Titik Temu Sunni-Syiah, Mungkinkah Terjadi?

0
1167

BincangSyariah.Com – SunniSyiah adalah dua sekte klasik dalam Islam yang masih bertahan hingga sekarang. Tidak seperti sekte klasik lain semisal Muktazilah dan Khawarij yang sudah punah dan saat ini hanya menyisakan puing-puing pemikirannya saja. Sunni-Syiah nafasnya panjang dan sampai kapanpun eksistensinya akan tetap ada.

Tetapi Sunni lebih kukuh dan lebih kuat karena lebih dekat dengan Islam yang dimaksud Rasulullah saw., Ahlussunnah wal jamaah. Sunni menyebar ke seantero dunia sementara Syiah masih digugat bahkan ditolak di banyak negara.

Bagaikan kutub selatan dan utara, Sunni dan Syiah sangat jauh berbeda, baik dari segi ajaran, prinsip, ideologi hingga pandangan politiknya pun sangat berbeda. Keduanya mempunyai ciri, corak, karakter, cara dan sistem masing-masing yang tidak bisa dipertemukan. Karena itu keduanya sangat rawan konflik. Semakin rawan kalau sudah bersinggungan dengan masalah politik.

Kalau ditarik jauh ke belakang, konflik Sunni dan Syiah memang bukan barang baru melainkan masalah klasik. Bahkan ada yang menyatakan akarnya sudah ada sejak sebelum Islam datang. Lantas mungkinkah konflik yang mengakar itu bisa dicabut dan dihilangkan?

Inilah yang coba dirajut oleh Musthafa al-Rafi’i dalam bukunya Islamuna fi al-Taufiq Bayna al-Sunnah wa al-Syiah yang kemudian diterjemahkan di Indonesia dengan judul “Titik Temu Sunni-Syiah.” Buku ini intisarinya mengajak pembacanya untuk tidak terjebak dalam fanatisme mazhab yang semakin memperuncing konflik.

Di Indonesia, Quraish Syihab juga mencoba untuk memediasi dan mengharmonisasi hubungan Sunni-Syiah melalui bukunya yang berjudul “Sunni Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?”

Melalui buku ini, Quraish Syihab mencoba umtuk mempertemukan Sunni-Syiah dari sisi konsep ajaran dan pemikirannya kemudian mengurai benang kusut konflik dengan harmonisasi.

Baca Juga :  Kritik al-Ghazali terhadap Syiah Ismailiyyah

Namun upaya ini tampaknya sulit atau bahkan tidak akan pernah terwujud. Kalaupun buku itu mampu memberikan pengaruh, itu tidak akan terjadi secara luas dan masif, melainkan hanya secara personal satu-dua orang saja.

Secara akademis buku itu sangat bagus, patut diapresiasi dan bisa diterima secara luas. Namun secara ideologis buku itu tidak akan mudah bahkan tidak akan pernah diterima secara luas. Justru yang ada malah gelombang penolakan dan penentangan yang cukup serius.

Faktanya, karena buku itu —selain karena beberapa kutipan dalam Tafsir al-Misbah yang berasal dari Tafsir al-Mizan karya tokoh Syiah Sayed Husein Thabathaba’i— Quraish Syihab dituduh sebagai Syiah atau sekurang-kurangnya tasyayyu’ (terpengaruh pemikiran Syiah). Padahal Quraish Syihab adalah Sunni tulen dan bukan Syiah sebagaimana dituduhkan.

Tetapi begitulah realitanya, banyak orang yang menilai ahli tafsir ini secara tidak objektif, serampangan dan terlalu dipaksakan. Kritik semacam ini bukan bantahan atau penolakan, tetapi lebih pada tuduhan, penghakiman bahkan fitnah secara tidak mendasar.

Fakta berikutnya adalah penolakan yang disampaikan oleh Pesantren Sidogiri Jawa Timur melalui tim penulis pustakanya. Pesantren Sidogiri dengan tegas menolak buku itu dengan buku bantahan yang berjudul Mungkinkah Sunnah-Syiah dalam Ukhuwah?, sebagai jawaban atas buku Quraish Syihab, Sunni Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?

Dengan sangat baik dan cukup elegan, Pesantren Sidogiri menolak pandangan Quraish Syihab yang berusaha menyemai persaudaraan Sunni dan Syiah. Menurut penulis buku itu, titik temu Sunni-Syiah sampai kapanpun tidak akan pernah terjadi dan antara keduanya tidak akan pernah bergandengan tangan.

Hal ini dikarenakan perbedaan keduanya bukan lagi masalah furu’iyah biasa. Tetapi perbedaannya sangat prinsip dan menyentuh ranah teologis. Kritik konstruktif ini semakin membuktikan bahwa titik temu Sunni-Syiah adalah suatu yang sulit jika tidak dikatakan mustahil dan tidak akan pernah terjadi.

Baca Juga :  Tiga Bekal dalam Berdakwah Menurut Imam Ibnu Taimiyah

Kritik konstruktif semacam ini patut mendapat apresiasi dan layak dijadikan teladan karena dilakukan secara ilmiah dan mengedepankan nilai etik. Kritik yang berdasar pada kajian dan tradisi ilmiah sebagaimana dicontohkan ulama-ulama terdahulu.

Karena itu, buku tersebut harus disambut dengan sangat baik dan harus dihargai sebagai kritik yang konstruktif. Untuk itu, di Pusat Studi al-Qur’an (PSQ) milik Prof. Quraish Syihab buku tersebut dijaga dengan baik dan berjejer rapi bersama buku-buku koleksinya.

Inilah sikap seorang ulama yang arif dan bijak. Kritik datang menyerang beliau justru begitu dipuji, dihormati, dan dihargai sebagai bagian dari upaya membangun peradaban intelektual dan pengetahuan.

Hemat saya, titik temu Sunni-Syiah sukar bahkan tidak akan terjadi dikarenakan perbedaan keduanya sangat prinsip dan mendasar. Jurang pemisah antara Sunni dan Syiah terlalu dalam dan terlampau jauh secara praktik dan ajaran. Upaya menyatukan keduanya adalah tidak mungkin bahkan mustahil terjadi.

Tetapi bila yang dimaksud dari titik temu itu ialah kerukunan agar saling menghormati dan saling menghargai, itu mungkin saja terjadi selama tidak ada yang saling mengusik dan menyinggung.

Tetapi ini juga tidak akan mudah karena doktrin dan ajaran Syiah ada yang sangat menyinggung dan mengusik ajaran dan doktrin Sunni. Jika begitu, mungkinkah titik temu Sunni-Syiah itu bisa terjadi?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here