Toleransi Merupakan Gerbang Kemenangan

0
59

BincangSyariah.Com – Kata toleransi sering kali diucapkan di kalangan masyarakat. Mulai dari rakyat sampai pejabat menggembor-gemborkan tentang toleran. Bahkan saat duduk di bangku sekolah dasar pada pelajaran kewarganegaraan, sikap toleransi sudah diajarkan. Namun, kata toleransi sedikit banyak belum dipahami oleh kita. Sehingga, kurangnya pengaplikasian sikap toleran dalam bermasyarakat. (Baca: Tafsir Surah al-Kafirun: Batasan Toleransi dalam Islam)

Bersadarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Toleransi adalah suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Toleransi berkaitan erat dengan demokrasi. Mengenai demokrasi, sebagaimana dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) demokrasi adalah gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persaman hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara. Artinya warga memiliki hak untuk mendapatkan keadilan, penghormatan, penghargaan atas berpedaan dengan yang telah menjadi keyakinan. Sistem demokrasi ini merupakan sitem yang digunakan oleh bangsa Indonesia. Jika bangsa Indonesia menjunjung demokrasi, maka Indonesia perlu memegang erat-erat sikap toleran.

Indonesia merupakan negara pancasila yang menghargai adanya perbedaan. Sebab, Indonesia terdiri dari beragam perbedaan, di antaranya suku, ras, dan agama. Hal tersebut telah dipaparkan pancasila pada sila pertama sampai dengan sila ke lima. Sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” dalam sila tersebut dijelaskan bahwa setiap orang Indonesia bertuhan dan memiliki kepercayaan masing-masing, saling menghormati atas kepercayaan orang lain, serta segenap agama dan kepercayaan mendapat tempat dan perlakuan yang sama.

Sila kedua “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Sila mengandung nilai-nilai perlakuan terhadap manusia adil, tidak memihak dan selalu berpegang kepada kebenaran. Serta memiliki akhlak yang mulia, sopan dan bersusila. Sila ketiga “Persatuan Indonesia”. Nilai-nilai yang terkandung dalam sila tersebut di antaranya bersatu dalam keberagaman. Dalam sila ini ditegaskan meskipun berbeda agama, suku, dan ras, orang Indonesia harus tetap bersatu, tidak saling menjatuhkan, menghina, dan mencela misalnya.

Baca Juga :  Ini Penjelasan Bahwa Berdoa adalah Ibadah

Sila keempat “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”, sila tersebut mengandung nilai di antaranya rakyat memiliki kedaulatan, perwakilan,nilai demokrasi dan prinsip musyawarah. Yang terakhir adalah sila kelima “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Arti yang terkandung di dalamnya antara lain perlakuan yang adil terhadap rakyat, adil dalam segala aspek kehidupan, serta senantiasa memberikan perlindungan terhadap rakyat agar hidup sejahtera.

Banyaknya pertikaian, penindasan, pengerdilan di masyarakat tidak lain karena kurangnya jiwa toleran dalam hidup bersama. Tidak menanamkan jiwa toleran dalam diri untuk bermasyarakat, dapat dikatakan tidak mengamalkan nilai-nilai pancasila dalam bermasyarakat pula. Seperti konflik bidang keagamaan yang ada di Indonesia.

Jika di teliti secara cermat, munculnya konflik anatar kelompok atau organisasi dikarena komunikasi yang kurang harmonis antar kelompok, kurangnya keterbukaan antar kelompok, serta kurang menghargai paham, amalan serta ajaran kelompok lain. Dalam hal ini, pemerintah harus mampu bersikap netral dan harus mampu menjadi fasilitator yang baik. sehingga tidak mustahil jika akan muncul negoisasi dan timbal balik yang harmonis dan nyaman. Dengan demikian sikap inklusif (mau menerima perbedaan) dan toleransi (menghargai perbedaan) menjadi kunci bagi munculnya negosiasi – negosiasi.

Berkaca dari beberapa contoh konflik keagamaan di Indonesia, seharusnya semua pihak harus menyadari bahwa intoleransi, eksklusivisme, dan kekerasan cenderung menjadikan perbedaan dalam paham keagamaan bahkan menjadikan perpecahan umat Indonesia. Pada dasarnya yang diajarkan oleh agama Islam adalah sikap inklusif (menerima perbedaan) dan toleransi (menghargai perbedaan). Jika kedua ajaran islam tersebut diterapkan di Indonesia khususnya dalam lingkup agama, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi keharmonisan dalam bermasyarakat dan keharmonisan dalam beribadah.

Baca Juga :  Hukum Makan Bekicot, Halal Atau Haram?

Prinsip kebebasan dan toleransi tidak hanya diatur dalam konstitusi, namun  juga berakar dari tradisi agama dan kepercayaan. Sebagaimana Islam menegaskan prinsip-prinsip tersebut dalam al-Qur’an surat al-Muntahanah ayat 8 yang artinya “Allah tidak melarangmu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimukarena agama dan tidak (pula) mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”

Selain ditegaskan dalam agama Islam, prinsip kebebasan dan toleransi juga ditegaskan dalam agama Kristen Katholik dan Kristen Protestan, yang dijelaskan dalam kitab Galatia dalam buku Setiawan, Chandra dan Asep Mulyana (2016) “Kebebasan Beragama dan Berkepercayaan di Indonesia” yaitu kasihilah sesama manusia seperti kamu mengasihi diri sendiri. Dalam Injil juga dijelaskan apa yang kamu kehendaki supaya orang lain berbuat padamu, maka perbuatlah demikian pula, karena inilah isi kitab hukum Taurat dan kitab para nabi.

Jika di cermati berdasarkan ulasan mengenai toleransi dan konflik yang terjadi di masyarakat, sesungguhnya prinsip toleransi dan kebebasan sudah tertiulis baik secara agama maupun negara. Seperti bangsa Indonesia, secara jelas sudah menjelaskan mengenai kebebasan dan toleransi dalam pancasila. Agama Islam menjelaskan prinsip tersebut dalam kitab suci al-Qur’an. Jadi tidak ada alasan jika seseorang menganggap dirinya benar ketika mengatakan “ajaranmu, amalanmu, pekerjaanmu, dan syari’atmu salah yang benar hanyalah ajaranku, amalanku, pekerjaanku, dan syari’atku”, dan tidak mau disalahkan ketika menyatakan tidak adanya ajaran toleran dan kebebasan, karena semua itu telah diajarkan baik secara agama maupun negara.

Konflik yang terjadi di masyarakat bukan semata-mata kesalahan dari pemerintah, melainkan sedikit banyak berasal dari dalam diri kita sendiri. Kurangnya perenungan mengenai prinsip toleran dan kebebasan menjadikan kita sebagai masyarakat yang individual dan masyarakat yang kaku atas peraturan atau pemahaman. Sehingga berpotensi besar terjadinya konflik.

Baca Juga :  Cara Memahami Hadis: Memahami Kondisi Sosial Jazirah Arab dalam Hadis

Oleh karena itu, untuk mengurangi konflik dan menumbuhkan jiwa toleransi, maka perlulah sentuhan rohani dari masing-masing kelompok, tidak hanya usaha dari pemerintah. Sehingga dengan usaha itu mampu mendorong diri untuk menumbuhkan rasa yang lebih inklusif dan toleran. Untuk itu, dapat dikatakan menanamkan toleran dapat mempererat persaudaraan. Jika sudah terbentuk persaudaraan, maka dengan mudah untuk mencapai kemenangan. Wa Allahu a’lamu bi al-Shawaab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here