Tradisi Barzanji dalam Merayakan Maulid Nabi: Perspektif Al-Quran terhadap Tradisi

1
111

BincangSyariah.Com – Peringatan hari lahir Nabi Muhammad setiap tanggal 12 Rabiul Awal diantaranya dirayakan dengan nuansa tradisi budaya lokal yang kental oleh umat Islam di Indonesia. Perayaan maulid Nabi dirayakan dengan beraneka ragam. Di antara berbagai tradisi budaya Islam lokal Indonesia dalam menyambut maulid Nabi adalah pembacaan kitab Barzanji.

Barzanji atau shalawat (barzanjen) adalah bentuk kesenian yang bernafaskan Islam atau sarana dakwah Islam dengan kitab Barzanji sebagai sumbernya. Kitab Barzanji adalah karya tulis dari Syekh Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim bin Muhammad al-Barzanji yang berisi tentang prosa dan sajak yang bertutur tentang biografi Nabi Muhammad.

Selain berisi tentang prosa dan sajak biografi Nabi Muhammad, kitab Barzanji juga berisi tentang nasab Nabi, kehidupan Nabi dari masa kanak-kanak hingga menjadi Rasul, dan berbagai suri tauladan Nabi yang patut untuk dicontoh oleh generasi umat Islam di Indonesia.

Dalam pemahaman lainnya, barzanji merupakan suatu doa, pujian, dan cerita riwayat Nabi Muhammad yang biasa dilantunkan dengan irama atau nada. Bisa dikatakan tradisi barzanji ini mirip dengan seni musik acapella lainnya seperti nasyid. Tradisi seni barzanji ini sangat terikat dengan kultur tradisi budaya Islam, mengingat barzanji sendiri merupakan syair pujian-pujian kepada Nabi Muhammad.

Pendapat Ulama tentang Tradisi Barzanji

Akan tetapi, pembacaan barzanji sebagai tradisi perayaan maulid Nabi hingga kini masih dipertanyakan keabsahannya. Sebagian ulama berpendapat bahwa tradisi barzanji adalah bid’ah karena dari sisi syairnya tidak memiliki dasar. Ada pula ulama yang berpendapat bahwa pembacaan barzanji dalam rangka peringatan maulid Nabi adalah sunnah karena dapat meningkatkan semangat kecintaan dan pengamalan nilai keshalihan kepada Nabi.

Tradisi barzanji yang esensinya menghaturkan pujian kepada Nabi Muhammad adalah tradisi yang telah ada semasa Nabi masih hidup. Tradisi ini diperkenalkan oleh tiga penyair resmi Rasulullah, yaitu Hasan bin Tsabit, Abdullah bin Rawahah, dan Ka’ab bin Malik. Diceritakan dalam Kitab Hasyiyat Al-Bajuri ‘ala Matn Qasidah Al-Burdah (h. 22) riwayat Ibrahim al-Bajuri bahwa tradisi pujian kepada Nabi ini merupakan tradisi yang perlu didorong oleh umatnya agar senantiasa patuh kepada Allah dan Rasul-Nya.

Baca Juga :  Ini Hikmah Mengapa Rasulullah Lahir Hari Senin Bulan Rabiul Awal

Hal tersebut terindikasi ketika Nabi memuji Ka’ab bin Zubair yang mengubah qasidah pujian kepada Nabi. Setelah mendengar pujian yang disampaikan Ka’ab, Nabi sangat terkesan sampai melepas burdahnya dan dikenakan ke tubuh Ka’ab sebagai hadiah.

Qasidah pujian yang dibuat oleh tiga penyair Nabi kemudian menjadi acuan bagi penyair muslim ketika berkreasi menciptakan pujian, baik dalam bentuk syair (puisi) maupun nathr (prosa), sebagaimana yang terdapat dalam kitab Barzanji, Burdah, dan Syaraf al-Anam yang beredar hingga sekarang. Produktivitas karya pujian mereka kepada Nabi melahirkan jenis pujian khas dengan karakter yang spesifik.

Dalil Al-Quran dan Hadis tentang Tradisi Barzanji

Mengenai tradisi pembacaan barzanji dalam memperingati hari lahir Nabi sebagaimana yang dilakukan oleh kalangan pesantren biasanya dilandaskan kepada pendapat para fuqaha dari madzhab Imam Syafi’i. Ibnu Hajar al-Atsqalani dalam kitab Fathul Bari’ misalnya menyatakan bahwa tradisi seperti itu menyimpan makna kebajikan. Selain itu, as-Suyuthi dalam kitab Hawi li al-Fatawa Syaikhul Islam juga menunjukkan sikap toleransi terhadap produk budaya yang dihasilkan oleh tradisi mengagungkan kelahiran Nabi.

Bagi kedua ulama tersebut, peringatan maulid Nabi menjadi satu perbuatan baru yang paling terpuji terlebih jika disertai dengan amal ihsan kemasyarakatan, seperti bersadaqah, berinfaq, serta kegiatan lain yang bernilai ibadah. Ini karena tradisi barzanji merupakan bentuk penghormatan dan wujud cinta umat Islam kepada Rasul. Sebagaimana yang termaktub dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Anas bin Malik

عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»

“Salah seorang di antara kalian tidak akan beriman sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya bahkan seluruh manusia.” (H.R. Bukhari no. 15)

Baca Juga :  Hari Ini Malam 17 Ramadan, Mari Memaknai Peristiwa Nuzulul Quran

Lalu bagaimana Alquran kitab suci umat Islam memandang sebuah tradisi?. Pertanyaan ini dapat terjawab melalui firman Allah Q.S. al-A’raf [07]: 199.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang jahil.”

Ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad agar menyuruh umatnya mengerjakan yang ma’ruf. Maksud dari kata ‘urf dalam ayat di atas adalah tradisi yang baik. Sebagaimana perkataan M. Quraish Shihab dalam kitab Tafsir Al-Mishbah (j. 5 h. 353) bahwa ‘urf sama dengan kata ma’ruf yaitu sesuatu yang dikenal dan dibenarkan oleh masyarakat, dengan kata lain adat istiadat yang didukung oleh nalar yang sehat serta tidak bertentangan dengan ajaran agama.

‘Urf adalah kebajikan yang jelas dan diketahui semua orang serta diterima dengan baik oleh masyarakat. Istilah ’urf digunakan untuk menunjuk wahyu Allah yang merupakan nilai lokal dan temporal. Di dalamnya terdapat kesepakatan dan tidak boleh ada paksaan. Karena ini merupakan hasil kesepakatan, maka ia dapat berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain, bahkan antara satu waktu dengan waktu yang lain dalam satu masyarakat.

Dengan adanya konsep ‘urf dalam Al-Quran berarti membuka pintu untuk menampung perubahan nilai akibat perkembangan positif masyarakat, bukan perkembangan negatifnya. Dari sinilah filter nilai-nilai universal dan mendasar harus benar-benar difungsikan.

Ini juga selaras dengan perkataan Imam Abu al-Muzhaffar al-Sam’ani dalam kitab Qawathi’ Al-Adillah (j. 1 h. 29) bahwa ‘urf adalah sesuatu yang dikenal oleh masyarakat dan mereka jadikan tradisi dalam interaksi di antara mereka.

Jika dikaitkan dengan tradisi pembacaan barzanji dalam merayakan maulid Nabi dengan menghaturkan pujian kepada Nabi Muhammad sebagai bukti cinta, penghormatan, dan bahagia menyambut lahirnya sang kekasih Allah merupakan tradisi yang baik untuk dilakukan.

Baca Juga :  Teladan Nabi untuk Para Pemimpin dalam Kitab Maulid Ad-Diba’i

Konstruksi sunnah dalam pembacaan barzanji adalah baik dan sangat dianjurkan karena hal itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Al-Quran dan hadis secara literer. Pembacaan tradisi barzanji yang selama ini dilakukan baik dalam bulan Maulid maupun event tertentu diorientasikan pada aspek dakwah dan sosial dengan tujuan menggairahkan kehidupan beragama dalam masyarakat dan meningkatkan pengamalan ajaran Islam.

Oleh sebab itu, tradisi apapun jika dilakukan dengan nalar yang sehat dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam yakni Alquran dan Hadits, maka diperbolehkan untuk dilaksanakan terlebih dalam menyambut hari lahir Nabi Muhammad. Wallahu a’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here