Tradisi Maulid di Nusantara: Dialektika Agama dan Budaya Lokal

0
1345

BincangSyariah.Com – Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. dimulai pada zaman Dinasti Fatimiyah (909-1171) di Mesir. Penguasa saat itu yang beraliran Syiah Ismailiyah konon mulai mengenalkan peringatan Maulid Nabi sebagai satu upaya untuk membentuk opini publik tentang hubungan genealogi mereka dengan Nabi. “Propaganda” ini mereka lakukan untuk memperkuat legitimasi kekuasaan dengan menegaskan bahwa keturunan Nabi adalah pemegang otoritas sah untuk memimpin umat Islam. Introduksi peringatan Maulid ini menuai pro-kontra dalam masyarakat saat itu.

Perayaan Maulid Nabi kembali mengemuka ketika dipopulerkan oleh Salahuddin al Ayyubi atau Saladin (1174-1193). Pemimpin legendaris umat Islam ini menggelar Maulid Nabi untuk menggelorakan semangat pasukannya yang saat itu berjuang melawan pasukan Salib (Crusaders) dari Eropa. Penguasa Kristen Eropa saat itu menggunakan perayaan Natal, sebagai kelahiran Yesus Kristus untuk memacu semangat pasukannya dalam Perang Salib. Tak tinggal diam, Saladin pun memakai cara yang serupa, yaitu merayakan momentum Maulid Nabi untuk membangkitkan rasa cinta pada Rasulullah sekaligus memacu semangat pasukannya dalam berperang.

Terlepas pada motif politik dan kekuasaan pada awal kemunculannya, perayaan Maulid Nabi pun menyebar ke penjuru dunia, termasuk Nusantara. Tujuan diselenggarakannya Maulid Nabi tak lagi untuk kepentingan politik dan kekuasaan, tapi semata karena wujud kecintaan atau mahabbah umat Islam kepada Nabinya. Bentuk peringatan Maulid Nabi ini umumnya berisi pembacaan riwayat dan salawat Nabi disertai kegiatan-kegiatan kultural yang khas dan menarik. Dalam konteks ini, elemen-elemen agama dan budaya bersanding dan berdialektika dengan akrab. Realitas ini tampak dalam komunitas dan masyarakat di berbagai daerah di Nusantara.

Di banyak masjid dan pesantren di Jawa, khususnya yang memiliki tradisi NU, pembacaan Maulid tak hanya digelar pada bulan Mulud (Rabiul Awal) saja, tapi juga di setiap pekan di bulan-bulan selain Rabiul Awal, umumnya pada malam Senin atau malam Jumat. Kitab Maulid yang dibaca antara lain al Barzanji, al Dibai, al Burdah, dan Simthud Duror. Kitab-kitab ini berisi riwayat, salawat, dan pujian kepada Nabi Muhammad saw. Bentuknya adalah prosa dan syair. Pembacaannya seringkali diiringi tetabuhan rebana (terbang) hingga semakin semarak.

Baca Juga :  Siapakah Orang yang Pertama Kali Memperingati Maulid Nabi?

Tradisi Maulid juga ada di banyak wilayah dengan segala keunikannya. Di Yogyakarta, tradisi ini dikenal dengan Sekaten dan Grebeg Mulud. Tradisi ini dimulai pada tanggal 5 Mulud dengan dikeluarkannya dua gamelan sakral dari keraton untuk dimainkan selama tujuh hari di halaman depan Masjid Agung. Gamelan tersebut adalah Kiai Nogowilogo dan Kiai Gunturmadu. Ritual ini dinamakan Sekaten, berasal dari kata “syahadatain” atau dua kalimat syahadat. Konon diperkenalkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I kepada masyarakat sebagai dakwah Islam. Tradisi Sekaten ini juga dimeriahkan pasar malam di Alun-alun Utara, Yogyakarta. Malam Sekaten adalah ajang mengusung tradisi sekaligus rekreasi dan hiburan bagi masyarakat. Puncak peringatan Maulid di Yogyakarta jatuh pada tanggal 12 Mulud dengan digelarnya Grebeg Mulud. Lima gunungan yang berisi hasil bumi diarak dan diperebutkan oleh masyarakat.

Tradisi Maulid di Pekalongan juga tak kalah meriah, dengan menampilkan perpaduan unsur keagamaan, kebangsaan, dan kebudayaan. Rangkaian acaranya diawali dengan Pawai Panjang Jimat yang diikuti berbagai lapisan masyarakat antara lain TNI, Polri, siswa sekolah, kelompok seni, masyarakat lintas agama, dan lain-lain.  Di barisan depan pawai, barisan TNI dan Polri berjalan sambil mengibarkan bendera Merah-Putih sebagai simbol nasionalisme. Berturut-turut di belakangnya adalah pasukan drum band, para siswa sekolah, kelompok seni, pekerja lintas profesi, dan perwakilan lintas agama. Pawai ini adalah wujud semangat persatuan dalam keragaman dan kerukunan dalam perbedaan.  “Panjang Jimat” di sini diartikan sebagai sePANJANG hidup,  merawat “jimat” siji kang dirumat (satu yang dirawat) berupa dua kalimat syahadat. Berbagai acara lain juga digelar dalam rangkaian ini seperti nikah massal, pertunjukan musik gambus, pembacaan Ratib Kubra, khataman Alquran, dan sebagai acara puncak adalah Maulid akbar dengan pembacaan Maulid Simthud Duror di Gedung Kanzus Salawat. Yang menarik adalah, sebelum pembacaan Maulid dilakukan, para hadirin dipandu untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan khidmat. Tampak di sini, kecintaan terhadap tanah air dan kecintaan terhadap agama berbanding lurus. Usai Maulid, jamaah disuguhi nasi kebuli yang diedarkan melalui nampan. Satu nampan dikepung empat atau lima orang.

Baca Juga :  Kisah Abu Bakar As-Shiddiq Tidak Dihisab di Akhirat

Semarak Maulid juga ada di berbagai daerah lain di Nusantara seperti di Banjarmasin dengan Baayun Maulid yaitu mengayun bayi atau anak sambil melantunkan syair salawat. Di Takalar, Sulawesi Selatan dengan tradisi Maudu Lompoa berupa mandi yang dipimpin tetua adat dan dilanjutkan berebut julung-julung berisi telur hias, nasi, beras , ketan, dan sebagainya. Di Padang Pariaman ada tradisi Bungo Lado yaitu mengumpulkan uang sumbangan yang dibentuk pohon hias untuk membangun tempat ibadah.

Potret pelaksanaan tradisi Maulid seperti di atas adalah wujud ungkapan rasa sukacita dan kegembiraan umat dalam menyambut hari lahir Nabinya. Suatu hal yang sah dan wajar dilakukan. Perayaan Maulid sejatinya bukanlah ibadah baru, melainkan hanya satu ekspresi budaya yang dibalut nilai-nilai agama seperti pembacaan riwayat dan salawat Nabi. Semangat Maulid adalah memupuk rasa cinta kepada Allah dan RasulNya dan sebagai bentuk peneladanan pada sifat dan sosok Rasulullah yang berakhlak mulia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here