money changer dan bursa forex. Jadi, kedua mekanisme ini pada dasarnya juga memiiki peran penting. Tidak  hanya karena faktor kebutuhan dalam terlaksananya perdagangan antar negara lewat sistem ekspor-impor. Hal yang lebih penting lagi adalah menjaga stabilitas nilai tukar mata uang suatu negeri terhadap mata uang negara lainnya.

Menjaga nilai tukar ini, termasuk bagian dari dlarurat li  al-hajat sebab negara membutuhkannya. Negara merupakan cerminan dari suatu masyarakat. Alhasil, terlaksananya kebutuhan negara, adalah sama saja dengan terlasananya kebutuhan masyarakat.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here