Trading Emas di Pasar Berjangka dan Persamaannya dengan Obligasi

0
21

BincangSyariah.Com – Perdagangan emas di pasar berjangka meniscayakan terjadi dalam bentuk 5 mekanisme transaksi, yaitu spot, option, swap, future dan forward. Mekanisme ini sudah bersifat umum dalam trading forex. Karena keberadan 5 mekanisme ini pula, maka Gold Trading juga masuk kelompok trading forex.

Dalam trading emas, meniscayakan ada salah satu pihak yang berperan sebagai yang akan menyerahkan maal manfaat (maal maushuf fi al-dzimmah / utang) di kemudian hari. Jika utang ini ada dalam bentuk “efek” berjangka, maka “efek” itu dapat disebut juga sebagai obligasi, atau pernyataan utang.

Dalam dunia trading, utang yang menduduki peran obligasi ini disampaikan dalam bentuk harga yang akan diserahkan di waktu mendatang, atau juga berupa barang yang akan diserahkan di waktu mendatang, yakni waktu jatuh tempo atau waktu kadaluarsanya akad. Untuk lebih lengkapnya, simak ulasan berikut!

Prinsip Spot

Trading spot dicirikan oleh keberadaan harga diserahkan dalam bentuk harta nilai (maal maushuf fi al-dzimmah) dengan barang (mabi’) yang juga diserahkan dalam bentuk nilai (maal maushuf fi al-dzimmah). Penyerahan keduanya, terjadi pada waktu kini, yaitu waktu saat antara trader dan seller memutuskan untuk melakukan transaksi jual (long) atau beli (short).

Jadi, anda jangan pernah membayangkan  bahwa yang dimaksud sebagai spot adalah harga dan barang itu, baik keduanya, atau salah satunya, ada dalam rupa barang fisik! Mengapa? Sebab spot itu adalah istilah yang dipergunakan dalam pasar berjangka.

Namanya saja sudah berjangka, itu artinya ada jeda waktu untuk saling mewujudkan dalam rupa fisik. Alhasil, yang diserahterimakan dalam majelis berupa apa? Jawabnya: ya ada dalam bentuk maal maushuf fi al-dzimmah (harta utang dalam jaminan).

Bila anda masih menyangkal, bukankah salah satunya dinyatakan dalam bentuk nilai IDR atau USD? Maka jawabnya, sekalipun itu dalam bentuk nilai IDR atau USD, namun karena yang diserahkan bukan berupa fisik uang, melainkan hanya berupa nilai manfaat saja, maka IDR atau USD itu tetap disebut sebagai maal manfaat / maal maushhuf fi al-dzimmah.

Oleh karenanya, sekalipun sistem tradingnya adalah SPOT, anda jangan pernah berfikir bahwa itu terjadi dalam rupa serah terima barang fisik. Dua-duanya, baik barang dan harga, adalah sama-sama dalam bentuk harta manfaat (harta utang), sampai dengan fisik itu diterima secara hakiki oleh penjual dan pembeli.

Apa buktinya?

Sebagaimana diketahui, prinsip saling serah terima kedua harga dan barang manfaat dalam trading, adalah diwakili oleh perangkat trading system. Di dalam sistem ini, masing-masing trader dan penjual efek “emas” (XAU), sama-sama hanya menerima nilai. Untuk yang menerima satuan mata uang (currency), maka ia menerima nilai currency. Sementara penerima barang (XAU) hanya menerima catatan kadar.

Akad seperti ini, dibolehkan dalam keputusan Fatwa DSN MUI Nomor 28/DSN-MUI/III/2002 dengan catatan adalah tunai. Artinya, pada saat trader megklik harga XAU dengan penukar berupa satuan mata uang tertentu, dan direspon dengan harga saat itu juga, maka itulah hakikatnya satu titik (spot).

Pola seperti ini, hukumnya adalah boleh dengan catatan tidak ada keterlambatan sistem broker dalam merespon. Dengan kata lain, jika  pihak trader mengklik pada harga X, maka harus direspon X. Tidak boleh direspon pada harga X+1 atau X+2. Jadi, on the click on the right price. Satu kali klik, harga tepat saat klik itu ada. Prinsip inilah yang kita kenal dengan istilah “tunai” sebagai turunan dari “kontan”.

Mengapa bukan kontan? Ya karena harga dan barang sama-sama masih ada dalam bentuk maushuf fi al-dzimmah (fisiknya masih di bank, atau di tempat penyimpanan), sehingga yang terjadi bukan yadan bi yadin (saling serah terima tangan). Fahimtum?

Prinsip Option

Praktik option dicirikan dengan jual beli yang menyerupai bai’ munabadzah (lempar kerikil). Artinya di dalam sistem broker yang memainkan prinsip Trading Option, terdapat unsur gharar (spekulatif) dan judi (maisir) disebabkan ketidakpastian harga dan barang.

Bagaimana mahu disebut pasti? Pihak pembeli (trader) sendiri tidak bisa menentukan berapa harga yang akan ia lepaskan. Ia juga  tidak bisa mengakses barang sesuai dengan yang ia butuhkan. Prinsipnya hanya ada long or short (beli atau jual). Sementara obyek yang dihadapi berupa grafik yang terus berjalan. Alhasil, terdapat dua gharar dalam satu transaksi. Gharar dalam harga (tsaman), sekaligus gharar dalam barang (mabi’).

Adanya dua gharar dalam satu transaksi seperti ini, merupakan yang tidak ditolerir secara syara’. Alhasil, Option merupakan mekanisme trading yang haram.

Prinsip Swap dan Obigas

Prinsip swap ditandai oleh perdagangan komoditi berupa emas dengan memberpertimbangkan prediksi “pembandingan antara suku bunga acuan yang berlaku di negara satu dengan suku bunga acuan di negara lainnya” di waktu yang akan datang.

Di Indonesia, suku bunga acuan ini disampaikan lewat BI-7-Days Rate Repo. Perannya terhadap Bank Konvensional dalam negeri, diperkenalkan lewat istilah Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Adapun terhadap Bank Syariah dalam negeri, diperkenalkan lewat Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS).

Dalam prinsip syariah, trading emas (XAU) secara swap dipengaruhi oleh perbedaan antara margin keuntungan antara negara satu dengan margin keuntungan negara lainnya. Selisih antara kedua margin ini yang kelak menentukan adanya keputusan swap long (jual), dan swap short (beli).

Adapun swap emas (XAU) sendiri merupakan salah satu cara melakukan trading dengan jalan membeli XAU secara tunai dan kemudian menjualnya kembali di pasar berjangka (tempo).

Misalnya, saya membeli XAU saat ini secara tunai lewat kontrak Spot seharga 1000 USD. Lalu, XAU ini saya jual kembali ke pasar berjangka secara kontrak swap selama durasi 1 tahun (12 bulan = 365 hari).

Bila kasus kontrak swap ini diselesaikan secara konvensional, maka durasi selama 1 tahun ini dikenai suku bunga acuan. Jika transaksi itu terjadi di Indonesia, dengan BI-7-Days Rate Repo sebesar 4% dalam 1 tahun (flat), maka seolah berlaku bahwa bunga 4% jika dibagi selama 12 bulan, adalah berlangsung sebesar 0,33% per bulan.

Harga 1000 USD, akan bertambah setiap bulannya menjadi sebesar 1000 USD + (0,33% x 1000 USD) = 1000 USD + 3,3 USD = 1,003.3 USD. Alhasil, dalam 1 tahun, harga XAU akan berubah menjadi 1000 + (4% x 1000 USD) = 1000 + 40 USD = 1040 USD. Kelebihan sebesar 40 USD itu yang dipandang sebagai keuntungan. Namun, keuntungan ini diperoleh dari prinsip pembungaan.

Adapun bila diselesaikan menurut prinsip syariah, lewat penetapan SBIS, margin keuntungan yang bisa saya dapatkan adalah dipatok sebesar 4% berdasarkan SBIS (Flat). Alhasil, pada saat jatuh tempo penyerahan harga, maka saya akan mendapatkan 40 USD, sehingga total yang saya dapatkan adalah 1040 USD.

Prinsip penyelesaian SWAP secara konvensional ini yang diinyatakan haram oleh MUI karena memandang adanya prinsip pembungaan yang condong pada adanya riba nasiah atau riba al-yad. Ciri khasnya, harga menjadi tidak bisa ditentukan. Jika terjadi molor dari waktu jatuh tempo, cicilan menjadi semakin besar, melebihi dari harga jadi yang sudah disepakati secara tunai (lebih dari 1040 USD).

Sementara prinsip penyelesaian kedua, merupakan yang dibolehkan sebab adanya sifat kemakluman harga sebab masuk rumpun jual beli kredit atau tempo. Ciri khasnya: harga tidak berubah melebihi 1040 USD. Jadi, 1040 USD itu adalah harga tunai saat terjadi keputusan transaksi berjangka.

Prinsip Futures, Forward dan Obligasi

Futures merupakan istilah lain dari kontrak berjangka yang ditandai oleh penyerahan salah satu harga atau barang di depan. Forward juga memiliki prinsip yang sama dengan future. Beda antara keduanya adalah ditandai dengan adanya batas waktu kadaluarsa dan tidaknya sesuai standart yang berlaku di pasar berjangka.

Gold Trading yang diselenggarakan baik melalui prinsip futures maupun forward ini ditengarai oleh adanya kontrak yang mewajibkan pihak trader untuk membeli aset Gold (XAU) di masa mendatang (masa kadaluwarsa) dengan harga yang telah ditentukan (disepakati) saat kini, yaitu saat terjadi interaksi antara trader dan penjualnya.

Jadi, pada prinsipnya, akad futures dan forward ini juga menyerupai akad salam bila itu dipandang dari sisi trader. Di sisi penjual (seller), akad ini menyerupai akad jual beli tempo atau kredit.

Utang yang wajib dibayarkan secara mendatang, merupakan istilah lain dari obligasi. Jadi, dalam takyif fikih-nya, jika seorang trader menyerahkan harga di waktu kini, untuk barang yang akan diserahkan di waktu mendatang, maka itu tandanya pihak seller mengakui bahwa  dirinya terikat kontrak untuk mewujudkan barang itu kelak di waktu kadaluarsa.

Prinsipnya sama dengan seolah, saya memesan XAU ke anda seberat 1 troy onches USD (3.1 kg). Harga kesepakatan yang saya bangun dengan anda sesuai dengan harga terkini, yaitu sebesar 100.000 USD. Durasi penyerahan adalah 10 tahun yang akan datang.

Setelah 10 tahun berlalu dan saat jatuh tempo, maka XAU seberat 3.1 kg ini tidak boleh berubah kadar dan ukurannya. Hak yang harus saya dapatkan harus tetap XAU sebesar 1 troy  onches, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang. Jika lebih, maka itu tandanya terjadi riba nasiah atau riba al-yad. Jika tidak ada kelebihan, maka terjadi transaksi salam.

Kewajiban mewujudkan barang di tahun mendatang adalah sama dengan pernyataan utang juga oleh seller. Pernyataan seperti ini juga tidak ada bedanya dengan istilah obligasi.

Alhasil, persamaan ciri akad futures dan forward adalah:

  1. Volume harga dan barang” telah disepakati saat ini.
  2. Berapapun perubahan harga itu terjadi pada aset yang dijualbelikan saat tiba masanya jatuh tempo (waqtu al-hulul) dan harus diserahkan ke trader, maka trader harus tetap menyerahkan harganya  sesuai dengan saat harga itu disepakati. Hal yang sama juga berlaku atas komoditas yang dipesan (XAU).

Kesimpulan

Pada dasarnya setiap praktik muamalah adalah boleh, asalkan tidak ada illah larangan yang mendasarinya. Illat larangan itu adalah keberadaan riba, maisir, gharar, ghabn, dan lain sebagainya.

Spot, Swap, Option, Forward dan Future hanyalah merupakan mekanisme transaksi. Kedudukannya setara dengan jual beli kredit, utang atau tempo. Masing-masing dari mekanisme ini, meniscayakan keharusan menghindari illat larangan. Jika menerjang illat larangan yang sudah ditentukan  oleh syara’, maka kelimanya juga berpotensi sebagai yang haram.

Obligasi pada dasarnya adalah surat pengakuan utang. Seseorang yang memiliki tanggung jawab mewujudkan suatu barang atau harga komoditi di masa mendatang,  adalah sama artinya dengan dia mengakui suatu utang. Pengakuan seperti ini, jika dilandaskan pada keberadaan suatu “efek” / surat berharga / komoditi berharga (misalnya XAU), maka nama lain dari pengakuan utang semacam ini disebut obligasi. Wallahu a’lam bi al-shawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here