Tradisi Sati di India: Bakar Diri bagi Janda yang Bertentangan dengan Islam

0
948

BincangSyariah.Com – Merujuk cerita sejarah tentang India, kita bisa menjumpai pola hubungan keluarga yang sangat tak lazim. Di antara yang tak lazim itu tradisi membakar diri hidup-hidup bagi para janda, sesaat setelah jenazah suaminya dibakar. Tradisi ini dinamakan dengan sati. Tradisi ini baru dihapus pada abad ke-17 M.

Allah Swt. tidak pernah membenarkan–bahkan melarang–adanya praktik pembunuhan, tanpa adanya sebab dan alasan yang sejalan dengan syariat Islam. Sengaja membunuh diri sendiri saja Islam tidak menoleransi, apalagi membunuh orang lain dengan sengaja.

Larangan pembunuhan dalam Islam tidak hanya berlaku apabila yang menjadi korban merupakan orang Islam semata. Baik yang menjadi korban pembunuhan itu muslim, non-muslim, laki-laki, maupun perempuan, Islam tidak pernah melegalkan perilaku keji tersebut. (Baca: Membaca Kesetaraan Gender: Keterlibatan Perempuan Indonesia dan Arab Saudi di Ruang Publik)

Pemahaman tersebut tidak hanya didasarkan pada hasil pemikiran individu saja. Lebih jauh dari itu, penjelasan tersebut disandarkan pada sumber yang paling mulia, yaitu firman Allah Swt., dalam Al-Qur’an surah Al-Isra’ [17] ayat 23,

وَلَا تَقۡتُلُوا۟ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِی حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ

“Dan janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah (membunuhnya), kecuali dengan suatu (alasan) yang benar.” [Q.S. Al-Isra’ (17): 33]

Dengan redaksi yang bersifat umum dan menyeluruh, ayat di atas membuktikan bahwa Islam memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang untuk memeroleh hak hidup. Bagi semua orang dalam artian tidak dibatasi dengan agama ras, golongan, maupun jenis kelamin.

Apabila membunuh orang yang menutup hatinya untuk mengimani Allah dan rasul-Nya saja dilarang, apalagi jika membunuh orang yang terdapat keimanan dalam hatinya. Allah Swt. juga berfirman dalam surah An-Nisa [4] ayat 93,

Baca Juga :  Tiga Sikap Mulia Nabi di Hadapan Hidangan

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ أَن یَقۡتُلَ مُؤۡمِنًا إِلَّا خَطَأً

“Dan tidak patut bagi seorang yang beriman membunuh seorang yang beriman (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja).” [Q.S. An-Nisa’ (4): 92]

Tidak tanggung-tanggung, dalam ayat selanjutnya, yakni Al-Qur’an surah An-Nisa’ [4] ayat 93, Allah menjanjikan Jahannam bagi orang yang secara sengaja melakukan pembunuhan terhadap orang yang beriman kepada Allah.

Apabila dicermati kembali, ayat-ayat di atas tidak ada yang secara spesifik menyebutkan bahwa ayat tersebut berlaku bagi laki-laki saja atau perempuan saja. Sehingga bisa dimengerti bahwasanya setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki hak yang sama untuk menjalani kehidupan, karena Islam menjaga darah setiap makhluk Allah Swt.

Hal ini tentu bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh sebagian kabilah di masa Jahiliah, yang merasa malu apabila memuliki anak perempuan. Bahkan mereka juga beranggapan bahwa anak perempuan membawa sial. Sehingga ketika anak mereka lahir perempuan, mereka tega membunuh –atau mengubur hidup-hidup–keturunannya sendiri ketika masih bayi.

Menurut para ahli tafsir, hal tersebut juga terdokumentasikan di dalam Al-Qur’an surah At-Takwir ayat 8-9,

وَإِذَا ٱلۡمَوۡءُۥدَةُ سُىِٕلَتۡ (٨) بِأَیِّ ذَنۢبࣲ قُتِلَتۡ (٩)

“Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, (8) karena dosa apa dia dibunuh? (9)” [Q.S. At-Takwir (81): 8-9]

Setelah Islam datang, Islam memberikan jaminan keamanan kepada seluruh umat Nabi Muhammad Saw., baik laki-laki maupun perempuan. Apabila sekarang masih dijumpai kezalimat terhadap perempuan yang menyebabkan hilangnya hak hidup bagi perempuan, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku tersebut jelas-jelas menyalahi syariat Islam.

Berkenaan dengan tradisi sati sebagaimnna disebutkan di atas, dapat dimengerti bahwa tradisi itu termasuk hal menyalahi hak perempuan untuk hidup. Beruntungnya, secara formal, tradisi tersebut sudah dihapuskan.

Baca Juga :  Cara Menyucikan Air Sumur yang Terkena Najis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here