Tradisi Hari Raya Ketupat

4
1353

BincangSyariah.Com – Setelah menjalani bulan Ramadan, dilanjutkan dengan hari raya Idul Fitri. Kini umat Islam di Indonesia akan menjalani Hari Raya ketupat yang dilaksanakan satu minggu setelah hari raya Idul Fitri. Perayaan tersebut bertedensi dari hadits Rasulullah yang berbunyi:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).

Dari hadis tersebut muslim nusantara memandang perlu akan perayaan hari raya ketupat, sebagai rasa syukur setelah berpuasa Ramadan dan enam hari di bulan Syawal. Karenanya hari raya ketupat ini akan terasa istimewanya bagi muslim yang sempurna menunaikan puasa Ramadan dan Syawal.

Hari raya ketupat merupakan hasil produk nusantara. Dalam literasi dunia Islam hanya ada hari raya Idulfitri dan Idul adha. Berdasarkan sejarahnya, hari raya ketupat ada sejak masa pemerintahan kerajaan Demak. Sedangkan yang memperkenalkan ketupat pertama kali adalah Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai-nilai ke-Islaman. Dalam filosofi Jawa, ketupat merupakan kependekan dari Ngaku Lepat (mengakui kesalahan), dan terbuat dari janur yang kependekan dari Jatining Nur (simbol hati nurani)

Fenomena tersebut cukup menjadi bukti bahwa mereka muslim yang baik dan pecinta Rasulullah. Terbukti mereka yang lolos menjalankan ibadah wajib puasa di bulan Ramadan, zakat fitrah dan bertakbir sepanjang awal bulan Syawal, mereka tetap melanjutkan puasa sunnah di bulan Syawal. Tidak cukup sampai disitu, dengan merayakan hari raya ketupat mereka mengakui kesalahan yang telah usai.

Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan hakekat takbir yang sebenarnya. Dimana hanya Allah yang Maha Besar. Manusia adalah makhluk kecil yang banyak salah dan mau meminta maaf. Hari raya ketupat jugs mencerminkan kegembiraan seseorang yang telah melewati puasa enam hari di bulan Syawal.

Baca Juga :  Rahmat Sebagai Prinsip Beragama: Muslim Sejati Tidak Menyakiti Orang Lain (2-Habis)

Hari raya ketupat adalah salah satu budaya Islam di Indonesia yang berdampak positif yang perlu dilestarikan. Jika hari raya Idulfitri identik dengan takbiran dan shalat idul fitri, maka hari raya ketupat dikenal dengan sedekah estafet. Dimana setiap keluarga membuat ketupat untuk dimakan dan disedekahkan kepada kerabat dan penduduk kampung sekitarnya.

Dalam perayaan hari raya ketupat juga mengandung nilai-nilai Maqashid Syari’ah. Pertama, hifdzu al-din yang diimplementasikan dengan menegakkan sendi-sendi keislaman dengan sedekah dan silaturahim. Kedua, hifdzu al-mal yang mana hari raya ketupat bisa menghidupkan perekonomian masyarakat sekitar. Ketiga, hifdzu al-nafs yang menjadikan setiap insan mempunyai kesempatan untuk berbagi. Tidak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin.

Selajutnya adalah hifdzu al-aql yang pada hari itu otak manusia ternutrisi dengan baik, sehingga mampu memproteksi akal. Dan yang terakhir adalah hifdzu al-nasl yang secara tidak langsung dengan mengkonsumsi ketupat maka dapat menghasilkan hormon testosteron dan ovarium sehingga bagi yang sudah menikah dapat melangsungkan hubungan suami istri, dari hubungan tersebut merupakan esensi dari menjaga keturunan.

Dengan demikian hari raya ketupat bukanlah agenda yang keluar dari ajaran Islam. Sebagaimana tertuang dalam salah satu kaidah “al-Muhafadhotu ‘ala qadimi al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah” (menjaga tradisi-tradisi lama sembari menyesuaikan dengan tradisi-tradisi modern yang lebih baik). Hari raya ketupat perlu dilestarikan karena ini moment untuk meningkatkan amal sedekah, mempererat tali persaudaraan dan memiliki nilai-nilai Maqashid Syari’ah.

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here