Trading Saham Menurut Tinjauan Hukum Islam

0
938

BincangSyariah.Com – Forum kita ini adalah forum kajian. Itu berarti bahwa apa yang disampaikan oleh penulis dalam kesempatan singkat ini bisa diterima atau ditolak sesuai dengan bobot pengetahuan kita terhadap obyek yang sedang dibahas. Dalam hemat penulis, uang yang dibakar oleh para generasi milenial lewat perburuan reward dengan jalan mengakses aplikasi game online itu jauh lebih berbahaya dampaknya ke belakang dibanding melakukan trading. (Baca: Trading di Black Market dalam Islam)

Kita tidak bisa menutup mata, bahwa di dalam trading, terdapat suatu pengetahuan manajerial untuk melakukan pengelolaan dana dengan berbekal membaca situasi dan kondisi yang terjadi di lingkungan. Ada hubungan sebab-akibat sehingga suatu harga di dalam obyek barang yang ditradingkan itu menjadi bisa naik atau turun, berbekal jah (potensi/reputasi) yang dimiliki obyek.

Lain halnya dengan game online, yang ada justru membuang waktu sehingga banyak generasi yang terbuang waktunya secara percuma hanya untuk menyelesaikan suatu misi yang disertakan. Di dalam game, tidak ada unsur belajar. Bila game itu berbasis kekerasan, justu lambat laun dapat mempengaruhi psikologi pengaksesnya.

Jika ternyata trading itu menyimpan segudang manfaat akibat penguasaan manajerial ini, memvonis trading sebagai suatu keharaman – dalam hemat penulis – seolah menjadi sebuah langkah menghambat terhadap potensi kebaikan di sebaliknya.

Jika kita telusuri lebih jauh, putusan beberapa fatwa yang mengharamkan trading, adalah berangkat dari illat spekulatif (maisir). Darimana illat ini berangkatnya? Jika menyimak dari Fatwa DSN Majelis Ulama Indonesia tentang Pasar Modal, di sana disebutkan bahwa trading yang diharamkan adalah jenis future, forward, binary dan option.

Sementara itu, trading yang dibolehkan adalah berbasis spot (perdagangan satu titik). Maksud dari satu titik ini, adalah bila perdagangan itu dilakukan berbasis online, maka antara tindakan menekan deal yang dilakukan oleh trader, dengan kecepatan respon sistem, tidak terjadi keterlambatan respon. Sebab keterlambatan respon dapat mempengaruhi harga. Alhasil, jika berhenti di sini, maka memang benar seolah terjadi sebuah akad jual beli yang menyerupai akad baik munabadzah, atau muhaqalah, atau muzabanah.

Dalam beberapa teks fikih, yang dimaksud jual beli munabadzah adalah:

بيع المنابذة : بيع في الجاهلية . كان الرجل « ينبذ » الحصاة ، أي يطرحها ويرميها ، ويقول لصاحب الغنم : إن ما أصاب الحجر فهو لي بكذا . وقيل غير ذلك

Baca Juga :  Jalan Tercepat Menuju Surga

“Jual beli munabadzah: jual beli era jahiliyah, di mana seseorang melakukan pelemparan kerikil atau semacamnya terhadap objek barang yang dibeli (seumpama sekawanan kambing), kemudian berkata kepada pemilik dagangan kambing: “yang terkena lemparan batuku ini menjadi milikku aku tukar dengan harga sekian-sekian.” Kadang definisi munabadzah disampaikan dengan konteks lain.” (Mu’jamu al-Ma’anay)

Di dalam al-Hawy al-Kabir fi Fiqh a-Madhb al-Imam Al-Syafii li al-Mawardi Juz 5, halaman 338, disebutkan:

مسألة : قال الشافعي رحمه الله تعالى : ” وقد نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن بيع الملامسة والمنابذة والملامسة عندنا أن يأتي الرجل بثوبه مطويا فيلمسه المشتري أو في ظلمة ، فيقول رب الثوب : أبيعك هذا على أنه إذا وجب البيع فنظرك إليه اللمس لا خيار لك إذا نظرت إلى جوفه أو طوله وعرضه . والمنابذة أن أنبذ إليك ثوبي وتنبذ إلي ثوبك على أن كل واحد منهما بالآخر ولا خيار إذا عرفنا الطول والعرض ، وكذلك أنبذه إليك بثمن معلوم

“Masalah : Al-Syafii rohimahullohu berkata : ” Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam sungguh telah melarang transaksi jual beli mulamasah dan munabadzah. Mulamasah menurut kami yaitu jikalau seorang lelaki datang membawa baju yang dilipat kemudian disentuh oleh pembeli atau dalam kegelapan, kemudian pemilik baju berkata : aku menjual baju ini padamu, namun jika terjadi jual beli, kemudian keputusanmu untuk memegangnya maka tidak ada khiyar bagimu ketika kau melihat bagian dalam, panjang, dan lebarnya baju itu. Munabadzah yaitu jikalau aku melempar bajuku padamu dan kamu melempar bajumu padaku, yang mana masing-masing dari baju itu sebagai ganti yang lain dan tidak ada khiyar ketika kita mengetahui panjang dan lebarnya, begitu pula ketika aku melempar baju padamu dengan harga yang diketahui “.

Berdasarkan ibarat ini, sebenarnya dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa larangan jual beli munabadzah dan mulamasah serta yang memiliki pengertian serupa, adalah manakala di dalam praktik jual beli itu, seseorang tidak bisa melakukan khiyar. Khiyar itu merupakan opsi memilih antara melanjutkan atau membatalkan sebuh akad. Masalah barang sebagai yang dketahui atau tidak, adalah tidak menjadi hal yang utama. Khiyar menempati maqam utama dalam jual beli sehingga meniadakan unsur maisir (spekulatif dan untung-untungan).

Baca Juga :  Hukum Mendepositokan Uang di Bank dalam Islam

Alhasil, jika kasus di atas kita terapkan pada kasus trading online, keterlambatan respon sistem bukanlah merupakan hal yang utama. Yang utama adalah ada atau tidak khiyar itu terjadi. Akan tetapi, dalam praktik trading, obyek yang ditradingkan sudah bersifat homogen (seragam) sebab berupa saham, dan sejenisnya. Artinya, tidak memerlukan adanya khiyar.

Yang tidak seragam, adalah harga yang terus berjalan setiap detiknya. Dengan demikian, faktor utama yang harus diperhatikan dalam sah atau tidaknya unsur maisir dalam trading adalah berkaitan dengan soal kemakluman harga. Jika ada respon sistem sehingga mengakibatkan delay dari harga yang diklik saat memutuskan buy (beli) atau sold (jual), maka akan terjadi kemajhulan harga. Dan ini yang menyebabkan terjadinya maisir. Bila keberadaan delay sistem ini mampu ditiadakan, maka berlaku spot sistem.

Alhasil hukum trading menjadi boleh karenanya sebab antara harga dan barang menjadi bersifat saling taqabudl (saling serah terima di detik itu juga).

Selain karena faktor khiyar, ada juga hikmah lain bahwa rusaknya jual beli mulamasah, munabadzah dan muzabanah adalah diakibatkan karena tidak ada unsur shighat ijab dan qabul serta adanya syarat yang fasid.

Di dalam banyak teks fikih disebutkan bahwa yang dinamakan sebagai shighat ijab dan qabul tidak harus dalam bentuk ucapan “aku jual” serta “aku beli”. Yang dinamakan dengan shighat ijab dan qabul, adalah juga bisa disampaikan dalam bentuk lain, seperti murasalah atau dengan isyarah yang menunjukkan makna terjadi ijab dan qabul. Alhasil, trading online tidak bisa disamakan dengan ketiga jenis jual beli itu. Alasannya adalah:

Pertama, trading dilakukan dengan memakai sistem yang berbasis server. Shighat antara ijab dan qabul antara trader dengan broker dilakukan berbasis sistem dan direspon dengan sistem.

Kedua, khiyar yang dilakukan dalam trading, adalah merupakan khiyar majelis, yang mana pihak trader menggunakan peran jasa broker sebagai pihak yang diupahnya dan atau menggunakan peran jasa wakil. Broker dalam fikih kedudukannya sebagai samsarah atau sebagai orang yang diupah oleh trader. Sementara peran wakil, adalah dimainkan oleh Manajer Investasi.

Dengan demikian, berlaku kaidah bahwa peran orang yang diupah adalah menjalankan perintah pihak yang mengupah. Peran wakil adalah seperti orang yang diwakili di dalam menasarufkan harta.

Baca Juga :  Apakah Penambahan Kode Unik ketika Transfer Termasuk Riba?

Ketiga, obyek yang ditransaksikan dalam trading adalah suatu obyek yang menyatakan suatu kondisi barang. Barang tersebut telah dimiliki oleh para trader lain secara tercatat (qabdlu hukmy) dan dijual ke orang lain dalam bentuk “tercatat” juga. Saham yang diperdagangkan wujudnya adalah nyata, dan pendapatan bagi hasil bagi pemiliknya juga riel. Hanya saja, dalam sistem trading, saham-saham ini dinyatakan sebagai yang tercatat atau bahkan dalam bentuk indeks.

Alhasil, saham dan indeks itu dalam fikih termasuk jeni barang maushuf fi al-dzimmah (yang dikenali berdasar karakteristiknya dan bisa dijamin secara peraturan / perundangan).

Keempat, obyek yang dijadikan trading adalah saham. Membeli saham, artinya sama dengan mengakusisi kesempatan mendapatkan jatah bagi hasil dari sebuah perusahaan. Sementara yang ditradingkan, adalah sebelum sampai ke masa bagi hasil, ada pihak yang berani mengakuisisi saham sebuah perusahaan lebih tinggi dari harga saham itu sendiri. Suatu misal, harga saham aslinya adalah 1 juta per lembar dengan bagi hasil sekian-sekian.

Namun, ada pihak yang memanfaatkan nilai potensi dari saham tersebut, sehingga mereka berlomba-lomba memburu surat saham itu mengingat saham tersebut diterbitkan oleh sebuah emiten (badan usaha) yang potensial. Perburuan itu menjadikan harga lembar saham menjadi fluktuatif, sebab saham itu dijual dengan sistem lelang. Ada yang berani hingga 1,5 juta per lembar misalnya. Fluktuasi harga ini menjadi ruang bagi trader untuk bermain dalam sistem lelang. Alhasil, jual belinya para trader ini menyerupai jualbeli emas dengan perak atau sebaliknya. Atau dalam kasus umum, menyerupai jual beli uang kertas dengan uang logam, yang keduanya masih sama-sama berlaku.

Nah, berangkat dari keterangan ini, apakah kita masih ada peluang untuk menilai bahwa praktik trading merupakan praktik maisir (spekulatif)? Yang perlu diingat dalam keputusan hukum dan layak untuk dijadikan pertimbangan, adalah: 1) ada broker yang berperan selaku samsarah dan ada manajer investasi yang berperan selaku wakil trader, dan 2) apa yang dijualbelikan di dalam trading, adalah obyek yang dijamin undang-undang. Ini penting sekali guna memaknai ada atau tidaknya unsur maisir di dalam trading. Wallahu a’lam bi al-shawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here